Suasana Masjid Al Khoory Faqih Oesman Kampus Universitas Muhammadiyah (UM) Gresik pada Ahad (24/5/2026) dini hari telah menggeliat. Sebelum azan Subuh berkumandang, jemaah telah memadati area masjid untuk salat dan mengikuti kajian rutin Ahad pekan keempat yang diselenggarakan seusai salat Subuh.
Di sisi selatan halaman masjid, sejumlah petugas dapur terlihat sibuk menyiapkan kudapan bagi jemaah. Kehangatan suasana terasa sejak dini hari, berpadu dengan semangat kebersamaan dan antusiasme para peserta kajian.
Kajian Subuh kali ini mengangkat tema “Mendekat ke Langit, Berbagi ke Bumi” dengan menghadirkan Ustaz Afifun Nidlom, mubalig asal Tanggulangin, Sidoarjo, yang juga menjabat Ketua Korps Mubalig Muhammadiyah Jawa Timur.
Mengawali ceramahnya, Ustaz Nidlom menjelaskan keistimewaan bulan Dzulhijah sebagai bulan haji sekaligus salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah Swt.
Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 197 mengenai larangan berkata kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan ketika menunaikan ibadah haji. Selain itu, Dzulhijah juga termasuk empat bulan haram bersama Rajab, Dzulkaidah, dan Muharam sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 36.
“Dzulhijah merupakan momentum yang sangat berharga untuk memperbaiki niat, memperkuat tauhid, membersihkan hati dari kecintaan terhadap dunia, serta belajar ikhlas dalam berkurban demi Allah,” tuturnya.
Menurutnya, sepuluh hari pertama Dzulhijah merupakan hari-hari yang sangat dicintai Allah Swt. untuk melaksanakan amal saleh. Ia pun mengutip hadis Rasulullah saw. tentang keutamaan amal pada sepuluh hari pertama Dzulhijah yang nilainya lebih dicintai Allah dibandingkan hari-hari lainnya.
Anjuran Puasa dan Memperbanyak Takbir
Dalam kajian tersebut, Ustaz Nidlom memaparkan sejumlah amalan utama yang dianjurkan selama bulan Dzulhijah. Pertama, memperbanyak puasa pada sembilan hari pertama Dzulhijah, khususnya puasa Arafah pada 9 Dzulhijah bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Ia menyampaikan hadis Nabi saw. bahwa puasa Arafah menjadi sebab dihapuskannya dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.
Kedua, memperbanyak takbir, tahlil, dan tahmid menjelang Iduladha. Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan lafaz takbir dua kali sebagaimana dinukil dari riwayat Ibnu Mas’ud, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib.
Menurut keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam Muktamar Tarjih XX di Garut pada 1939 Hijriah, lafaz takbir yang digunakan ialah:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.”
Takbir Iduladha, lanjutnya, dianjurkan dimulai setelah Subuh 9 Dzulhijah hingga menjelang Magrib 13 Dzulhijah.
“Takbir dapat dilaksanakan di mana saja, baik di rumah, masjid, jalan, kendaraan, kantor, sawah, maupun pasar. Yang terpenting adalah hati senantiasa mengingat Allah,” jelasnya.
Kurban Memiliki Nilai Spiritual dan Sosial
Selain puasa dan takbir, ustaz Nidlom juga mengingatkan pentingnya memperbanyak amal saleh, melaksanakan salat Iduladha, dan menunaikan ibadah kurban bagi yang mampu.
Ia menegaskan bahwa ibadah kurban memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Bahkan, Allah Swt. menyandingkan perintah salat dengan penyembelihan kurban dalam QS. Al-Kautsar ayat 2.
“Ibadah kurban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan wujud ketakwaan dan keikhlasan seorang hamba kepada Allah,” ujarnya.
Ia juga mengutip hadis Nabi saw. yang memberikan peringatan kepada orang yang memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak melaksanakan kurban.
Spiritualitas yang Membumi
Pada bagian akhir kajian, ustaz Nidlom menegaskan bahwa Iduladha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban, melainkan momentum untuk membangun kesalehan spiritual dan sosial secara bersamaan.
Menurutnya, semakin seseorang mendekat kepada Allah Swt., semakin besar pula manfaat yang harus diberikan kepada sesama manusia. Ia menilai masyarakat modern saat ini cenderung semakin individualistis. Banyak orang dekat dengan teknologi, tetapi jauh dari empati dan kepedulian sosial.
“Kurban mengajarkan bahwa hubungan dengan Allah tidak boleh memutus hubungan dengan manusia. Semakin dekat ke langit, semakin besar manfaat yang ditebar ke bumi,” pungkasnya.
Kajian Subuh ditutup dengan doa dan suasana hangat kebersamaan. Para jemaah kemudian menikmati sarapan bersama yang telah disiapkan takmir. (ana aziza)
