Di tengah krisis kemanusiaan yang kian memburuk di Jalur Gaza, kepedulian masyarakat Indonesia kembali mewujud secara nyata. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI berkolaborasi dengan platform Kitabisa mendirikan kawasan darurat bernama Kampung Cahaya Zakat di Deir al-Balah, Gaza Tengah.
Kampung darurat ini dibangun sepenuhnya dari donasi masyarakat Indonesia. Fasilitas ini ditujukan bagi ratusan keluarga pengungsi yang kehilangan tempat tinggal akibat agresi berkepanjangan di Palestina.
Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid, menegaskan bahwa pembangunan Kampung Cahaya Zakat merupakan bukti konkret keberpihakan Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.
“Ini adalah wujud komitmen bangsa Indonesia, yang sangat menaruh perhatian besar pada perjuangan dan nasib rakyat Palestina. Seluruh kekuatan di tanah air, termasuk BAZNAS, untuk bergerak memberikan dukungan,” ujar Sodik dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Program ini dirancang komprehensif. Tidak sekadar menyediakan tempat sementara, Kampung Cahaya Zakat juga dilengkapi fasilitas penunjang hidup dasar yang layak, mengingat mayoritas infrastruktur publik di Gaza telah hancur.
Hingga saat ini, area pengungsian tersebut telah mencakup:
- 200 unit tenda keluarga siap huni.
- 50 unit toilet komunal (sanitasi darurat).
- Tenda masjid seluas 100 meter persegi untuk ibadah.
- Tenda kelas sekolah darurat demi menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak.
Air Bersih hingga Insentif Guru Ngaji
Selain infrastruktur fisik, bantuan juga menyasar kebutuhan logistik dan spiritual. Program ini mendistribusikan sedikitnya 151.000 liter air bersih serta ribuan paket makanan yang menjangkau total 11.714 penerima manfaat.
Guna menjaga moral dan pembinaan mental anak-anak di pengungsian, BAZNAS juga menyalurkan kafalah (insentif) kepada 20 guru sekolah dan tahfiz Al-Qur’an untuk enam bulan ke depan.
Aksi solidaritas ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah RI melalui Kementerian Luar Negeri. Direktur Timur Tengah Ditjen Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu, Ahrul Tsani Fathurrahman, menilai langkah BAZNAS dan Kitabisa memberikan dampak psikologis yang besar bagi para korban konflik.
“Kampung Cahaya Zakat ini adalah bukti nyata dari persaudaraan kita. Program ini tidak hanya menghadirkan bantuan fisik seperti tenda atau sanitas, tetapi juga menghadirkan harapan, rasa aman, dan kenyamanan. Yang paling penting, ini mengirimkan pesan kuat kepada saudara-saudara kita di Palestina bahwa mereka tidak pernah berjalan sendiri,” pungkas Ahrul.
Di tengah reruntuhan dan keterbatasan yang mengepung Gaza, kehadiran Kampung Cahaya Zakat kini menjadi simbol bahwa solidaritas rakyat Indonesia untuk Palestina tidak akan pernah berhenti. (*/tim)
