Pada saat yang sama, pembangunan ekonomi tidak akan kokoh tanpa akhlak. Amanah menurunkan biaya pengawasan. Kejujuran memperkuat transaksi. Menepati kontrak meningkatkan kepercayaan. Disiplin menaikkan produktivitas. Menolak korupsi membuat anggaran publik bekerja lebih efektif.
Dengan bahasa ekonomi, akhlak merupakan salah satu bentuk modal institusional. Tetapi kita juga harus menghindari romantisme, manusia baik saja tidak cukup. Pemimpin yang saleh tetap perlu diaudit. Pengusaha yang dikenal jujur tetap harus tunduk pada aturan persaingan. Pejabat yang amanah tetap membutuhkan sistem pengendalian konflik kepentingan. Masyarakat yang sehat mempertemukan karakter yang baik dengan institusi yang transparan. Kesalehan pribadi harus tumbuh menjadi akuntabilitas publik.
Krisis lain yang semakin terasa adalah hedonisme dan konsumerisme. Islam tidak mengajarkan permusuhan terhadap kesejahteraan. Kekayaan yang halal, rumah yang layak, pendidikan yang baik, makanan yang bermutu, dan kehidupan nyaman adalah bagian dari nikmat yang dapat disyukuri. Masalah muncul ketika konsumsi berubah menjadi identitas dan keinginan menjadi penguasa diri. Kita membeli bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin terlihat berhasil. Kita berutang untuk mempertahankan simbol status. Kita menghabiskan masa depan demi kepuasan sesaat.
Padahal pembangunan membutuhkan kemampuan menunda kenikmatan. Mahasiswa belajar bertahun-tahun sebelum memperoleh hasil; pengusaha menahan keuntungan untuk investasi; sebuah negara membiayai riset hari ini agar memiliki teknologi esok hari. Puasa, kesederhanaan, dan pengendalian diri dengan demikian memiliki dimensi peradaban, semuanya melatih manusia agar memiliki keinginan tanpa diperbudak oleh keinginan.
Pada akhirnya, persoalan terbesar kita mungkin bukan kekurangan gagasan, melainkan kegagalan mengubah gagasan menjadi institusi. Kita berbicara tentang pendidikan tetapi belum membangun budaya membaca yang kuat. Kita menyerukan kemandirian tetapi investasi pada riset sering dianggap biaya, bukan masa depan. Kita berbicara tentang ekonomi umat tetapi lebih mudah menggerakkan konsumsi daripada produksi. Kita menyerukan amanah tetapi terkadang membiarkan sistem yang tidak transparan. Kita berbicara tentang persatuan tetapi menikmati konflik.
Di sinilah kepemimpinan harus dimaknai lebih dalam. Pemimpin bukan sekadar orang yang mampu berpidato atau menggerakkan massa. Kepemimpinan adalah kemampuan mengubah nilai menjadi tata kerja, tata kerja menjadi institusi, dan institusi menjadi manfaat yang bertahan melampaui masa jabatan seseorang.
Karena itu kebangkitan tidak boleh direduksi menjadi proyek politik, slogan ekonomi, atau romantisme masa lalu. Kebangkitan adalah proses panjang membangun manusia yang beriman sekaligus berilmu, berakhlak sekaligus kompeten, percaya diri sekaligus terbuka, mandiri sekaligus mampu bekerja sama. Ia tumbuh dari keluarga yang menghargai pendidikan, sekolah yang mengajarkan berpikir, pasar yang menjaga kejujuran, pengusaha yang menciptakan pekerjaan, ilmuwan yang tekun meneliti, birokrat yang menjaga amanah, masyarakat yang sanggup berbeda tanpa bermusuhan, serta pemimpin yang lebih mencintai institusi daripada kultus terhadap dirinya sendiri.
Maka pertanyaan terpenting bagi kita bukan lagi siapa yang harus disalahkan atas kelemahan yang ada. Pertanyaannya adalah, apa yang dapat kita perbaiki mulai hari ini? Apa yang perlu kita produksi sendiri? Pengetahuan apa yang harus kita kuasai? Institusi apa yang harus diperkuat? Kebiasaan apa yang harus dihentikan? Dan warisan apa yang hendak kita tinggalkan kepada generasi berikutnya?
Kita tidak membutuhkan masyarakat yang hanya pandai marah kepada keadaan. Kita membutuhkan masyarakat yang mampu mengubah keadaan. Tidak cukup saleh; harus kompeten. Tidak cukup pintar; harus berintegritas. Tidak cukup kaya; harus produktif. Tidak cukup merdeka; harus berdaulat atas pilihan masa depannya. Sebab kebangkitan sesungguhnya dimulai ketika keyakinan berhenti menjadi slogan dan berubah menjadi ilmu, kerja, keberanian, institusi, serta manfaat nyata bagi sesama. (*)
