Akal adalah anugerah paling tajam yang dimiliki manusia. Ia mampu membaca alam, menyusun logika, dan menembus kompleksitas realitas. Namun setajam apa pun akal, ia tetap memiliki batas.
Ketika ia dipaksa berjalan sendirian—tanpa horizon—ia tidak selalu sampai pada kebenaran. Ia bisa tersesat dalam spekulasi, terjebak dalam asumsi, bahkan membangun keyakinan yang tampak logis tetapi sebenarnya keliru. Di sinilah iman kepada yang ghaib mengambil peran yang sangat fundamental.
Dalam Al-Qur’an, orang-orang yang mendapatkan petunjuk adalah:
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
“Mereka yang beriman kepada yang ghaib.”
Ini bukan penolakan terhadap akal, tetapi penyempurnaan arah akal. Ghaib bukan ruang kosong, melainkan horizon—batas cakrawala yang menjaga agar akal tidak terjebak dalam ilusi bahwa semua realitas harus bisa dijangkau oleh indera atau dibuktikan secara material.
Tanpa iman kepada yang ghaib, manusia berisiko jatuh pada dua ekstrem:
- Menolak hal yang tidak terlihat, lalu menyempitkan realitas hanya pada yang empiris.
- Atau menerima sesuatu tanpa dasar, lalu terjerumus dalam mitos dan keyakinan palsu.
Keduanya sama-sama berbahaya. Yang satu melahirkan kekosongan makna. Yang lain melahirkan kesesatan.
Maka iman kepada yang ghaib menjadi penjaga keseimbangan epistemologis. Ia memberi batas sekaligus arah. Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang benar harus terlihat, tetapi juga tidak semua yang tidak terlihat boleh dipercaya tanpa wahyu.
Dalam perspektif Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, akal tetap bekerja, tetap membaca, tetap menguji—tetapi ia tidak berjalan tanpa kompas. Wahyu menjadi penuntun, dan iman kepada yang ghaib menjadi garis cakrawala yang menjaga akal tetap berada dalam jalur kebenaran.
Di sinilah manusia tidak hanya menjadi makhluk yang berpikir, tetapi makhluk yang berpikir dengan arah. Karena pada akhirnya, masalah manusia bukan kurang akal, tetapi akal yang kehilangan horizon. Dan ketika horizon itu hilang, manusia bisa percaya apa saja selama itu tampak masuk akal. Bukan dari berpikir, tetapi dari tersesat dalam apa yang ia pikirkan.
Namun ketika iman kepada yang ghaib hadir, akal tidak lagi liar. Ia menjadi jernih, terarah, dan terlindungi. (*)
