Sering kita mendengar atau bahkan merasakan sendiri bahwa ketika seseorang telah meninggal dunia, jasadnya terasa lebih berat saat diangkat. Padahal, jika dilihat secara kenyataan, berat badan seseorang tidak bertambah hanya karena kematian. Lalu apa sebenarnya penyebabnya?
Penjelasan Ilmiah
• Otot kehilangan tonus: Saat masih hidup, otot manusia punya sedikit kontraksi alami (tonus otot) yang membantu menjaga bentuk tubuh. Setelah mati, otot benar-benar lemas sehingga tubuh menjadi “pasif” dan sulit untuk digenggam atau diangkat.
• Distribusi berat berubah: Tubuh hidup bisa menyesuaikan posisi untuk memudahkan orang lain mengangkatnya. Mayat tidak bisa melakukan itu, sehingga berat terasa lebih “mati” dan tidak seimbang.
• Kekakuan mayat (rigor mortis): Beberapa jam setelah kematian, otot menjadi kaku. Tubuh yang kaku lebih sulit diatur posisinya, sehingga terasa lebih berat meski massa sebenarnya tidak berubah.
• Persepsi psikologis: Orang yang mengangkat mayat sering kali merasa ada beban emosional atau rasa takut. Faktor psikologis ini bisa membuat tubuh terasa lebih berat daripada kenyataannya
Perspektif Budaya
Dalam banyak tradisi, ada keyakinan bahwa “roh” meninggalkan tubuh sehingga tubuh menjadi sekadar jasad. Hal ini sering dikaitkan dengan kesan bahwa tubuh yang sudah tidak bernyawa terasa lebih berat, karena tidak ada “energi kehidupan” yang membuatnya ringan.
Jadi sebenarnya berat fisik tidak berubah, tetapi cara tubuh bereaksi terhadap gerakan dan cara kita merasakannya yang membuat mayat terasa lebih berat
Lalu bagaimana dengan asumsi bahwa mayat menjadi berat karena dosa?
Dalam Islam, tidak ada dalil yang menyatakan bahwa jasad menjadi berat secara fisik karena dosa. Berat atau ringan mayat saat diangkat lebih terkait dengan faktor fisik dan psikologis, sedangkan “berat karena dosa” adalah simbolik dalam ranah kepercayaan dan nasihat moral.
Pandangan Islam tentang Mayat dan Dosa
• Tidak ada dalil syar’i: Al-Qur’an maupun hadis tidak menyebutkan bahwa jasad orang berdosa akan terasa lebih berat ketika diangkat.
• Simbolik dan nasihat: Ungkapan “mayat berat karena dosa” biasanya muncul dalam ceramah atau tradisi lisan sebagai peringatan moral agar manusia menjauhi dosa.
• Hakikat dosa: Dalam Islam, dosa bukanlah beban fisik pada tubuh, melainkan beban spiritual yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Allah berfirman bahwa setiap jiwa akan memikul amalnya sendiri (QS. Al-An’am: 164).
قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah aku (pantas) mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap orang yang berbuat dosa, dirinya sendirilah yang akan bertanggung jawab. Seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian, kepada Tuhanmulah kamu kembali, lalu Dia akan memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.”
• Roh dan jasad: Setelah kematian, roh meninggalkan jasad. Berat badan tetap sama, tetapi jasad kehilangan daya gerak dan tonus otot sehingga terasa lebih sulit diangkat
Dalam pandangan ahlu sunnah, anggapan ini tidak memiliki dalil yang shohih. Tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an atau Hadits yang menyatakan bahwa dosa manusia menyebabkan jasadnya menjadi berat saat diangkat.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Isro’: 85
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Artinya: Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.”
Ayat ini mengajarkan bahwa perkara ghoib harus di batasi dengan wahyu. Kita tidak menetapkan sebab-sebab yang tidak ada dalilnya.
Dalam kaidah ahlu sunnah disebutkan: “Perkara ghoib tidak boleh di tetapkan kecuali dengan dalil.”
Maka dari sini dapat kita simpulkan, mengaitkan beratnya mayat dengan dosa adalah keyakinan yang tidak berdasar dan tidak boleh diyakini. Jasad manusia tidak menjadi lebih berat setelah meninggal. Rasa berat itu muncul karena tubuh sudah tidak memiliki kekuatan, tidak bisa menopang diri, dan menjadi beban pasif sepenuhnya. Adapun mengaitkannya dengan dosa, maka itu tidak memiliki landasan dalam Al-Qur’an maupun hadis. (*)
