‎Jangan Melupakan Sang Pemberi Rezeki dengan Alasan Mencari Rezeki

‎Jangan Melupakan Sang Pemberi Rezeki dengan Alasan Mencari Rezeki
*) Oleh : Suharto Fauzan
Pegiat Literasi Surabaya (Simpatisan Muhammadiyah) ‎
www.majelistabligh.id -

‎Betapa seringnya manusia begitu sibuk bekerja dari pagi hingga petang, lembur hingga malam, dengan alasan mencari rezeki, tetapi justru melupakan Sang Pemberi Rezeki itu sendiri.
‎
‎Ketika Pekerjaan Menjadi “Tuhan Kecil”
‎Mencari nafkah adalah sebuah kewajiban dan bentuk ibadah. Islam sangat menghargai orang yang bekerja keras untuk keluarganya. Namun, masalahnya bukan pada pekerjaannya, melainkan pada cara pandang kita.
‎
‎Seringkali, dunia seolah berputar hanya karena usaha kita. Kita merasa sukses karena kepintaran kita, atau merasa kaya karena kerja keras kita semata. Akibatnya, ketika azan berkumandang, kita menunda salat dengan alasan tanggung jawab pekerjaan.
‎
‎Rezeki bukanlah hasil akhir yang sepenuhnya ditentukan oleh seberapa lelah otot kita bekerja. Rezeki adalah ketetapan dan kasih sayang Allah SWT. Tugas manusia adalah ikhtiar (berusaha), sementara hasil akhir mutlak di tangan-Nya.
‎
‎Allah SWT telah mengingatkan kita melalui firman-Nya dalam Surah Al-Qasas ayat 77:
‎”Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…”
‎
‎Ayat ini memberikan keseimbangan yang indah. Kita diminta mencari kehidupan dunia, tetapi jangan pernah melupakan tujuan akhir kita, yaitu akhirat dan kedekatan kepada Allah. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita buta terhadap kewajiban utama kita sebagai hamba.
‎
‎Peringatan dari Rasulullah SAW;

‎Rasulullah SAW juga mengingatkan kita agar tidak menjadikan dunia sebagai satu-satunya tujuan hidup hingga melupakan Sang Pencipta. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nabi bersabda:
‎”Barang siapa yang tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu ada di depan matanya, padahal ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa yang niat hidupnya adalah akhirat, maka Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.”
‎
‎Hadis ini sangat logis. Orang yang melupakan Allah demi mencari harta seringkali merasa tidak pernah cukup, selalu cemas, dan hatinya miskin ketenangan. Sebaliknya, orang yang mengutamakan Allah akan diberi ketenangan jiwa (kekayaan hati), rezeki justru akan datang menghampirinya dengan cara yang tidak disangka-sangka.
‎
‎Tips Sederhana Menjaga Keseimbangan
‎Agar kita tidak terjebak melupakan Sang Pemberi Rezeki, coba lakukan beberapa langkah kecil ini:
· ‎Letakkan Allah di Awal, Bukan di Sisa Waktu: Ketika bekerja, jadikan panggilan Allah (seperti salat tepat waktu) sebagai prioritas utama. Hentikan sejenak pekerjaan ketika waktu salat tiba, seolah-olah kita sedang menghadap Raja yang memberi kita kehidupan.

· ‎Luruskan Niat: Awali setiap langkah keluar rumah untuk bekerja dengan doa: “Ya Allah, aku bekerja hari ini untuk mencari ridho-Mu dan menafkahi keluarga dengan cara yang halal.”

· ‎Ingat Bahwa Rezeki Sudah Diatur: Manusia tidak akan mati sebelum rezekinya habis. Jadi, tidak perlu stres berlebihan hingga menghalalkan segala cara atau mengorbankan ibadah wajib.
‎
‎Mengingat Allah di Setiap Waktu
‎Ingatlah, bekerja keras itu penting, tetapi berdoa dan bersandar kepada Allah adalah kuncinya. Jangan sampai kita lelah mengumpulkan rezeki di dunia, tetapi kehilangan rahmat dari Sang Pemberi Rezeki di akhirat kelak.
‎
‎Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk selalu ingat kepada-Nya di setiap waktu lapang maupun sempit.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Search