Penampilan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam pementasan teater lenong Lela Oh Lela menuai apresiasi luas.
Pementasan yang menjadi pembuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Seni Budaya (LSB) PP Muhammadiyah ini dinilai menjadi simbol kuat komitmen organisasi dalam menempatkan seni budaya sebagai instrumen dakwah yang berkemajuan.
Berkolaborasi dengan Teater LSB Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat malam (10/7/2026), aksi panggung Abdul Mu’ti sukses mencuri perhatian penonton.
Sekretaris LSB PP Muhammadiyah, Faris Al Fadhat, mengaku terkesan dengan totalitas Abdul Mu’ti. Menurutnya, ini adalah momen langka di mana seorang pejabat setingkat menteri tampil penuh dari awal hingga akhir pertunjukan teater tradisional Betawi tersebut.
“Sangat mengejutkan. Pak Menteri Mu’ti bermain penuh dari awal sampai akhir. Bahkan, mungkin beliau adalah menteri pertama yang berakting langsung di panggung lenong,” ungkap Faris.
Meski hanya memiliki waktu persiapan dan pengarahan (briefing) yang sangat singkat, Abdul Mu’ti dinilai mampu tampil lepas dan menyatu dengan para pemain lainnya. “Beliau sangat natural dan cepat beradaptasi meskipun latihannya sebentar,” tambahnya.
Seni untuk Melembutkan Hati
Ketua PP Muhammadiyah, Irwan Akib, menegaskan bahwa seni memiliki peran vital dalam membentuk karakter dan mengasah kepekaan rasa manusia. Kehadiran seni budaya dinilai mampu menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat dengan cara yang lebih halus.
“Salah satu penyebab mengerasnya hati anak-anak kita adalah karena kurang tersentuh oleh seni. Oleh karena itu, penting untuk memasukkan seni dan budaya sebagai instrumen dakwah persyarikatan,” jelas Irwan.
Senada dengan hal itu, Wakil Ketua III LSB PP Muhammadiyah, Sarjilah, menyebut keterlibatan langsung jajaran pimpinan pusat ini mengirimkan pesan penting ke seluruh daerah bahwa Muhammadiyah tidak pernah memusuhi seni.
“Agenda ini membuktikan bahwa Muhammadiyah tidak anti-seni budaya. Kehadiran Pak Menteri memberikan teladan nyata yang diharapkan bisa menular seperti ‘virus kebaikan’ ke pengurus LSB di tingkat wilayah (daerah),” ujar Sarjilah.
Melalui Rakernas ini, LSB target melahirkan rekomendasi dan langkah strategis yang akan dibawa ke Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Medan pada tahun 2027. Target besarnya adalah membangun ekosistem seni yang mencerahkan, komunikatif, serta membumi di tengah masyarakat. (*/tim)
