Isra Mikraj dalam Nalar Awam: Ketika Akal Mengakui Batasnya

Isra Mikraj dalam Nalar Awam : Ketika Akal Mengakui Batasnya
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada satu cara sederhana untuk memahami peristiwa Isra Mikraj tanpa harus buru-buru membawanya ke teori relativitas, wormhole, atau fisika kuantum. Mulailah dari pertanyaan yang sangat sederhana: Apakah sesuatu yang mustahil dilakukan manusia otomatis mustahil bagi Allah ?. Tentu tidak.

Pada zaman Nabi Muhammad ﷺ, perjalanan dari Makkah menuju Palestina bukanlah perjalanan singkat. Kendaraan, jarak, medan, dan waktu menjadi batas nyata bagi manusia. Karena itu, ketika Al-Qur’an menceritakan bahwa Allah memperjalankan Nabi ﷺ pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, peristiwa tersebut memang berada di luar pengalaman normal manusia.

Namun justru di situlah letak persoalannya. Kita sering mencoba mengukur kemampuan Allah menggunakan ukuran kemampuan manusia. Padahal manusia sendiri adalah makhluk yang terbatas.

Bayangkan seseorang seratus tahun lalu diberi tahu bahwa manusia kelak dapat berbicara dan melihat wajah orang yang berada di benua lain hanya melalui sebuah benda kecil di tangan. Mungkin terdengar seperti khayalan. Tetapi keterbatasan pengetahuan seseorang bukan bukti bahwa sesuatu itu mustahil.

Tentu, Isra Mikraj tidak sama dengan teknologi komunikasi modern. Analogi tersebut hanya menunjukkan satu hal: sesuatu yang melampaui kemampuan manusia pada suatu masa tidak otomatis bertentangan dengan kenyataan.

Karena itu, kita tidak perlu membayangkan Isra Mikraj semata-mata seperti perjalanan biasa: berangkat, menempuh jarak dengan kecepatan tertentu, lalu pulang dengan perhitungan fisika yang sama seperti perjalanan manusia sehari-hari.

Al-Qur’an menggunakan ungkapan yang sangat penting: Allah memperjalankan hamba-Nya.

Dengan kata lain, dalam perspektif iman, titik awalnya bukan kemampuan manusia, melainkan kehendak Allah.

Hal serupa dapat dilihat dalam konsep mukjizat. Allah menciptakan hukum-hukum alam, tetapi dalam keyakinan Islam Allah tidak menjadi tawanan dari hukum alam yang Dia ciptakan. Api secara normal membakar, tetapi dalam kisah Nabi Ibrahim, api tidak membakar beliau.

Kita tidak perlu mengatakan bahwa hukum alam tidak ada. Kita hanya memahami bahwa hukum alam adalah kebiasaan yang Allah tetapkan, dan Allah berkuasa memberikan pengecualian terhadap kebiasaan tersebut.

Di sini kita perlu membedakan dua pertanyaan: Apakah Isra Mikraj terjadi? Dan bagaimana mekanisme Isra Mikraj terjadi?

Pertanyaan pertama berada dalam wilayah iman dan wahyu. Pertanyaan kedua menyentuh sesuatu yang mekanismenya tidak sepenuhnya berada dalam jangkauan pengetahuan empiris manusia.

Tidak mengetahui bagaimana sesuatu terjadi bukan berarti sesuatu itu mustahil terjadi.

Kita bahkan masih menghadapi banyak pertanyaan mendasar tentang alam semesta dan realitas yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan manusia. Maka, keterbatasan pengetahuan tidak seharusnya buru-buru diubah menjadi kesimpulan tentang kemustahilan.

Namun ada satu hal yang juga perlu dihindari: jangan menggunakan teori relativitas, wormhole, dimensi tambahan, atau fisika kuantum sebagai bukti ilmiah bahwa Isra Mikraj pasti terjadi.

Itu juga tidak tepat.

Sains belum membuktikan mekanisme Isra Mikraj. Tetapi sains juga tidak memiliki dasar untuk menyatakan bahwa sebuah mukjizat ilahi pasti mustahil hanya karena mekanismenya tidak dapat dijelaskan dengan hukum fisika yang kita pahami.

Dengan demikian, iman dan sains tidak harus dipertentangkan.

Sains berusaha memahami bagaimana alam bekerja. Iman berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah dan menerima wahyu yang berada di luar jangkauan pengujian empiris.

Dan mungkin, bagi orang awam, inti Isra Mi’raj justru tidak perlu dimulai dari pertanyaan tentang seberapa cepat Nabi ﷺ bergerak atau bagaimana perjalanan itu secara fisik berlangsung.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang dibawa pulang dari perjalanan tersebut: perintah sholat.

Maka Isra Mi’raj dapat direnungkan dengan kalimat sederhana:

“Jangan mengukur kemampuan Allah dengan keterbatasan manusia. Kita boleh bertanya tentang bagaimana sebuah peristiwa terjadi, tetapi jangan menyebutnya mustahil hanya karena akal kita belum mampu menjelaskan caranya.”

Pada akhirnya, Isra Mi’raj bukan sekadar kisah tentang perjalanan yang sangat jauh. Ia juga mengajarkan kerendahan hati intelektual: bahwa manusia boleh menggunakan akalnya sejauh mungkin, tetapi tetap harus menyadari bahwa tidak semua yang berada di luar jangkauan akal otomatis berada di luar kuasa Allah. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search