Bangsa dunia saat ini sedang terjadi pergeseran hamparan spiritual. Riuh modernitas dan pemujaan terhadap rasionalisme murni telah membuat gereja-gereja di Eropa mulai berdebu. Tuhan mereka seolah ditinggalkan dari ruang publik, digantikan oleh logika dingin yang seringkali gagal memberi hangat pada jiwa yang sunyi.
Di sisi lain, sebuah fenomena menarik muncul ke permukaan, bahwa bangunan-bangunan sakral yang dulunya menggaungkan dentang lonceng, kini mulai melantunkan suara gema azan yang syahdu. Fenomena ini bukan sekadar perpindahan fungsional properti, melainkan sebuah narasi tentang bagaimana Islam mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh sekularisme.
Di belahan bumi Barat, tren meninggalkan agama bukanlah hoax. Data dari Pew Research Center menunjukkan penurunan drastis jumlah jemaat gereja di Eropa dan Amerika Utara. Generasi muda lebih memilih “logika” dan “humanisme” daripada dogma agama yang dianggap kaku. Akibatnya, banyak bangunan gereja terbengkalai, menjadi beban pajak, atau bahkan berakhir menjadi kelab malam dan perpustakaan.
Di tengah kekosongan spiritual tersebut, dakwah Islam hadir dengan tawaran rasionalitas yang tetap terjaga kesuciannya. Islam tidak memusuhi logika, justru mengajak akal untuk bersujud. Inilah yang mendasari transformasi fisik banyak bangunan ibadah di dunia.
Hagia Sophia Hingga Katedral St Justus and St Pastor
Contoh paling ikonik dari transformasi ini adalah Hagia Sophia di Istanbul, Turki. Awalnya dibangun sebagai katedral megah Bizantium, bangunan ini sempat menjadi masjid selama berabad-abad, lalu menjadi museum, dan kini kembali berfungsi sebagai pusat ibadah umat Muslim. Bangunan ini adalah simbol kemenangan sejarah sekaligus kesinambungan pesan teologi monoteisme.

Transformasi yang lebih “modern” dan strategis dapat kita lihat di jantung Spanyol. Katedral St Justus and St Pastor. Sebuah katedral Katolik Roma yang terletak di Alcala de Henares, Madrid, Spanyol. Bangunan ini dikenal dengan nama lengkap Magisterial Cathedral of Saints Justo and Pastor, sebuah tempat yang kaya akan sejarah keagamaan dan budaya.
Gereja di Madrid ini kini sedang progres menuju berpindah tangan. Melalui inisiatif progresif, Muhammadiyah Jawa Timur tertarik dengan bangunan tersebut untuk disulap menjadi masjid sekaligus pusat dakwah, sebuah amanah dari PP Muhammadiyah. Tinggal menunggu waktu.
Jika langkah ini berjalan mulus, maka ini bukanlah sekadar “akuisisi”, melainkan sebuah bukti bahwa Islam hadir di Eropa bukan sebagai penjajah, melainkan sebagai teman yang membawa cahaya. Di Madrid, gedung itu akan menjadi saksi bagaimana nilai-nilai Al-Ma’un diterjemahkan dalam bahasa universal, melayani kebutuhan spiritual sekaligus sosial masyarakat setempat.
Meski dakwah Islam di kancah internasional berkembang pesat, jalan menuju cahaya tidak pernah luput dari kerikil tajam. Di Jepang misalnya, sebuah negara yang dikenal dengan sopan santunnya, kini mulai muncul riak-riak Islamophobia. Melalui media sosial, fitnah terhadap komunitas Muslim lokal disebarkan secara sistematis, menciptakan dinding prasangka di tengah masyarakat yang homogen.
Sementara itu, di Prancis, wajah sekularisme yang agresif (Laïcité) seringkali berubah menjadi alat penindasan. Pemaksaan pelepasan jilbab di ruang publik bukan lagi sekadar isu hukum, melainkan luka bagi hak asasi manusia. Muslimah di sana menghadapi dilema antara identitas iman dan tuntutan negara yang kadang terasa menyesakkan.
Peran Muhammadiyah
Lantas, bagaimana organisasi seperti Muhammadiyah menjawab tantangan global yang kompleks ini? Muhammadiyah tidak menjawab kebencian dengan amarah, melainkan dengan intelektualisme dan pemberdayaan. Di antaranya adalah:
- Diplomasi Kebudayaan dan Pendidikan. Muhammadiyah mengatasi Islamophobia dengan menunjukkan “wajah Islam” yang sebenarnya. Melalui jaringan sekolah dan universitasnya, Muhammadiyah membangun narasi bahwa Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Di Jepang atau Spanyol, kehadiran Muhammadiyah bukan untuk berdebat kusir, melainkan untuk membangun pusat-pusat keunggulan yang memberi manfaat nyata bagi warga lokal (non-Muslim sekalipun).
- Internasionalisasi Dakwah Berbasis Solusi. Muhammadiyah tidak hanya mengirim dai, tapi mengirim solusi. Proses membeli gereja di Madrid adalah strategi “soft power“. Bangunan tersebut menjadi pusat dialog antariman, tempat di mana orang Eropa bisa bertanya tentang Islam tanpa rasa takut. Strategi ini mematahkan stigma negatif lebih efektif daripada sekadar retorika di podium.
- Advokasi dan Literasi Digital. Untuk melawan fitnah di media sosial seperti yang terjadi di Jepang, Muhammadiyah melalui sayap mudanya, terutama PCIM setempat, perlu memperkuat literasi digital. Melawan konten negatif dengan konten kreatif yang menunjukkan sisi humanis umat Islam adalah kunci.
Dunia mungkin sedang berubah, dan bangunan-bangunan tua mungkin berganti nama. Namun, esensi dari pencarian manusia terhadap Tuhan akan tetap sama. Perubahan gereja menjadi masjid di berbagai belahan dunia adalah pengingat bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya, bahkan melalui lorong-lorong logika yang paling sempit sekalipun.
Muhammadiyah, dengan semangat “Islam Berkemajuan”, telah membuktikan bahwa dakwah tidak harus dilakukan dengan kekerasan, melainkan dengan pena, amal usaha, dan kerendahan hati. Di bawah langit Madrid atau di tengah hiruk-pikuk Tokyo, muazin terus mengumandangkan azan, mengajak manusia untuk kembali pada fitrahnya, selalu bersujud kepada Sang Pencipta dalam kedamaian. (*)
