Memeringati momentum Sumpah Pemuda, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, mengajak generasi muda untuk tidak hanya terjebak dalam ruang diskusi, melainkan berani mengambil risiko dan melahirkan karya nyata di sektor ekonomi.
Di era kontemporer, tantangan pemuda tidak lagi sebatas mengolah gagasan perubahan, politik, atau akademis. Lebih dari itu, pemuda dituntut terjun langsung ke dunia kerja dan membangun kemandirian ekonomi bangsa.
“Pilihan jalan pengabdian itu kembali ke minat masing-masing. Kita tidak bisa memaksa semua pemuda terjun ke dunia ekonomi karena berkaitan dengan appetite atau selera,” ujar Muhadjir.
Muhadjir menegaskan, kemandirian ekonomi berperan penting dalam membentuk orientasi hidup pemuda agar tidak bergantung pada kekuasaan dan kepentingan pribadi. Mengincar kekayaan pribadi lewat jalur kekuasaan, menurutnya, kerap menjadi cikal bakal tindakan korupsi.
Meskipun kerja keras di dunia bisnis tidak serta-merta menjamin seseorang terbebas dari korupsi, membangun etos kerja sejak dini akan mengikis mentalitas pemburu kekuasaan semata.
“Berduyun-duyunlah. Anak muda harus berani bertarung, adu untung, dan berjuang keras,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar kebiasaan berdiskusi dan berencana tidak berhenti tanpa tindak lanjut. Pertukaran gagasan memang perlu, tetapi dampaknya harus bisa dirasakan secara konkret.
“Forum pertemuan atau pertukaran gagasan cukup sekali setahun, setelah itu kita harus fokus bekerja dan mencari pendapatan. Itulah prinsip Muhammadiyah: tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja,” pungkas Muhadjir.
Semangat ini selaras dengan esensi Sumpah Pemuda, di mana generasi muda memegang peranan krusial dalam menentukan arah masa depan bangsa melalui keberanian berusaha dan etos kerja yang solid. (*/tim)
