Keresahan Guru TPQ: Mendongkrak Kualitas di Tengah Keterbatasan Fasilitas

Para guru TPQ Muhammadiyah saat mengukuti Upgrading di Kantor PWM Jatim. (mas)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Dari sudut-sudut masjid, di atas hamparan karpet yang terkadang sudah menipis, di situ ada suara riuh rendah anak-anak mengeja Alif, Ba, Ta bergema setiap sore. Itulah potret Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan tantangan besar yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata jika kita ingin mencetak generasi emas 2045.

Sabtu, 25 April 2026 lalu, sebuah momentum krusial terjadi di Jawa Timur. Divisi Pengelolaan dan Pembinaan TPQ Muhammadiyah, Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, bersinergi dengan LAZISMU KP Jawa Timur, menggelar acara “Upgrading dan Penyerahan Kado untuk Guru Ngaji TPQ Muhammadiyah Jawa Timur”. Acara ini bukan sekadar seremonial bagi-bagi bingkisan, melainkan sebuah pengingat bagi kita semua tentang pentingnya standardisasi dan kesejahteraan pejuang literasi Al-Qur’an.

Sekitar 100 ustaz dan ustazah dari Surabaya dan Sidoarjo berkumpul dengan satu keresahan yang sama, bagaimana meningkatkan kualitas di tengah keterbatasan. Data lapangan menunjukkan disparitas yang mencolok. Ada TPQ yang membina lebih dari 200 santri, namun banyak pula yang hanya memiliki kurang dari 25 santri.

Masalahnya bukan pada jumlah santri, melainkan pada infrastruktur. Hingga saat ini, masih banyak TPQ yang beroperasi “ala kadarnya”. Belajar di pojok masjid tanpa bangku, tanpa papan tulis, bahkan tanpa buku penunjang yang memadai adalah pemandangan lazim.

Menurut data Kementerian Agama RI (2023), jumlah TPQ di Indonesia mencapai lebih dari 134.000 lembaga dengan jutaan santri. Jika infrastruktur dasar saja diabaikan, bagaimana kita bisa mengharapkan output pendidikan yang kompetitif secara global?

Guru TPQ Sebuah Pengabdian

Kita harus bicara jujur bahwa kesejahteraan guru TPQ di Indonesia masih berada jauh di bawah garis kelayakan. Di acara upgrading tersebut, terungkap fakta bahwa para guru ini bekerja atas dasar pengabdian mutlak demi rida Allah. Mereka menghadapi santri yang kurang fokus, butuh perhatian khusus, hingga yang kerap membuat onar, semuanya dihadapi dengan sabar dan tawakal.

Mengandalkan “keikhlasan” saja untuk membangun sistem pendidikan yang kuat adalah sebuah kenaifan kolektif. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai rata-rata upah tenaga pendidik informal, angka yang diterima guru ngaji seringkali tidak sampai 20% dari Upah Minimum Regional (UMR).

Muhammadiyah Jawa Timur menyadari hal ini. Melalui sinergi Majelis Tabligh dan LAZISMU, pemberian “kado” adalah simbol penghormatan. Namun langkah strategis ke depan adalah bagaimana mendorong sistem pengupahan yang lebih tebal bagi para penjaga gawang moral bangsa ini.

Muhammadiyah kini mulai mengambil langkah strategis. TPQ tidak boleh lagi hanya menjadi tempat “ngaji tiap sore” yang bersifat selingan. TPQ harus bertransformasi menjadi lembaga pendidikan Al-Qur’an yang memiliki kurikulum terstruktur.

Transformasi ini mencakup:

  1. Integrasi Keterampilan: Santri tidak hanya diajar membaca (tilawah), tapi juga dibekali keterampilan praktis dan wawasan keislaman yang luas.
  2. Standardisasi Pengajaran: Menggunakan metode yang ramah anak namun tetap disiplin dalam tajwid dan makhraj.
  3. Modernisasi Fasilitas: Mengubah “pojok masjid” menjadi ruang kelas yang representatif agar anak-anak merasa bangga dan nyaman belajar agama.

Langkah ini penting karena TPQ adalah fase di mana pendidikan Qur’ani menyentuh kalbu anak untuk pertama kalinya. Jika pengalaman pertama mereka belajar agama dilingkupi oleh fasilitas yang seadanya dan metode yang membosankan, maka sulit bagi mereka untuk belajar Al-Qur’an yang menyenangkan.

Perlunya Perhatian Semua Pihak

Masa depan TPQ sangat bergantung pada empat pilar: Semangat guru yang tinggi, kurikulum yang bagus, fasilitas memadai, dan kesejahteraan yang terjamin. Kita tidak bisa membiarkan para ustaz dan ustazah berjuang sendirian.

Komitmen Majelis Tabligh Muhammadiyah Jawa Timur dan LAZISMU harus didukung oleh kesadaran wali santri dan masyarakat luas. Berhenti menganggap remeh iuran TPQ. Berhenti menganggap bahwa guru ngaji cukup dibayar dengan “terima kasih”.

Jika kita ingin melihat generasi masa depan yang berwawasan luas dan berkarakter Qur’ani, maka investasi terbesar kita harus dimulai dari sekarang, dari bangku-bangku TPQ yang selama ini kurang banyak mendapatkan perhatian. Transformasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan jika kita tidak ingin kehilangan generasi.

Saatnya kita bergerak, dari sekadar “ngaji” menuju institusi pendidikan yang membanggakan. Karena di tangan anak-anak itulah, masa depan peradaban ini diletakkan. Para pemimpin Muhammadiyah yang akan datang, bisa jadi dimulai dari TPQ. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search