Semangat Kebersamaan, MI Muhammadiyah Nglencong Sine Dirintis Penganut Syattariyah

Semangat Kebersamaan, MI Muhammadiyah Nglencong Sine Dirintis Penganut Syattariyah
www.majelistabligh.id -

Kiprah dakwah persyarikatan Muhammadiyah di Dusun Nglencong Desa Kauman Kecamatan Sine Ngawi tidak lepas dari semangat kebersamaan dan tidak mementingkan golongan. Betapa tidak, berdirinya Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah di salah satu dusun di Desa Kauman Sine itu bukan dirintis kader persyarikatan, namun oleh seorang penganut tarekat Syattariyah.

Adalah Muzayyin muda, asli Nglencong yang berprofesi sebagai tukang kerap bekerja di Tempurejo Kecamatan Widodaren Ngawi. Di daerah yang bisa dikatakan lebih dekat jalan provinsi ini, sekolah Muhammadiyah sudah berdiri.  Sementara di Nglencong, bahkan Desa Kauman belum ada sekolah.

Semangat Kebersamaan, MI Muhammadiyah Nglencong Sine Dirintis Penganut Syattariyah
MI Muhammadiyah Nglencong yang dirintis sejak 1955. (dok)

“Jadi Mbah Muzayyin yang punya ide bagaimana di Nglencong bisa berdiri sekolah, karena tahunya sekolah Muhammadiyah saat kerja di Tepurrejo, beliau ingin ada sekolah Muhammadiyah di Nglencong, padahal penganut Syattariyah,” jelas Mbah Wandi, sesepuh Muhammadiyah Sine.

Sejak tahun 1960, dirintislah madrasah diniyah sore yang menumpang di rumah warga.  Itulah yang jadi cikal bakal berdirinya MI Muhammadiyah Nglencong  sampai saat ini.  Sekolah inilah sebagai tonggak yang melahirkan kader-kader persyarikatan di dusun berjarak sekitar 37 km dari Kota Ngawi itu.

Semangat Kebersamaan, MI Muhammadiyah Nglencong Sine Dirintis Penganut Syattariyah
Bangunan mushola yang masih dalam proses penyelesaian berdiri di komplek MIM Nglencong. (dok)

Putera asli Nglencong Drs Yoyon Mudjiono, MSi yang kini aktif di Majelis Tablih PW Muhammadiyah Jawa Timur merupakan siswa angkatan pertama MI tahun 1961. Ki Yoyon, panggilan akrab pensiunan dosen UINSA itu masih ingat, aktifitas kelas MI Muhammadiyah waktu itu masih memanfaatkan atau menumpang di rumah warga. Jumlah muridnya sebanyak 19 anak, 16 laki-laki, 3 perempuan.

“Belum memiliki gedung sendiri, masih menumpang di rumah-rumah warga, mulai kelas satu sampai kelas 6,” jelasnya.

Berkat aktifitas MI Muhammadiyah itu, Nglencong lebih terkenal dari Desa Kauman sendiri. Itulah sebabnya pembentukan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) juga dipilih PRM Nglencong yang terkenal dengan Kajian Ahad PahingMu.

Salah seorang penggerak pengajian yang dirintis sejak 2009 itu Hadi Purnowo, 75 tahun, tidak lain adalah cucu dari Mbah Muzzayin. Mantan Kepsek SMP Muhammadiyah 2 Ngawi di Nglencong tersebut alumni MI Muhammadiyah.

Dalam perjalanannya, MI Muhammadiyah sempat menjadi Sekolah Rakyat Islam (SRI), lantas menjadi Sekolah Dasar Islam (SDI) dan kembali menjadi MI Muhammadiyah, menjadi satu-satunya sekolah dasar di Desa Kauman. Ketika pemerintah besar-besaran membangun SD Inpres, tahun 70-an, keberadaan MI Muhammadiyah Nglencong, terselematkan berkat  keputusan politik seorang kepala desa (Kades).

“Karena Pak Kadesnya kebetulan kader Muhammadiyah, beliau berhasil melakukan pendekatan ke atas, agar rencana pembangunan SD Inpres ditempatkan di desa lain, maka MI Muhammadiyah, tetap jadi satu-satunya sekolah dasar di Nglencong ini,” jelas seorang guru dibenarkan Hadi  Purnomo.

Kini di Nglencong, tidak hanya berdiri AUM sekolah MI, namun juga SMP Muhammadiyah, yakni SMP Muhammadiyah 2 Ngawi. Dua sekolah yang lokasinya berdekatan itu, ditunjang dengan fasilitas Masjid Al Manar Nglencong sebagai pusat kajian. MIM sendiri kini tengah membangun mushola ukuran 9 x 9 di kompleks sekolah dengan anggaran Rp174 juta.

Untuk wilayah PCM Sine, AUM pendidikan bahkan juga berdiri di sejumlah desa seperti Plosorejo, Ngrendeng, Bendo maupun Desa Sine Kecamatan Sine. Bahkan telah berkembang ke AUM Kesehatan dengan berdirinya Klinik Pratama ’Aisyiyah Sine” di Desa Tulakan. (ono)

Tinggalkan Balasan

Search