Kepulan Asap Nasi Goreng Mengantarkan Irwan Jadi Sarjana Cumlaude

Kepulan Asap Nasi Goreng Mengantarkan Irwan Jadi Sarjana Cumlaude
www.majelistabligh.id -

Di balik harum gurih aroma nasi goreng dan kepulan asap wajan di depan RS Siti Khodijah Pekalongan, ada sebuah perjuangan senyap yang berbuah manis. Di sanalah Irwan saban malam mengadu nasib, menumis asa demi impian yang tak boleh padam: menempuh pendidikan tinggi dan mengangkat harkat keluarganya.

Rabu, 14 Oktober 2026 menjadi pembuktian atas ikhtiar panjang tersebut. Dengan senyum haru dan toga yang membingkai tubuhnya, pemuda berbudi pekerti santun ini resmi dikukuhkan sebagai Sarjana Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Tak sekadar lulus tepat waktu dalam rentang 3,5 tahun, Irwan menyandang predikat kehormatan: cumlaude.

Langkah kaki Irwan menuju tangga kelulusan bukanlah karpet merah yang lapang. Sejak kelas 2 SMP, bahu ringkihnya sudah dituntut menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Badai menghantam saat sang ayah terserang stroke, kondisi kesehatan yang kian menurun selama delapan tahun terakhir.

Tak ingin roda kehidupan keluarganya berhenti, Irwan mengambil alih kemudi. Gerobak nasi goreng milik ayahnya ia teruskan. Dari gerobak kayu itulah lahir rupiah demi rupiah yang tidak hanya untuk menyambung dapur rumah, tetapi juga membiayai pendidikannya hingga ke perguruan tinggi.

Tidur Hanya Empat Jam Sehari

Menjalani kelas reguler di perguruan tinggi sembari melakoni pekerjaan malam menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Saban hari, jadwal hidup Irwan teratur begitu ketat dan menguras tenaga.

Selepas menimba ilmu dari pagi hingga sore di kampus, ia tak punya waktu untuk bersantai. Menjelang petang, ia bersiap meracik bumbu. Setelah gema maghrib berkumandang, ia mulai berdiri di balik gerobak hingga dini hari, sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIB.

“Praktis saya hanya tidur sekitar empat jam sehari. Kalau ada jeda kuliah di siang hari, baru saya gunakan untuk rehat sejenak,” tutur Irwan mengenang ritme hidupnya.

Tak cukup di situ, demi mengantisipasi pendapatan nasi goreng yang kadang rame kadang sepi, Irwan mengepakkan sayapnya sebagai pelatih renang di Kabupaten Batang—seperti di kolam renang THR Kramat dan Disparpora Batang. Profesi sampingan ini telah ia geluti selama beberapa tahun terakhir.

Hampir Angkat Bendera Putih di Awal Jalan

Jalan terjal sempat membuat pertahanan batinnya bergoyang. Pada semester pertama, tinggi nominal Uang Kuliah Tunggal (UKT) sempat memunculkan niat untuk mundur.

Namun, kepasrahan bukanlah pilihannya. Dengan negosiasi dan tekad baja, ia mencicil biaya kuliahnya sedikit demi sedikit. Untuk menunjang penyusunan tugas akhir (skripsi), ia bahkan menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membeli laptop sendiri.

Dukungan moral dan doa dari orang tua serta saudara-saudaranya menjadi benteng terakhir yang membuatnya enggan bertekuk lutut pada keadaan.

Ketekunan Irwan meninggalkan kesan mendalam bagi civitas akademika UMPP. Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani UMPP, Riski Aditya, tak sanggup menyembunyikan rasa bangganya atas capaian sang mahasiswa.

“Irwan sangat rajin, nilai akademiknya konsisten bagus, dan ia juga memiliki kompetensi sebagai wasit renang. Kami dari prodi sangat bangga atas perjuangan luar biasa yang ia tunjukkan,” ungkap Riski.

Bagi Irwan, gelar sarjana dan predikat cumlaude ini bukanlah garis akhir, melainkan gerbang awal. Berbekal pengalaman mengajar di SDN Poncol 2 serta keahliannya di bidang olahraga, ia bertekad bulat melangkah ke pengabdian berikutnya: menjadi seorang guru olahraga.

Dari gerobak nasi goreng di tepi jalan kota Pekalongan, Irwan telah membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok tebal penutup masa depan, melainkan tempaan yang melahirkan pribadi berjiwa baja. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search