Mewaspadai Penyusupan Sunyi Ideologi “PKI Gaya Baru”

Ust. Drs. H. Suhadi M. Sahli, M.Ag, Wakil Ketua PDM Kota Surabaya.
www.majelistabligh.id -

Sejarah kelam gerakan radikal dan pengkhianatan ideologi di Tanah Air memang telah lama berlalu, namun bara ancamannya dinilai belum sepenuhnya padam.

Dalam forum Kajian Sabtu Pagi (3/10/2026) yang berlangsung khidmat di Masjid Al-Muhajirin Jojoran 1, Surabaya, Ust. Drs. H. Suhadi M. Sahli, M.Ag, Wakil Ketua PDM Kota Surabaya, mengajak seluruh jemaah dan masyarakat luas untuk tidak melonggarkan kewaspadaan terhadap ancaman ideologi terlarang yang kini bergerak secara diam-diam dan terselubung.

Hal ini menjadi pengingat penting bagi bangsa Indonesia agar selalu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, dan UUD 1945 dari infiltrasi pemikiran radikal kiri yang menyesuaikan diri dengan zaman modern.

“PKI Gaya Baru kini tidak lagi datang membawa senjata atau kudeta fisik, melainkan melalui penyusupan politik dan infitrasi yang halus, terstruktur, sistematis, serta masif ke dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa,” kata Ust. Suhadi Sahli.

Dari Perlawanan Fisik ke Infiltrasi Halus

Dalam pemaparannya, Ust. Suhadi menjelaskan bahwa jika pergerakan masa lalu mengandalkan perlawanan fisik dan pemberontakan bersenjata, maka neo-komunisme atau gerakan “PKI Gaya Baru” menggunakan taktik yang jauh lebih halus. Mereka menyusup melalui jalur-jalur strategis seperti kebijakan publik, lembaga pemerintahan, hingga panggung politik formal.

Menurutnya, pemahaman mengenai ideologi ini sering kali mengaburkan pandangan masyarakat, terutama generasi muda. Sebagian kelompok mungkin hanya tergiur oleh jargon-jargon keadilan sosial atau gagasan anti-kesenjangan kelas. Padahal, pilar utama dari paham ateisme ini adalah penolakan terhadap nilai-nilai ketuhanan, agama, dan kehidupan pascamati.

Untuk memperkuat penjelasan tersebut, ceramah ini turut mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-An’am ayat 29 yang menggambarkan cara pandang materialistis bahwa kehidupan hanya ada di dunia fana saja:

“Dan tentu mereka akan mengatakan: ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita tidak akan dibangkitkan kembali.”

Landasan inilah yang dinilai sangat bertentangan dengan sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Empat Ciri Utama Gerakan Neo-Komunisme

Mengutip analisis kebangsaan, Ust. Suhadi membeberkan empat karakteristik utama dari gerakan gaya baru ini yang perlu diwaspadai masyarakat:

  1. Strategi Infiltrasi Senyap: Bergerak tanpa letupan senjata, melainkan menyusup ke dalam partai politik, birokrasi, hingga organisasi kemasyarakatan.
  2. Pengikatan pada Elit dan Oligarki: Mengandalkan pengaruh kelompok elit serta kekuatan finansial besar untuk mengamankan posisi dan kebijakan.
  3. Pemberian Janji Palsu dan Pemutarbalikan Sejarah: Menulis ulang narasi sejarah guna memposisikan diri seolah-olah sebagai korban, sembari memecah belah persatuan.
  4. Pelemahan Nilai-Nilai Agama: Mengikis peran tokoh agama, mencoba menggeser kurikulum pendidikan ke arah sekularisme ekstrem, serta merusak moral generasi muda.

Menghadapi ancaman yang bergerak dalam senyap ini, Ust. Suhadi menggarisbawahi bahwa kunci pertahanan terletak pada sinergi yang kokoh antara pemerintah, TNI/militer, serta seluruh elemen umat Islam dan masyarakat luas.

Langkah konkrit yang dapat dilakukan di antaranya adalah:

  • Penguatan Edukasi Sejarah Otentik: Mengajarkan rekam jejak perjuangan bangsa secara jujur dan objektif kepada anak cucu kita agar tidak mudah terpengaruh opini manipulatif.
  • Pengokohan Benteng Agama: Menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman moral utama dalam keluarga dan lingkungan sosial.
  • Kajian dan Diskusi Kritis: Menghidupkan forum-forum diskusi ilmiah dan wawasan kebangsaan di pemuda masjid maupun perguruan tinggi.

Sebagai penutup, pengajian di Masjid Al-Muhajirin Jojoran 1 ini berpesan agar seluruh lapisan masyarakat tetap bersatu dan menjaga kedamaian. Keberagaman dan persatuan bangsa harus dijaga dengan memegang teguh iman, wawasan kebangsaan, dan kewaspadaan nasional. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search