Sibuk Memperbaiki Diri, Mengapa Harus Repot Mengurusi Hidup Orang Lain?

Sibuk Memperbaiki Diri, Mengapa Harus Repot Mengurusi Hidup Orang Lain?
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada manusia yang begitu rajin mengamati kehidupan orang lain, tetapi lupa memeriksa keadaan dirinya sendiri. Ia hafal siapa yang bercerai, siapa yang ekonominya merosot, siapa yang ibadahnya dianggap kurang, bahkan siapa yang diam-diam melakukan kesalahan. Anehnya, ketika diminta bercermin, ia justru merasa dirinya paling bersih. Seolah-olah hidupnya sudah sempurna dan hanya kehidupan orang lain yang perlu diperbaiki.

Padahal, hidup ini bukan perlombaan mencari kesalahan sesama. Kita tidak diberi tugas untuk menjadi polisi moral bagi seluruh penghuni bumi. Setiap orang memiliki perjalanan, ujian, kelemahan, dan pergulatan batin yang tidak selalu tampak di permukaan. Apa yang terlihat oleh mata belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan. Karena itu, terlalu cepat menghakimi orang lain sering kali justru menunjukkan betapa sedikitnya kita memahami kehidupan.

Dalam Islam, memperbaiki diri merupakan pekerjaan yang tidak pernah selesai. Setiap hari kita berhadapan dengan pilihan: memperbaiki salat atau sibuk mengomentari ibadah orang lain; membersihkan hati atau memelihara prasangka; memperbanyak amal atau menghitung kekurangan sesama. Sayangnya, sebagian orang lebih bersemangat membicarakan kesalahan orang lain daripada mengevaluasi dosa-dosanya sendiri. Mengoreksi orang lain terasa mudah, sedangkan mengoreksi diri sendiri sering kali menyakitkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an, surah Al-Hasyr ayat 18, agar orang-orang beriman memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Pesan ini mengajak kita melakukan introspeksi, bukan sibuk membongkar kekurangan orang lain. Sebab, kelak setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah. Kita tidak bisa meminjam pahala orang lain untuk menutupi kekurangan amal kita sendiri, apalagi berharap dosa kita berkurang hanya karena berhasil menemukan dosa sesama.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda, “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” Hadis riwayat At-Tirmidzi ini mengandung pelajaran sederhana tetapi mendalam: tidak semua hal perlu kita ketahui, tidak semua persoalan perlu kita komentari, dan tidak semua urusan harus kita masuki.

Ada kalanya diam lebih bijaksana daripada berbicara, menjauh lebih sehat daripada ikut campur, dan memperbaiki diri jauh lebih bermanfaat daripada sibuk menghakimi.

Namun, jangan pula salah memahami nasihat ini. Fokus memperbaiki diri bukan berarti menutup mata terhadap ketidakadilan, membiarkan kemungkaran, atau tidak peduli kepada sesama. Islam tetap mengajarkan amar makruf nahi mungkar, saling menasihati, dan membantu mereka yang membutuhkan. Bedanya terletak pada niat, cara, dan batasnya. Menasihati dengan kasih sayang adalah bentuk kepedulian; mempermalukan orang demi merasa lebih suci adalah kesombongan yang dibungkus pakaian kesalehan.

Kita perlu membedakan antara peduli dan kepo, antara menasihati dan menghakimi, antara membantu dan mengendalikan kehidupan orang lain. Kepedulian lahir dari keinginan agar sesama menjadi lebih baik, sedangkan campur tangan yang berlebihan sering berangkat dari rasa ingin tahu, prasangka, atau keinginan menguasai. Tidak semua rahasia orang lain harus kita bongkar. Tidak semua keputusan hidup mereka harus mendapat persetujuan kita. Selama tidak menyangkut hak kita, keselamatan orang lain, atau kewajiban moral yang nyata, terkadang menghormati batas adalah bentuk kedewasaan.

Lebih jauh lagi, kebiasaan mengurusi kehidupan orang lain dapat menjadi pintu masuk bagi penyakit hati. Dari rasa ingin tahu, tumbuh prasangka. Dari prasangka, lahir gunjingan. Dari gunjingan, muncul fitnah dan permusuhan. Kita merasa sedang membicarakan fakta, padahal mungkin sedang menyebarkan dugaan. Kita merasa sedang membela kebenaran, padahal diam-diam sedang menikmati keburukan orang lain. Bukankah ironis jika lisan kita begitu fasih mengingatkan orang tentang dosa, sementara lisan yang sama justru menjadi sumber dosa?

Pada akhirnya, setiap manusia mempunyai pekerjaan rumah yang tidak sedikit. Ada kesombongan yang harus ditundukkan, amarah yang harus dikendalikan, janji yang harus ditepati, utang yang harus dibayar, keluarga yang harus diperhatikan, dan ibadah yang harus diperbaiki. Jika seluruh energi kita habis untuk mengurusi kehidupan orang lain, kapan kita mempunyai waktu untuk menyelesaikan urusan diri sendiri?

Cobalah sesekali bertanya kepada hati kita: apakah kita benar-benar ingin melihat orang lain menjadi lebih baik, atau sebenarnya kita hanya ingin merasa lebih baik daripada mereka? Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya bisa membongkar banyak hal yang selama ini kita sembunyikan dari diri sendiri. Sebab, merasa paling benar sering kali lebih berbahaya daripada menyadari bahwa kita masih banyak kekurangan.

Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengawasi kesalahan orang lain. Gunakan waktu untuk memperbaiki niat, memperhalus akhlak, memperbanyak amal, membahagiakan keluarga, dan memberikan manfaat kepada sesama. Jika melihat kesalahan orang lain, nasihatilah dengan cara yang baik apabila memang perlu dan mampu. Jika tidak, doakan agar ia mendapat petunjuk, sambil memohon kepada Allah agar kita sendiri tidak terjerumus ke dalam kesalahan serupa.

Ingatlah, kita bukan pemilik surga yang berhak menentukan siapa yang pantas masuk ke dalamnya. Kita pun bukan pemegang catatan amal yang mengetahui seluruh isi hati manusia. Kita hanya hamba yang sedang berjalan menuju akhir kehidupan, membawa amal yang belum tentu cukup dan dosa yang belum tentu seluruhnya kita sadari.

Maka, sebelum sibuk membenahi kehidupan orang lain, pastikan kita tidak sedang membiarkan kehidupan sendiri berantakan. Sebelum menunjuk noda di wajah sesama, bersihkanlah cermin di hadapan kita. Dan sebelum merasa paling benar, ingatlah bahwa perjalanan menuju kebaikan bukan tentang siapa yang paling pandai menghakimi, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh memperbaiki diri.

Sebab, pada akhirnya, ketenangan batin tidak lahir dari keberhasilan mengendalikan kehidupan orang lain, melainkan dari kesediaan memperbaiki diri, menerima keterbatasan, menjaga lisan, dan menyerahkan penilaian terakhir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Referensi

1. Al-Qur’an, QS. Al-Hasyr \(59\): 18 — introspeksi dan mempersiapkan amal untuk kehidupan akhirat.
2. Jami’ At-Tirmidzi, hadis no. 2317 — meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat sebagai tanda baiknya keislaman seseorang.
3. Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat \(49\): 12 — larangan berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing.

 

Tinggalkan Balasan

Search