Ketika Kebenaran Terbentur Relasi Kuasa: Teladan KH Ahmad Dahlan

Ketika Kebenaran Terbentur Relasi Kuasa: Teladan KH Ahmad Dahlan
*) Oleh : Agus Rosid
Pekerja Sosial dan Mantan Aktivis Pemuda Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Bagi yang pernah menjadi aktivis pergerakan tentu tidak asing dengan jargon yang memotivasi untuk tidak takut menyuarakan kebenaran. Jargon itu mengutip penggalan hadits yang berbunyi: “Katakanlah kebenaran walaupun pahit adanya.” (HR. Ibnu Majah, Shahih)

Sederhananya, setiap diri dituntut untuk membangun agar berkata benar jika memang benar walaupun dapat celaan ataupun cemoohan, dan berani mengakui kesalahan jika memang salah.

Masalahnya, ketika terjun ke lapangan dan berhadapan dengan berbagai karakter masyarakat, idealisme tersebut terasa sulit diterapkan, terutama dalam hubungan yang tidak seimbang.

Ketika berhadapan dengan masyarakat yang serba kekurangan secara ekonomi, kita cenderung mudah menasihati mereka agar menempuh jalan rezeki yang halal, tanpa tergiur cara-cara yang tidak diridhai.

Sebaliknya, ketika berada di lingkungan yang posisi kita sebagai bawahan, maka akan lebih banyak diam ketimbang bersuara demi menyampaikan kebenaran. Relasi kuasa yang timpang semakin mengukuhkan idiom bahwa diam itu emas.

Namun, keberanian untuk berkata benar bukan semata soal nyali pribadi. Praktiknya, kita selalu berhadapan dengan bayang kekuasaan yang tidak terlihat, tetapi terasa nyata. Semakin tinggi posisi seseorang di hadapan kita, semakin kelu ucapan yang sesuai antara hati dan lisan hendak kita sampaikan, justru tergantikan dengan satu kata: “siap!” yang mewarnai sepanjang komunikasi.

Ini terjadi ketika kita menjadi bagian dari sistem di sebuah instansi. Dalam pembahasan revisi anggaran, terdapat deretan angka pengeluaran yang janggal peruntukannya. Seluruh peserta rapat mengetahuinya. Namun, sebelum diskusi berjalan, pimpinan telah memberikan arahan: “Ikuti saja seperti yang kemarin, aman kok.” Akhirnya, satu per satu mengangguk. Kita yang semula ingin menyanggah, hanya mampu menjawab: “Siap, Pak.”

Di sinilah dapat dipahami mengapa hadis tersebut mudah diucapkan di luar relasi kuasa, tetapi sangat berat diterapkan di lingkungan relasi kuasa yang tidak berimbang. Bukan karena kita diam saja mengetahui mana yang benar, melainkan karena yang dipertaruhkan bukan sekadar argumen, melainkan posisi kita selanjutnya.

Padahal di hadits lain, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)

Namun dalam kenyataannya, hadis tentang mengubah kemungkaran ini sering berubah fungsi. Makna semestinya menjadi dorongan untuk tetap berbuat sesuai kadar kemampuan, justru dijadikan pembenaran untuk tidak berbuat apa-apa. Selama kemungkaran itu tidak menyentuh diri kita secara langsung, dianggap selesai dengan “menolak dalam hati”.

Kalimat ‘daripada dipecat, cari aman’ atau ‘daripada ramai, mengalah’ bahkan ‘daripada dimusuhi, diam’ menjadi kunci normalisasi kemungkaran, meskipun dalam hati tekad untuk menyuarakan kebenaran masih menyelinap.

Kondisi ini dapat dipahami karena kita masih mengkhawatirkan kehilangan hal-hal duniawi ketika berseberangan dengan sistem di mana kita berada di dalamnya.

Di sinilah ujian nyata sebagai aktivis dimulai. Semangat gerakan yang bertitik tolak untuk amar ma’ruf nahi munkar, berhadapan dengan nilai-nilai yang tidak selaras dengan kebenaran dan keadilan.

Menegakkan kebenaran di tengah relasi kuasa memang butuh cara main yang cerdas, bukan sekadar letupan emosi sebagai aktivis. Dalam hal ini, kita harus bertransformasi dari aktivis yang piawai berteori di atas mimbar, menjadi penggerak yang jeli membaca situasi sosial dan lihai merajut strategi di akar rumput.

Sesungguhnya kalimat “Katakanlah kebenaran walaupun pahit adanya” bukan sekadar perintah untuk berani terbuka, melainkan panggilan iman untuk menakar cara terbaik agar kebenaran itu bisa diterima, membumi, dan memenangkan kemaslahatan umat.

Kita bisa bercermin pada KH A Dahlan. Ketika meyakini arah kiblat Masjid Kauman Yogyakarta tidak tepat, beliau menyampaikan temuan itu perlahan kepada penghulu, dengan basis keilmuannya dan pendekatan persuasif. Cara yang ditempuh sangat taktis dengan meluruskan kekeliruan tanpa meruntuhkan marwah ulama keraton.

Sikap yang sama terlihat saat beliau ke Banyuwangi tahun 1916. Di sana dakwah Muhammadiyah ditolak keras, bahkan ada ancaman pembunuhan karena dianggap mengusik model keberagamaan warga setempat. Tapi beliau tetap datang. Bukan dengan konfrontasi, tapi dengan dialog dan kesabaran. Hasilnya, kebenaran yang beliau bawa akhirnya diterima.

Dari sini jelas kita mendapatkan teladan bahwa berani itu bukan berarti nekat. Berani itu tahu kapan harus maju, dan bagaimana caranya supaya kebenaran bisa masuk tanpa merusak jembatan.

Kita harus kembali instropeksi pada batas kapasitas diri. Hadis tentang mengubah kemungkaran dengan tangan, lisan, hingga hati adalah panduan yang realistis, bukan alasan menjadi pengecut.

Jika setelah menimbang risiko posisi kita tetap terlalu rentan, maka “menolak dalam hati” adalah terminal terakhir yang sah. Tapi dengan catatan, di situ harus jadi tempat mengumpulkan nyali lagi, bukan tempat idealisme mati.

Jadi kalau sekarang kita masih harus diam, pastikan diam itu bukan karena takut. Tapi karena kita lagi menyusun cara biar suara kita didengar besok. Sembari menahan diri dalam diam yang terpaksa, kita tetap menjaga nyala api kebenaran di dalam dada, bersiap untuk kembali tegak berdiri tanpa harus kalah atau menyerah seperti benang basah yang lunglai. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search