Hari Puisi Nasional: Dari Binatang Jalang Hingga Negeri Amplop

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Setiap tanggal 28 April, diperingati sebagai Hari Puisi Nasional. Pada tanggal itu pula, pikiran kita melayang pada kata-kata yang ditinggalkan oleh sang “Binatang Jalang”, Chairil Anwar. Ya…, Hari Puisi adalah untuk mengenang kematian seorang pemuda berusia 26 tahun yang melawan kolonial melalui sajaknya.

Penetapan hari puisi nasional melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 071 Tahun 1969, adalah sebuah pengakuan formal bahwa bangsa ini berutang pada imajinasi. Chairil Anwar, yang wafat pada 28 April 1949, membuktikan bahwa meski tubuh bisa digerogoti tuberkulosis, kata-kata yang lahir dari kejujuran tidak akan pernah bisa dikubur.

Chairil Anwar bukan sekadar penulis. Ia adalah arsitek sastra Angkatan 45. Sebelum kehadirannya, puisi Indonesia cenderung mendayu, terbelenggu rima yang kaku, dan seringkali terlalu sopan untuk sebuah bangsa yang sedang bergejolak. Chairil datang membawa “belati”. Ia tidak terkungkung estetika yang lembek, menggantinya dengan ekspresionisme liar dan berani.

Baginya, menulis adalah cara untuk hidup seribu tahun lagi. Namun, esensi dari puisi Indonesia tidak berhenti pada estetika semata. Sastra kita adalah cermin retak yang merekam bopengnya wajah kekuasaan, manisnya janji palsu, hingga getirnya rakyat jelata yang hanya bisa mengunyah nasi tanpa lauk.

Dari Chairil ke Gus Mus

Jika Chairil Anwar adalah api yang membakar semangat kemerdekaan, maka penyair-penyair setelahnya adalah penjaga nyala api tersebut agar tidak padam oleh angin kekuasaan. Puisi memiliki fungsi ganda, bisa menjadi mawar yang memuji keindahan, namun juga bisa menjadi cambuk yang menyayat punggung penguasa.

Dalam konteks sosial-politik kita saat ini, puisi seringkali menjadi “garis depan” kritik yang lebih tajam dari sekadar orasi politik. Sastra mampu menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam, membuat mereka yang dikritik merasa tersipu, atau setidaknya, diingatkan oleh nuraninya sendiri. Salah satu tokoh yang piawai meramu satir menjadi obat pahit bagi bangsa ini adalah KH. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus.

Gus Mus menunjukkan bahwa kiai tidak hanya bicara tentang surga dan neraka di akhirat, tapi juga tentang peringatan atas keserakahan manusia di dunia. Melalui salah satu puisinya, ia membedah anatomi kekuasaan yang telah terkontaminasi oleh budaya suap-menyuap.

Negeri Amplop

Mari kita telusuri sisi gelap birokrasi dan moralitas bangsa melalui karya monumental Gus Mus yang sangat relevan dengan realitas sosiologis kita. Di sini, puisi bukan lagi soal diksi yang indah, melainkan tentang kebenaran yang diungkapkan.

DI NEGERI AMPLOP Karya: KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya “malu”
Samson tersipu-sipu, rambut keramatnya ditutupi topi “rapi-rapi”
David Coverfild dan Hudini bersembunyi “rendah diri”
Entah, andai Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya.

Amplop-amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur
Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur
Hal-hal yang teratur menjadi tak teratur
Memutuskan putusan yang tak putus
Membatalkan putusan yang sudah putus.

Amplop-amplop menguasai penguasa
dan mengendalikan orang-orang biasa
amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan
mencairkan dan membekukan
mengganjal dan melicinkan

Orang bicara bisa bisu
Orang mendengar bisa tuli
Orang alim bisa nafsu
Orang sakti bisa mati.

Di negeri amplop, amplop-amplop mengamplopi apa saja dan siapa saja.

Puisi Gus Mus di atas adalah tamparan keras. Kata “Amplop” bukan lagi sekadar kertas pembungkus surat, melainkan simbol ambruknya nilai moral. Data dari berbagai lembaga transparansi seringkali menunjukkan betapa gurita korupsi masuk ke sendi-sendi paling sakral, hukum bahkan agama. Puisi ini dengan tegas mencatat bagaimana uang (amplop) mampu membolak-balikkan logika hukum, memutuskan putusan yang tak putus, membatalkan putusan yang sudah putus.

Inilah alasan mengapa Hari Puisi Nasional harus dirayakan dengan kepala tegak. Kita butuh puisi untuk tetap waras. Kita butuh penyair untuk mengingatkan bahwa ketika hukum bisa dibeli dan suara bisa dibisukan, masih ada kata-kata yang tetap merdeka.

Wafatnya Chairil Anwar di usia muda adalah sebuah pesan, seberapa tajam jejak yang kita tinggalkan. Maka, di Hari Puisi Nasional ini, ada satu pertanyaan, masihkah kita punya keberanian untuk berkata jujur di tengah maraknya Amplop? (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search