Beberapa waktu lalu, aku merenung tentang satu hal. Ketika kita tidak menyukai seseorang, sering kali ada keinginan untuk menceritakan semua keburukannya kepada orang lain. Tanpa sadar, kita sedang berusaha membuat orang lain ikut membenci orang yang sama.
Saat itu aku berpikir, mengapa aku ingin memengaruhi hati orang lain, padahal yang sedang bermasalah adalah hatiku sendiri.
Aku pun belajar, bahwa jika memang ada rasa tidak suka kepada seseorang, yang pertama kali harus dibereskan adalah hati kita. Jangan sampai kebencian yang ada dalam diri berubah menjadi fitnah, ghibah, atau prasangka yang akhirnya merusak hati orang lain.
Tidak semua yang kita rasakan harus diwariskan kepada orang lain. Bisa jadi orang yang sedang kita benci justru memiliki kebaikan yang belum kita ketahui. Dan bisa jadi Allah sedang menguji, apakah kita mampu menjaga lisan ketika hati sedang terluka.
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ
“…Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa…” (QS Al-Ma’idah 5: 8)
Aku ingin belajar untuk menyelesaikan urusan hati dengan Allah, bukan mengajak orang lain memikul kebencian yang sama. Sebab orang yang kuat bukanlah yang pandai mengumpulkan pendukung untuk membenci seseorang, tetapi yang mampu menjaga hatinya tetap bersih meski hatinya pernah disakiti.
Mari kita sibuk memperbaiki hati sendiri, bukan mengajak orang lain ikut membenci. Semoga Allah membersihkan hati kita dari dendam, iri, dan kebencian yang tidak diridai-Nya.
Semoga bermanfaat.
