Indonesia Tuan Rumah Konferensi Internasional Imam Masjid 2026

Menteri Agama Nasaruddin Umar.
www.majelistabligh.id -

Indonesia akan menjadi tuan rumah International Grand Imam Conference atau IGIC 2026 yang pelaksanaannya masih dalam konfirmasi. Konferensi internasional para imam masjid ini akan digelar di Masjid Istiqlal dan Islamic Center Palembang.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan acara yang digelar tahun ini ditargetkan melibatkan sekitar 500 imam dari berbagai negara. Salah satu hasil utama yang diharapkan adalah lahirnya Deklarasi Grand Imam Internasional untuk Perdamaian Global.

“Kita ingin menunjukkan bahwa dari Indonesia, lahir gagasan keagamaan yang damai, toleran, dan relevan bagi dunia,” kata Nasaruddin Umar, saat memberi sambutan pada Bridging IGIC 2026 di Islamic Center Kalimantan Timur, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (25/4/2026). Forum ini sebagai langkah awal memperkuat konektivitas kepemimpinan keagamaan Indonesia di tingkat global sebelum penyelenggaraan IGIC 2026.

Menurut Menag, IGIC 2026 dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan praktik kepemimpinan spiritual di tingkat lokal dengan dinamika global. “Kita ingin membangun jembatan keagamaan. Imam di Indonesia tidak hanya berperan di ruang ibadah, tetapi juga menjadi pemimpin peradaban yang mampu menjawab tantangan global,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekuatan besar di level akar rumput. Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS), terdapat lebih dari 740 ribu masjid dan mushalla di seluruh Indonesia. Dengan asumsi setiap titik dikelola oleh satu hingga tiga imam, terdapat jutaan figur keagamaan yang berperan langsung membimbing masyarakat.

“Ini potensi luar biasa. Imam adalah garda terdepan dalam membentuk cara pandang umat,” jelasnya.

Menag juga menekankan pentingnya transformasi fungsi masjid di era modern. Menurutnya, masjid tidak cukup hanya menjadi tempat ibadah, tetapi harus berperan sebagai pusat literasi keagamaan untuk menangkal disinformasi, pusat pemberdayaan ekonomi melalui zakat dan infak, serta ruang penguat harmoni sosial.

Sejalan dengan itu, para imam diminta untuk terus meningkatkan kapasitas diri, termasuk dalam penguasaan teknologi dan penguatan wawasan kebangsaan, agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keutuhan negara. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search