Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) berupaya mengatasi persoalan pernikahan dini dan memperkuat ketahanan keluarga Indonesia. Sinergi ini ditandai dengan pertemuan Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji di Kantor Kemenag Lapangan Banteng, Jakarta.
Menag Nasaruddin Umar menyoroti pentingnya data kependudukan sebagai rujukan kebijakan. Ia menyebutkan bahwa data keluarga yang beririsan dengan Kemenag saat ini menunjukkan kondisi yang cukup memerlukan penanganan serius dari hulu ke hilir.
“Saya setuju bahwa jika persoalan keluarga bisa kita atasi, maka berbagai persoalan lainnya akan jauh lebih mudah diselesaikan. Tidak ada artinya pertumbuhan ekonomi dan pemerataan jika institusi keluarga tidak bahagia, karena hal itu berdampak langsung pada pembangunan manusia,” tegas Menag, Selasa (5/5/2026).
Merespons hal tersebut, Mendukbangga Wihaji memaparkan terkait program ELSIMIL (Elektronik Siap Nikah dan Hamil). Program ELSIMIL merupakan program aplikasi dari Kemendukbangga untuk mendeteksi dini faktor risiko stunting pada calon pengantin (catin) melalui skrining kesehatan dan edukasi. Wihaji menekankan bahwa dari upaya ini merupakan salah bentuk upaya penguatan keluarga dengan berpokok pada nilai-nilai agama.
“Dari 1,5 juta pasangan yang menikah tahun lalu, tercatat 632.861 atau sekitar 42 persen sudah mengikuti ELSIMIL. Kami berharap angka ini terus meningkat melalui kolaborasi di tingkat Kantor Urusan Agama (KUA),” papar Wihaji.
Menyambung gagasan tersebut, Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin mengusulkan adanya penguatan regulasi melalui Peraturan Menteri Agama (PMA). Ia mewacanakan penyisipan pasal yang mewajibkan Sertifikat ELSIMIL sebagai salah satu persyaratan bagi calon pengantin (catin).
“Selama ada jaminan eksekusi di lapangan dari pihak Kemendukbangga, saya sangat sependapat untuk memasukkan poin tersebut ke dalam aturan kita. Ini langkah konkret untuk memastikan kesiapan catin,” ujar Kamaruddin.
Sementara itu, Dirjen Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menambahkan bahwa selama ini kolaborasi antara penghulu, penyuluh agama, dan tim BKKBN di lapangan sudah berjalan cukup masif. Pertemuan ini akan menjadi momentum untuk memastikan seluruh catin yang berjumlah sekitar 1,5 juta per tahun memiliki akses terhadap ELSIMIL.
“Kita akan cari bottleneck (kendala utama) di lapangan untuk mendorong persentase kepesertaan. Promosi di tingkat KUA sudah jalan, kini tinggal kita akselerasi,” jelas Abu Rokhmad. (*/tim)
