Saat banyak orang berteriak, “NKRI Harga Mati,” Djuanda telah Memperjuangkan NKRI Sampai Mati.
***
Sejarah sering kali mencatat para pahlawan melalui gemuruh angkat senjata atau pidato berapi-api di atas podium. Namun, di balik fondasi kokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ada seorang sosok yang bergerak dalam sunyi, bekerja dengan ketekunan seorang guru, dan mengabdi tanpa lelah.
Ia adalah Ir. Djuanda Kartawidjaja. Di balik nama besarnya sebagai Perdana Menteri Indonesia ke-10, terdapat napas kaderisasi Muhammadiyah yang kental—sebuah identitas yang membentuk karakternya menjadi pribadi yang ikhlas, berintegritas tinggi, dan senantiasa mengutamakan aksi nyata di atas retorika politik.
Djuanda muda bukanlah sosok yang haus akan panggung kekuasaan. Mengawali kariernya sebagai insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), ia justru memilih jalan pengabdian menjadi kepala sekolah dan guru di SMA Muhammadiyah Jakarta.
Di ruang-ruang kelas itulah, nilai-nilai luhur kepanduan Hizbul Wathan dan etos gerakan Muhammadiyah meresap ke dalam jiwanya. Baginya, mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan wujud konkret dari pilar pencerdasan bangsa.
Karakter religius yang moderat, disiplin, dan senantiasa berorientasi pada kemaslahatan umat inilah yang kemudian ia bawa ketika dipanggil mengabdi di ranah eksekutif negara.
Memasuki masa kemerdekaan yang penuh gejolak, Djuanda menjelma menjadi jangkar stabilitas pemerintahan. Julukan “Menteri Marathon” melekat padanya bukan tanpa alasan. Beliau tidak pernah absen dalam belasan kabinet berturut-turut sejak awal kemerdekaan hingga akhir hayatnya.
Mulai dari mengurusi Perhubungan, Pekerjaan Umum, Keuangan, hingga puncaknya sebagai Perdana Menteri, Djuanda melewati berbagai transisi politik dengan kepala dingin. Ketika ego kelompok dan kepentingan partai politik saling berbenturan, ia tetap tegak berdiri sebagai teknokrat ulung yang fokus pada kerja nyata—sebuah cerminan sejati dari prinsip muamalah duniawiyah Muhammadiyah yang progresif dan solutif.
Konsep Negara Kepulauan
Puncak warisan monumentalnya yang hingga kini menghidupi bangsa ini terukir pada tanggal 13 Desember 1957 melalui Deklarasi Djuanda. Sebelum deklarasi ini lahir, Indonesia secara hukum kolonial adalah negara yang rapuh dan terbelah. Berdasarkan Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonnantie 1939 warisan Belanda, laut di luar batas 3 mil dari garis pantai merupakan perairan bebas. Hal ini mengizinkan kapal asing melintas bebas di sela-sela pulau Nusantara, yang tentu saja mengancam pertahanan dan kesatuan bangsa.
Keberanian diplomatik yang luar biasa, Djuanda mendobrak aturan tersebut. Ia menyatakan kepada dunia bahwa laut di sekitar, di antara, dan di dalam kepulauan Indonesia bukan lagi pemisah, melainkan pemersatu dan bagian tak terpisahkan dari kedaulatan NKRI. Indonesia diperkenalkan sebagai wadah utuh berprinsip Archipelagic State (Negara Kepulauan).
Gagasan besar ini awalnya ditentang keras oleh negara-negara maritim besar dunia. Namun, lewat jalan panjang diplomasi yang gigih, prinsip negara kepulauan ini akhirnya diakui secara internasional dalam Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) pada tahun 1982. Dampaknya luar biasa. Wilayah kedaulatan Indonesia melonjak drastis dari sekitar 2 juta km² menjadi 5 juta km² tanpa perlu menumpahkan setetes darah pun.
Hingga detik ini, warisan Ir. Djuanda menjadi fondasi utama ketahanan nasional. Berdasarkan arah kebijakan strategis nasional saat ini, wilayah laut yang disatukan oleh Djuanda kini menjadi motor penggerak ekonomi masa depan Indonesia melalui sektor Blue Economy (Ekonomi Biru).
Setiap jengkal kekayaan laut yang dilindungi dan dinikmati oleh nelayan kita hari ini, serta penetapan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara, adalah buah manis dari visi besar seorang kader Muhammadiyah. Beliau adalah sosok yang melihat laut bukan sebagai jarak atau pemisah, melainkan sebagai jalan utama untuk merajut persaudaraan bangsa.
Mengenang Ir. Djuanda adalah mengenang bahwa keteguhan iman, keluhuran budi, dan profesionalisme keilmuan dapat berjalan seiring demi membela tanah air. Beliau telah tiada, namun samudra luas yang memeluk ribuan pulau Nusantara akan selamanya menjadi saksi bisu atas dedikasi agung sang guru Muhammadiyah demi tegaknya kedaulatan NKRI. (*)
