Mengapa Allah Memulai dengan Iqra’, Bukan Salat?

Mengapa Allah Memulai dengan Iqra’, Bukan Salat?
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
www.majelistabligh.id -

Allah memulai wahyu dengan Iqra’ (bacalah) karena Islam menekankan fondasi ilmu, kesadaran, dan cara pandang terhadap kehidupan sebelum kewajiban ritual seperti salat. Membaca di sini bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca realitas dengan menyebut nama Allah, sehingga ibadah lahir dari pemahaman yang benar

Mengapa Iqra’ Didahulukan?

• Fondasi Ilmu dan Kesadaran Wahyu pertama, QS. Al-‘Alaq 1–5,
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Menegaskan bahwa peradaban Islam dimulai dari literasi dan pengetahuan. Tanpa ilmu, ibadah bisa kehilangan makna dan hanya menjadi rutinitas kosong.

• Membaca Kehidupan, Bukan Sekadar Teks Iqra’ berarti membaca seluruh realitas: alam, sejarah, diri sendiri, dan tanda-tanda kebesaran Allah. Membaca dengan “bismi rabbik” menegaskan bahwa ilmu harus selalu dikaitkan dengan Allah sebagai sumber dan tujuan.

• Revolusi Epistemologi Sebelum Islam, masyarakat Arab dikenal dengan tradisi lisan dan tingkat literasi rendah. Perintah membaca menjadi revolusi besar: mengubah sumber pengetahuan, cara memahami realitas, dan standar kebenaran.

Hubungan dengan Salat

• Salat sebagai puncak ibadah memang menjadi tiang agama, tetapi ia diturunkan setelah fondasi ilmu dan tauhid ditegakkan. Dengan ilmu, salat tidak sekadar gerakan fisik, melainkan kesadaran penuh akan hubungan dengan Allah.

• Tahapan Pendidikan Ilahiah Wahyu turun selama 23 tahun sebagai kurikulum langit. Dimulai dari Iqra’ (membangun kesadaran dan ilmu), lalu berkembang ke perintah ibadah ritual, hingga akhirnya penyempurnaan agama dalam QS. Al-Maidah ayat 3
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
Artinya: Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.

Refleksi Praktis

• Dalam Pendidikan: Guru dan orang tua perlu menekankan Iqra’ sebagai dasar membaca alam, sejarah, dan diri dengan melibatkan Allah sebelum menekankan ritual.

• Dalam Kehidupan: Sholat menjadi bermakna jika didasari ilmu dan kesadaran. Tanpa Iqra’, sholat bisa kehilangan ruh.

• Dalam Peradaban: Islam membangun masyarakat bukan dengan ritual semata, tetapi dengan ilmu yang melahirkan ibadah dan akhlak.

Banyak orang sibuk beribadah, tetapi lupa membaca hatinya sendiri. Mungkin karena itula wahyu pertama di mulai dengan iqro’, agar manusia mengenal Tuhannya dengan kesadaran, bukan sekedar kebiasaan.

Pertanyaanya adalah mengapa wahyu pertama bukan perintah sholat? Karena tidak ingin tubuhmu lebih dulu bergerak, sementara hatimu masih tertidur. Lalu mengapa yang pertama justru iqro’? Karena manusia yang tidak mau membaca akan mudah menyembah kebiasaan, ego, bahkan dirinya sendiri. Bacalah dirimu ketika marah. Bacalah hatimu ketika iri. Bacalah dirimu ketika kecewa. Bacalah nikmat Allah yang selama ini kita anggap biasa.

Karena sholat tanpa kesadaran bisa menjadi gerakan. Tatapi hati yang telah belajar membaca akan menemukan bahwa setiap takbir adalah kepulangan, setiap sujud adalah kerendahan, dan setiap salam adalah kedamaian.

Iqra’ adalah undangan untuk membuka mata batin. Sebab hati yang buta bisa saja hafal ribuan kata, tetapi tetap tidak mengenal Tuhannya. Barangkali yang paling lelah bukan kakimu yang berjalan, melainkan hatimu yang bertahun-tahun beribadah tanpa pernah benar-benar membaca dirinya sendiri. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search