Menjaga Hutan, Menjaga Kehidupan
Karhutla pada akhirnya mengajarkan satu hal penting: manusia tidak hidup di luar alam. Manusia adalah bagian dari ekosistem kehidupan.
Ketika hutan terbakar, sesungguhnya kita sedang membakar sebagian dari masa depan kita sendiri.
Karena itu, respons terhadap karhutla tidak boleh berhenti pada pemadaman api. Kita membutuhkan pencegahan, penegakan hukum, tata kelola lahan yang baik, restorasi ekosistem, edukasi masyarakat, dan perubahan budaya.
Lebih dari itu, kita membutuhkan revolusi kesadaran.
Agama mengajarkan bahwa bumi adalah amanah. Alam adalah tanda kebesaran Allah. Manusia adalah khalifah. Kerusakan adalah sesuatu yang harus dicegah. Dan setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan.
Maka, ketika melihat asap mengepul dari hutan, barangkali yang perlu kita lakukan bukan hanya menutup hidung, tetapi juga membuka kesadaran.
Sebab hutan yang terbakar bukan hanya mengeluarkan asap ke udara. Ia juga mengirimkan pesan moral kepada manusia: jangan jadikan bumi sebagai korban keserakahan.
Merawat hutan berarti merawat kehidupan. Menjaga bumi berarti menjalankan amanah. Dan mencegah karhutla, pada akhirnya, adalah bagian dari ikhtiar manusia untuk mewujudkan kehidupan yang diridhai Allah—kehidupan yang seimbang, berkeadilan, dan berkelanjutan. (*)
