Iri Itu Melelahkan, Syukur Itu Menenangkan

Iri Itu Melelahkan, Syukur Itu Menenangkan
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada orang yang hidupnya tampak tenang. Sampai tetangganya membeli mobil baru. Sejak itu, tidurnya tidak nyenyak. Bukan karena cicilan mobil, melainkan karena cicilan rasa iri. Ironisnya, yang membeli mobil orang lain, tetapi yang stres justru dirinya.

Begitulah hasad. Penyakit hati yang membuat seseorang lebih sibuk menghitung nikmat orang lain daripada mensyukuri nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.

Ada pula gejala yang mungkin belum pernah ditemukan dalam buku kedokteran. Konon, banyak orang yang gemar  badannya kurus kerempeng. Bukan karena rajin olahraga atau sedang diet, melainkan karena terlalu sibuk memantau kehidupan orang lain sampai lupa mengurus hidup sendiri—termasuk lupa makan. Pagi mengecek media sosial tetangga, siang menghitung gaji teman, sore membahas usaha saudara, malam gelisah memikirkan siapa lagi yang sukses. Tentu ini hanya satire. Sebab yang benar-benar “habis dimakan” bukan nasi di piringnya, melainkan ketenangan di hatinya.

Hasad membuat orang sulit menikmati hidup. Keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman. Kebahagiaan orang lain dianggap sebagai kesedihan pribadi. Bahkan, ada yang diam-diam berharap nikmat itu hilang, lalu tersenyum ketika saudaranya tertimpa musibah. Lebih parah lagi, ia menjatuhkan nama baik orang yang didengki melalui ghibah dan fitnah, tetapi tetap bersikap manis ketika berhadapan.

Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan, “Hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” Sebelum menghancurkan orang lain, hasad lebih dahulu menghanguskan pahala pemiliknya.

Secara filosofis, hidup bukan perlombaan mengalahkan orang lain, melainkan perjalanan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Rezeki bukanlah piala yang hanya dimenangkan oleh satu orang. Ketika orang lain mendapat nikmat, jatah kita tidak otomatis berkurang. Allah telah menetapkan rezeki setiap hamba dengan keadilan dan hikmah-Nya.

Karena itu, jika melihat orang lain sukses, jangan biarkan hati bertanya, “Mengapa dia?” Gantilah dengan doa, “Ya Allah, berkahilah dia dan karuniakan pula kepadaku rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan.”

Sebab iri hanya menguras tenaga tanpa menambah rezeki. Sebaliknya, syukur membuat hati lapang, pikiran tenang, dan hidup terasa cukup.

Pesan moralnya sederhana:

Jangan habiskan umur menjadi “pengawas rezeki” orang lain. Allah tidak pernah mengangkat manusia menjadi auditor nikmat tetangganya. Tugas kita bukan menghitung berapa banyak yang diterima orang lain, tetapi mensyukuri apa yang telah Allah titipkan kepada kita. Sebab iri hanya menghasilkan lelah, sedangkan syukur selalu menghadirkan berkah dan ketenangan.*

Tinggalkan Balasan

Search