Ikhlas: Kunci Diterimanya Amal

Ikhlas: Kunci Diterimanya Amal
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I.
Majelis Tabligh dan KMM PDM Banjarnegara.
www.majelistabligh.id -

Keikhlasan bukan hanya syarat diterimanya amal di akhirat, tetapi juga sumber ketenangan, kekuatan, dan keberkahan di dunia.

Orang yang ikhlas beramal hanya karena Allah tidak akan pernah merasa kecewa atau tertekan oleh tanggapan manusia. Pujian tidak membuatnya sombong, dan celaan tidak membuatnya patah semangat. Fokusnya hanya satu yaitu ridha Allah SWT. Hati menjadi lapang dan tenang karena tidak terikat pada manusia.

Ikhlas juga menjadi sebab datangnya pertolongan Allah SWT. Keikhlasan akan membuka jalan keluar dari kesulitan, sebagaimana dikisahkan dalam hadis tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua, yang mana mereka memanjatkan doa dengan bertawassul (berwasilah) kepada amal shaleh yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas.

Iblis pernah menyatakan sumpah untuk menyesatkan seluruh manusia, kecuali hamba-hamba Allah SWT yang berbuat ikhlas. Sebagaimana firman Allah mengisahkan ucapan iblis:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Artinya: “(Iblis) menjawab, ‘Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis (yang dibersihkan) di antara mereka’.” (QS. Sad: 82-83)

Ikhlas adalah benteng terkuat yang melindungi hati dari serangan riya’, ujub (bangga diri), dan syirik tersembunyi. Ikhlas merupakan amalan hati yang harus terus dilatih dan dijaga. Beberapa langkah praktis untuk menggapai keikhlasan diantaranya:

  1. Muraqabah (merasa diawasi), yaitu selalu menyadari bahwa Allah SWT Maha Melihat, mengetahui isi hati, dan segala niat kita. Fokus pada pandangan Allah, bukan pandangan manusia.
  2. Menyembunyikan amal, yaitu berusaha untuk merahasiakan amal kebaikan, terutama ibadah sunah, sebagaimana kita menyembunyikan aib dan dosa kita.
  3. Meminta pertolongan dengan banyak berdoa kepada Allah agar hati dikuatkan dalam keikhlasan, serta berlindung dari riya’ dan syirik.
  4. Muhasabah (introspeksi), dengan mengevaluasi diri setelah beramal, apakah niat di awal murni karena Allah atau ada bisikan lain.

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa ikhlas bukanlah tujuan akhir, melainkan syarat utama perjalanan seorang hamba. Tanpa keikhlasan, semua amal saleh kita terancam menjadi debu yang beterbangan pada hari kiamat. Untuk itu, mari kita jaga dan pupuk amal hati ini, agar setiap gerak-gerik, ucapan, dan perbuatan kita benar-benar murni, tersembunyi maupun terlihat, hanya demi mencari ridha Allah SWT semata. Karena pada akhirnya, hanya amal yang ikhlaslah yang akan diterima dan membawa kita kepada kebahagiaan abadi. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search