Jika semua yang kita kehendaki harus kita miliki, darimana kita belajar ikhlas. Abu Qilabah diuji oleh Allah Swt dengan ujian yang luar biasa beratnya. Beliau buta matanya, pincang kakinya dan tangannya buntung.
Kondisi beliau sangat memprihatinkan secara fisik. Di tambah kemiskinan yang akut. Beliau tinggal di daerah pinggiran yang di kelilingi gurun pasir. Tempat tinggalnya di sebuah tenda, di mana beliau dibantu oleh salah satu putranya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Padahal beliau adalah seorang ulama besar. Murid dari Abu Hurairah ra. Meskipun demikian kondisinya, beliau tidak lepas berzikir. Beliau ucapkan subhanallah, walhamdulilah. Beliau selalu berzikir tanpa pernah berhenti sedikitpun.
Ujiannya tidak berhenti di situ. Putranya yang melayani dia meninggal diterkam oleh srigala buas. Akan tetapi beliau selalu tabah menjalani kehidupan ini.
- Jika semua yang kita impikan harus terwujud, darimana kita belajar sabar.
Nabi Yusuf as diuji oleh Allah Swt dengan ujian seorang wanita yang cantik, bangsawan dan mempesona. Alhamdulilah, beliau berhasil lolos dari jebakan rayuan wanita tadi, meskipun beliau harus dipenjara selama 11 tahun.
- Jika setiap doa kita harus dikabulkan, bagaimana kita dapat belajar ikhtiar.
Siti Hajar diuji oleh Allah Swt dengan ujian yang maha berat. Beliau ditinggalkan oleh suaminya (atas perintah Allah) dengan seorang anak kecil Ismail as dengan tidak ada bekal apapun, serta tidak ditemani oleh siapapun. Dan di tempat yang tandus serta tidak berpenghuni. Singkat cerita beliau berlari dari Sofa ke Marwa bolak-balik tujuh kali untuk mencari air. Sehingga munculah air zam-zam dari bawah telapak kaki Ismail kecil.
- Seorang yang dekat dengan Allah, bukan berarti tidak ada air mata.
Abu Bakar ra adalah sahabat yang paling bertakwa di antara para sahabat yang lain. Bahkan keimanan beliau sungguh luar biasa. Akan tetapi cobaan yang beliau alami sungguh berat sekali. Beliau setiap malamnya menangis beristighfar, senantiasa bermunajat pada Robnya. Setiap membaca al Qur’an beliau selalu menangis, mengingat siksaan yang Allah berikan kepada penduduk neraka.
- Seorang yang taat pada Allah, bukan berarti tidak ada kekurangan.
Abu Hurairah ra. adalah shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis nabi. Padahal beliau masuk islam ketika nabi berada di madinah dan di periode akhir tahun kenabian. Akan tetapi kesungguhan beliau dalam berislam dan mencari ilmu sungguh luar biasa. Beliau tinggalkan kesenangan dunia, serta tabah dalam menghadapi pahit getirnya kehidupan.
- Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa-masa yang sulit.
Ali bin Abu Tholib adalah sahabat nabi yang usianya paling belia. Beliau terkenal dengan lautan ilmu. Fasih dalam berkata, sholih dalam bertindak dan bijak dalam mengambil keputusan. Beliau adalah manusia sempurna.
Betapa tidak, beliau adalah menantu nabi saw, ahli hikmah, seorang imam yang agung. Pemimpin umat yang adil. Kata katanya bak mutiara, nasihatnya penuh hikmah. Meskipun demikian kehidupan beliau sangat sederhana.
Beliau pernah minum susu yang hampir basi. Beliau ditanya mengapa beliau melakukan seperti itu? Beliau menjawab, bahwa Rasululah saw pernah melakukan seperti itu. Setiap jengkal apa yang di lakukan Rasul saw, beliau akan menirunya. Kususnya kehidupan yang sangat zuhud. Padahal dunia seisinya ada di depan mata. Beliau berkata, “wahai dunia, aku telah menceraikan mu dengan thalak bain.”
Mengapa demikian karena sang maha guru Rasul saw mengajarkan bahwa setiap kenikmatan yang kita miliki akan ditanya oleh Allah Swt.
Biarlah Allah yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Alah tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik bagi kita.
- Ketika kerja kita tidak dihargai, maka saat itu kita sedang belajar tentang keikhlasan.
Ali bin Husen bin Ali bin Abu Thalib, setiap malam memberikan satu karung gandum untuk satu keluarga di madinah. Ada sekitar 100 keluarga yang mendapat gandum “gratis” untuk kebutuhan mereka satu bulan. Akan tetapi penduduk madinah tidak pernah tahu dari mana gandum tadi. Sampai akhirnya Ali meninggal dunia, baru mereka tahu siapa yang mengirim gandum selama ini.
- Ketika usaha kita dinilai tidak penting, maka saat itu kita sedang belajar kesabaran.
Uwaes al Qorni adalah imamnya para ahli zuhud dan salah satu penduduk dunia yang paling terkenal di kalangan penduduk langit. Namanya paling sering disebut para malaikat. Meski demikian, beliau selalu diremehkan, dianggap rendah dan dipandang sebelah mata oleh penduduk dunia. Mungkin karena fisiknya atau kemiskinannya, sehingga beliau selalu diremehkan dan tidak dianggap oleh kebanyakan manusia.
- Ketika hati kita terluka yang teramat dalam, maka saat itu kita sedang belajar tentang memaafkan.
Rasul yang mulia, Muhammad saw selalu diuji dengan berbagai ujian. Salah satunya beliu difitnah sebagai pemberontak, radikal, intoleran, tukang sihir, pemecah belah, fundamintalis. Akan tetapi beliau selalu memberikan maaf pada siapun.
- Ketika kita lelah dan merasa kecewa, maka saat itu kita sedang belajar tentang kesungguhan.
Nabi Nuh as berdakwah selama 800 tahun dan pengikutnya hanya 80 orang. Luar biasa sabarnya.
- Ketika kita merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kita sedang belajar tentang ketangguhan.
Nabi Yunus berdakwah bertahun tahun, akan tetapi tidak ada satupun yang menerima ajakan beliau.
- Ketika kita harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kita tanggung, maka saat itu kita sedang belajar tentang Kemurahhatian.
Rasul saw pernah membagi-bagikan 100 ekor Onta kepada setiap kepala suku hunaen yang baru masuk islam. Jumlah yang beliau berikan lebih dari 1000 ekor onta. (*)
