Peta kekuatan perguruan tinggi Islam global tengah mengalami rekonfigurasi fundamental. Pusat gravitasi intelektual Islam yang selama berabad-abad identik dengan kawasan Timur Tengah, kini secara meyakinkan bergeser ke Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Isyarat kuat pergeseran ini tecermin jelas dalam rilis UniRank 2026 tentang Top Islamic Universities in the World.
Dari evaluasi ketat terhadap 438 perguruan tinggi Islam di seluruh dunia, Indonesia tidak hanya berhasil menempatkan enam wakilnya di jajaran 10 besar, tetapi Persyarikatan Muhammadiyah secara khusus mencatatkan prestasi monumental.
Keberhasilan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) memborong empat posisi elite di tingkat internasional, menegaskan bahwa keunggulan perguruan tinggi Islam modern tidak lagi ditentukan oleh batas geografis atau keagungan masa lalu, melainkan oleh transformasi ekosistem akademik yang adaptif dan terorganisasi.
Kejutan terbesar datang dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang berbasis di Medan. UMSU secara spektakuler berhasil menempati peringkat pertama dunia, melompati nama-nama besar global seperti Universiti Islam Antarabangsa Malaysia di peringkat kedua dan institusi bersejarah Cairo University asal Mesir di posisi ketiga. Sementara itu, posisi keempat diisi oleh Jordan University of Science and Technology dari Yordania yang unggul dalam bidang sains dan kedokteran.
Dominasi Muhammadiyah makin menguat melalui Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) yang bertengger di peringkat kelima berkat inovasi program ilmu kesehatan dan teknologinya, mengungguli Universitas Islam Indonesia (UII) di posisi keenam.
Pada jajaran papan atas berikutnya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menempati peringkat ketujuh melalui keunggulan jaringan internasional dan riset sosialnya, disusul Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di peringkat kedelapan sebagai pencetak SDM profesional. Daftar sepuluh besar dunia ini kemudian ditutup oleh Université Cadi Ayyad dari Maroko di posisi kesembilan dan Süleyman Demirel Üniversitesi dari Turki di posisi kesepuluh.
Pencapaian luar biasa empat PTM di ranah global memicu pertanyaan kritis: bagaimana bisa sebuah organisasi kemasyarakatan berbasis civil society mampu melahirkan ekosistem akademik swasta yang mengalahkan raksasa-raksasa perguruan tinggi berorientasi negara?
Jawabnya adalah berdasarkan analisa berikut:
- Otonomi Berjejaring (Networked Autonomy)
Kunci utama daya saing PTM terletak pada tata kelolanya yang menerapkan skema otonomi berjejaring. Setiap PTM diberikan kebebasan manajerial dan fleksibilitas akademik untuk beradaptasi cepat dengan kebutuhan lokal. Namun di saat yang sama, mereka terikat dalam jejaring solid Persyarikatan melalui Majelis Diktilitbang.
Skema ini melahirkan kolaborasi intra-ekosistem yang masif: riset bersama, pertukaran mahasiswa, hingga pendampingan kampus berkembang oleh kampus yang sudah mapan. Hasilnya adalah efisiensi skala besar (economies of scale) yang sulit ditandingi oleh kampus independen berlayar tunggal.
- Institusionalisasi Nilai “Islam Berkemajuan” dalam Inovasi
Kriteria pemeringkatan UniRank sangat bergantung pada visibilitas web, akreditasi resmi, ketersediaan jenjang sarjana hingga doktor, serta tingkat kepopuleran independen di media digital.
Di sinilah doktrin Islam Berkemajuan menemukan wujud praktisnya. Muhammadiyah memandang kampus sebagai laboratorium pemecahan masalah sosial (social problem-solving). Responsivitas sosial yang tinggi ini secara otomatis mendongkrak lalu lintas akademik, jejaring sitasi, keterlibatan publik, dan visibilitas digital—indikator vital yang ditangkap secara objektif oleh algoritma pemeringkatan modern.
- Internasionalisasi Organik dan Inklusivitas Modern
Berbeda dengan institusi tradisional yang kerap terjebak dalam sekat geografi atau sektarianisme, PTM mempraktikkan internasionalisasi yang terbuka dan inklusif. PTM secara aktif membuka kelas internasional, menjalin kemitraan riset antarbenua, dan menyerap mahasiswa asing tanpa kehilangan akurasi identitas keislamannya.
Inklusivitas ini memperluas jejak digital global (global digital footprint) yang diakui secara independen oleh pemeringkat internasional.
Capaian dominan Muhammadiyah pada UniRank 2026 memberi pelajaran penting bagi peradaban Islam modern: keunggulan akademik abad ke-21 tidak lagi ditentukan oleh usia sejarah yang tua atau romantisme masa lalu, melainkan oleh kecepatan adaptasi dan kekuatan ekosistem.
Muhammadiyah telah membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman yang dipadukan dengan manajemen modern, profesionalisme, serta semangat kemandirian mampu melahirkan institusi kelas dunia yang diakui secara global. Selamat, untuk Kampus Muhammadiyah. (*)
