Di era digital dan media sosial saat ini, popularitas sering kali dianggap sebagai modal utama seorang pemimpin. Jumlah pengikut (followers), keterkenalan di panggung publik, hingga pencitraan media kerap menyilaukan mata masyarakat. Namun, Islam memberikan tuntunan yang sangat jelas: popularitas tanpa karakter adalah fatamorgana yang membahayakan.
1. Karakter adalah Akar, Popularitas Hanya Dedaunan
Dalam pandangan Islam, kepemimpinan (al-qiyadah) adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT, bukan sekadar panggung apresiasi manusia. Popularitas ibarat dedaunan yang rindang – tampak indah dan menarik perhatian dari jauh. Namun, karakter (akhlak dan integritas) adalah akar yang menancap kuat di dalam tanah.
Pohon yang akarnya rapuh akan tumbang disapu angin kencang, betapa pun rindang daunnya. Begitu pula pemimpin yang hanya mengandalkan popularitas: ketika diterpa krisis, fitnah, atau godaan jabatan, ia akan mudah jatuh jika tidak memiliki fondasi karakter dan ketakwaan yang kokoh.
2. Teladan Rasulullah SAW: Al-Amin Sebelum Menjadi Pemimpin
Sebelum dilantik menjadi Nabi dan diakui sebagai pemimpin besar di Madinah, Rasulullah SAW telah dikenal oleh masyarakat Mekkah dengan julukan Al-Amin (orang yang terpercaya). Gelar ini lahir dari karakter dan rekam jejak integritas beliau, bukan dari kampanye pencitraan.
Allah SWT menegaskan keutamaan akhlak Rasulullah dalam Al-Qur’an:
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Umat Islam diajarkan bahwa keagungan seorang pemimpin diukur dari keluhuran budi dan kejujurannya, bukan dari seberapa banyak orang yang bersorak memujinya.
3. Syarat Utama Kepemimpinan: Al-Qawiyyu Al-Amin
Dalam Al-Qur’an, ketika kisah Nabi Musa AS diceritakan, terdapat kriteria kepemimpinan yang ideal:
قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ
“Salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qasas: 26)
• Al-Qawiyyu (Kuat): Memiliki kapasitas, kompetensi, dan ketegasan.
• Al-Amin (Terpercaya): Memiliki karakter, integritas, kejujuran, dan rasa takut kepada Allah.
Popularitas tidak pernah menjadi syarat sah kepemimpinan dalam Islam. Seorang pemimpin yang memiliki karakter Al-Amin akan senantiasa menjaga keadilan dan tidak akan mengkhianati rakyatnya, meskipun ia tidak terlalu dikenal oleh banyak orang.
4. Bahaya Pemimpin yang Hanya Berkarakter “Populer”
Pemimpin yang mengejar popularitas cenderung berfokus pada apa yang terlihat di permukaan (pencitraan), bukan pada substansi masalah. Dampak buruk dari kepemimpinan yang hanya mengandalkan popularitas antara lain:
• Kebijakan yang Populistik: Mengambil keputusan yang menyenangkan manusia di jangka pendek, meskipun merugikan dan merusak di jangka panjang.
• Rentan Manipulasi: Mudah menggadaikan prinsip moral demi mempertahankan simpati publik.
• Hilangnya Keberkahan: Kepemimpinan yang dicari demi kemasyhuran dan pujian manusia akan kehilangan keberkahan dan bantuan dari Allah SWT.
Popularitas tidak sepenuhnya buruk jika digunakan sebagai sarana (wasilah) untuk menyebarkan kebaikan. Namun, meletakkan popularitas di atas karakter adalah sebuah kekeliruan besar. Popularitas bisa dibuat dalam semalam melalui media, tetapi karakter dibentuk dari konsistensi iman, kejujuran, dan ketakwaan yang diuji oleh waktu.
Sebagai umat dan masyarakat yang bijak, hendaknya kita tidak terpesona oleh riuh rendah tepuk tangan media, melainkan meneliti keheningan integritas dan keagungan karakter calon pemimpin kita. (*)
