Ada sebuah ungkapan yang akrab di kalangan umatg Islam: “Hidup itu menunggu waktu Shalat.” Kalimat sederhana ini sesungguhnya menyimpan makna yang dalam. Hidup bukan sekadar rangkaian hari untuk mengejar dunia, melainkan perjalanan yang diikat oleh panggilan Shalat, hingga akhirnya kita menunggu panggilan terakhir: kematian.
Shalat adalah penanda waktu sekaligus penanda kehidupan seorang mukmin.
Dari Subuh hingga Isya, hidup seakan disusun oleh jadwal perjumpaan dengan Allah.
Di sela-selanya, manusia bekerja, belajar, mencari nafkah, membangun keluarga, dan berinteraksi dengan sesama.
Namun seluruh aktivitas itu semestinya tidak menggeser tujuan utama kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Kesadaran menunggu waktu Shalat bukan berarti pasif, tetapi menjadikan setiap aktivitas dunia berada dalam bingkai ibadah. Ketika azan berkumandang, semua urusan dunia kembali menemukan proporsinya.
Sebab dunia adalah sarana, sedangkan akhirat adalah tujuan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ta-Ha [20]: 132)
Ayat ini mengajarkan bahwa Shalat tidak akan menghalangi datangnya rezeki. Justru Allah sendiri menjamin rezeki hamba-Nya. Karena itu, meninggalkan Shalat demi pekerjaan tidak akan menambah rezeki, sebagaimana menghentikan pekerjaan sejenak untuk memenuhi panggilan salat tidak akan mengurangi bagian rezeki yang telah Allah tetapkan.
Di sisi lain, syariat juga mengingatkan agar tidak meremehkan waktu Shalat. Misalnya, seorang perempuan yang telah suci dari haid, tetapi menunda bersuci hingga waktu salat berlalu tanpa uzur, berarti telah menyia-nyiakan kewajiban yang semestinya segera ditunaikan.
Orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu menimbang setiap langkah: mana yang mendatangkan ridha Allah dan mana yang mengundang murka-Nya.
Mereka sadar bahwa waktu adalah amanah, sedangkan Shalat adalah tiang yang menyangga seluruh amal.
Pada akhirnya, hidup ini memang bukan tentang seberapa banyak harta yang dikumpulkan atau seberapa tinggi jabatan yang diraih.
Hidup adalah perjalanan dari satu waktu
Shalat ke waktu shalat berikutnya, hingga tiba saat ketika tidak ada lagi azan yang kita dengar, melainkan panggilan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga Shalat, memakmurkan waktu dengan ketaatan, dan menutup kehidupan dengan husnul khatimah. Wallāhu a’lam bish-shawāb.
Jakarta, 30 Juli 2026
#BuyaDarwis
