KH Sa’ad Ibrahim: Filosofi Kursi dan Makna Kebaikan Sejati

KH Sa’ad Ibrahim: Filosofi Kursi dan Makna Kebaikan Sejati
www.majelistabligh.id -

Fenomena perebutan kekuasaan, jabatan, dan kedudukan sering kali diwarnai oleh ambisi besar tanpa dibarengi kesadaran substansial. Kursi yang bagus tidak menjamin yang duduk juga bagus.

Hal tersebut menjadi sorotan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. KH. Sa’ad Ibrahim, M.A., saat menyampaikan tausiyah dalam Kajian Ahad Pagi Pencerah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya yang diselenggarakan di SD Muhammadiyah 15 Surabaya, Ahad (25/10/2026).

Dalam ceramahnya, Kiai Sa’ad Ibrahim menyoroti realitas sosial politik di mana banyak orang begitu bernafsu memilih dan mengejar kursi kekuasaan karena harganya yang mahal serta perjuangannya yang terlampau keras. Fenomena ini kerap memunculkan ironi ketika sosok yang mendudukinya justru terlihat lebih kecil nilainya dibandingkan jabatan atau fasilitas yang diraihnya.

“Memilih kursi karena harganya mahal, perjuangannya keras, tapi jangan sampai kursinya lebih bagus dari orangnya. Kalau pindah kursi, pindah pada kursi yang baik. Kursi juga bukan tanda kebaikan. Kebaikan itu terjadi, saat duduk berbasis imam, teologi, dan tauhid.” Kata KH. Sa’ad Ibrahim, M.A.

Lebih lanjut, pengasuh dan ulama senior Muhammadiyah ini mengingatkan bahwa jabatan atau “kursi” kepemimpinan pada hakikatnya bukanlah sebuah ukuran mutlak atau tanda kebaikan seseorang di hadapan Allah Swt. Ketika seseorang mendapatkan kesempatan untuk berpindah atau menduduki posisi tertentu, ia berpesan agar perpindahan itu diarahkan pada kebaikan yang substansial dan senantiasa membawa kemaslahatan yang lebih luas bagi umat.

Kiai Sa’ad juga menguraikan bahwa dinamika perebutan kekuasaan duniawi sering kali melalaikan manusia dari esensi pengabdian yang sebenarnya. Banyak pihak yang menghalalkan berbagai cara demi mengamankan posisi empuk tersebut, tanpa menyadari bahwa beban moral yang dipikul di atas kursi kepemimpinan jauh lebih berat daripada sekadar menikmati fasilitas dan keistimewaannya.

Kiai Sa’ad menegaskan bahwa kemuliaan dan kebaikan yang hakiki tidak diukur dari megahnya singgasana atau tingginya jabatan yang diduduki seseorang. Kebaikan yang sejati baru akan terwujud apabila kedudukan tersebut dijalankan dengan landasan iman yang kokoh, orientasi teologis yang lurus, serta prinsip tauhid yang mendalam. Tanpa fondasi tauhid, sebuah kursi kekuasaan hanya akan menjadi sarana kesombongan dan kehampaan moral.

Pesan mendalam ini sekaligus menjadi kritik moral sekaligus pengingat bagi setiap individu agar tidak terjebak pada pengagungan simbol-simbol dunia semata. Kedudukan yang tinggi di tengah masyarakat hendaknya tidak menjadikan seseorang lupa daratan, melainkan semakin mendekatkan dirinya kepada nilai-nilai kerendahan hati dan tanggung jawab spiritual yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Melalui pesan-pesan mencerahkan ini, warga persyarikatan dan umat Islam secara umum diajak untuk senantiasa mawas diri, menempatkan orientasi kekuasaan dalam kerangka pengabdian yang benar, serta menjadikan nilai-nilai keimanan sebagai kendali utama dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search