#Sebuah Renungan Ringan tentang Adab, WhatsApp, dan Kebijaksanaan Digital
Di zaman ini, ada satu bunyi yang mampu membuat jantung berdebar tanpa harus jatuh cinta: “ting!” Notifikasi WhatsApp. Ketika bunyi itu muncul bertubi-tubi, kita segera membuka ponsel dengan harapan menemukan kabar penting. Ternyata isinya begini:
“Assalamu’alaikum…”
Lalu di bawahnya berjejer:
“Wa’alaikumussalam.”
“Wa’alaikum salam.”
“Waalaikumussalam warahmatullah.”
“Wa’alaikumussalam wr wb.”
“Aamiin…” (entah mengapa selalu ada yang nyasar.)
Seratus anggota grup. Delapan puluh lima balasan, belum lagi yang lewat stiker macam macam, bersahut sahutan. Yang mencari informasi penting akhirnya harus menggulir layar sejauh perjalanan mudik.
Di sinilah ironi zaman digital bermula. Niatnya ingin menghidupkan sunnah, tetapi tanpa disadari justru “menghidupkan” notifikasi seluruh anggota grup.
Padahal dalam fikih Islam terdapat kaidah yang sangat indah. Menjawab salam kepada satu kelompok hukumnya fardu kifayah. Artinya, jika satu atau beberapa orang telah menjawab salam tersebut, gugurlah kewajiban anggota lainnya. Syariat ternyata memahami bahwa manusia hidup dalam komunitas, bukan sebagai individu yang harus melakukan segala sesuatu secara serempak.
Betapa indahnya Islam. Bahkan jauh sebelum WhatsApp ditemukan, syariat sudah mengajarkan efisiensi sosial.
Sayangnya, kadang-kadang kita lebih bersemangat mengejar bunyi notifikasi daripada memahami hikmah syariat.
Ada pula fenomena yang lebih unik.
Seseorang menulis:
“Pagi…”
Lalu tiga puluh orang menjawab:
“Pagi juga…”
Yang lain menulis:
“Ass…”
Lalu dibalas:
“Wa’alaikumussalam.”
Padahal “Ass” bukanlah salam yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Bahkan dalam bahasa lain, singkatan itu bisa memiliki makna yang sama sekali berbeda. Syariat mengajarkan salam secara utuh: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Salam bukan sekadar formalitas, melainkan doa keselamatan, rahmat, dan keberkahan.
Kalau doanya lengkap, tentu lebih indah disampaikan dengan lengkap.
Namun, lengkap bukan berarti harus dipenuhi oleh seratus balasan yang identik.
Di sinilah adab digital perlu bertemu dengan fikih.
Media boleh baru, tetapi akhlak tetap lama. Teknologi berubah setiap tahun, sedangkan hikmah syariat tidak pernah kadaluwarsa.
Bayangkan jika setiap pagi dalam grup beranggotakan 500 orang semua merasa wajib menjawab salam. Sebelum informasi utama muncul, ponsel sudah kehabisan baterai, kuota internet terkuras, dan ibu rumah tangga kehilangan resep masakan yang tertimbun lautan “Wa’alaikumussalam.”
Mungkin malaikat pencatat amal tersenyum melihat niat baik itu. Namun, administrator grup diam-diam mulai mempertimbangkan untuk mematikan fitur notifikasi.
Islam selalu memilih jalan tengah.
Menghidupkan salam adalah sunnah yang agung. Menjawabnya adalah kewajiban. Namun, memahami bagaimana cara menerapkannya dalam ruang digital juga bagian dari kebijaksanaan.
Tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan oleh semua orang.
Tidak semua notifikasi adalah tanda kesalehan.
Kadang-kadang, kesalehan justru tampak dalam kemampuan menahan diri agar grup tetap nyaman dibaca.
Filsuf Yunani pernah berkata bahwa kebijaksanaan adalah mengetahui apa yang perlu dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Dalam Islam, hikmah bahkan melangkah lebih jauh: melakukan sesuatu sesuai tempat, waktu, dan kemaslahatannya.
WhatsApp hanyalah alat.
Yang menentukan nilainya adalah adab penggunanya.
Karena itu, jika seseorang mengirim salam lengkap di grup, cukup beberapa orang yang menjawab dengan baik. Yang lain tidak berdosa jika tidak ikut membalas, sebab kewajiban telah gugur. Sebaliknya, jika memang ingin membalas karena cinta kepada sunnah, lakukan dengan niat yang tulus, bukan karena takut dianggap “silent reader.”
Akhirnya, mungkin ukuran kemuliaan di grup WhatsApp bukanlah siapa yang paling cepat mengetik “Wa’alaikumussalam,” melainkan siapa yang paling banyak menghadirkan manfaat melalui pesan-pesannya.
Sebab Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Maka, mari hidupkan salam, tetapi jangan sampai menenggelamkan informasi. Mari menjaga sunnah, sekaligus menjaga kenyamanan bersama. Karena Islam bukan hanya agama yang mengajarkan ibadah, tetapi juga agama yang mengajarkan kebijaksanaan dalam setiap keadaan—termasuk ketika jempol kita sedang berada di atas layar ponsel. (*)
Referensi:
1. Al-Qur’an, Surah An-Nisa’ ayat 86: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa”.
2. Riyadhus Shalihin, Bab Salam — Menghimpun hadis-hadis sahih tentang keutamaan mengucapkan dan menjawab salam, serta adab bermuamalah sesama Muslim.
3. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab — Menjelaskan bahwa menjawab salam yang ditujukan kepada suatu kelompok hukumnya fardu kifayah, sehingga apabila telah dijawab oleh sebagian anggota, gugurlah kewajiban anggota yang lain.
4. NUOnline, Suara Muhammadiyah dan lainnya.
