Kisah Miftahul Jannah, Sambil Gendong Balita Bangun Generasi Qurani di Delta Sari

Ibu Miftah bersama balitanya. (nun)
www.majelistabligh.id -

Dalam acara “Upgrading dan Penyerahan Kado untuk Guru Ngaji TPQ Muhammadiyah Jawa Timur”, yang digelar pada Sabtu (25/4/2026), ada seorang peserta yang menggendong balitanya. Terkadang anaknya minta turun dan berlari, dan ia terus mendampingi anak.

Dialah Ibu Miftah, seorang pejuang literasi Al-Qur’an yang menjadi salah satu potret dedikasi luar biasa. Dia adalah guru TPQ Muhammadiyah Al Ikhlas Delta Sari.

Ibu Miftah bukanlah orang baru dalam dunia pendidikan. Wanita berusia 45 tahun ini telah mendedikasikan hidupnya selama 10 tahun sebagai guru mengaji. Sebelumnya, ia sempat merangkap tugas sebagai guru TK Aisyiyah. Namun, panggilan tugas sebagai ibu menuntut pengorbanan, dimana pasca kelahiran anak ketiganya, ia memilih mundur dari TK untuk berkonsentrasi penuh mengajar di TPQ.

Kini, dengan empat orang anak yang harus dibesarkan—mulai dari si sulung yang berkuliah di Umsida hingga si bungsu yang masih berusia 17 bulan—Ibu Miftah tetap teguh berdiri di depan kelas. Setiap hari Senin hingga Jumat, selepas Ashar hingga menjelang Maghrib, ia hadir untuk 45 santri laki-laki dan perempuan yang berasal dari Desa Kureksari, Deltasari, dan perkampungan sekitarnya.

Baginya, anak bukanlah penghalang, melainkan penyemangat. Dengan tipikal penyayang, murah senyum, dan pembawaan yang menyenangkan, ia mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif.

“Saya merasa senang mengajar TPQ karena memang suka anak-anak. Bagi saya, tidak ada santri yang nakal,” ungkapnya dengan binar mata yang tulus.

Bersama lima rekan guru lainnya, ia bahu-membahu menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini. Meskipun harus membagi fokus antara mengawasi langkah kaki kecil anaknya dan membenarkan makhraj huruf para santri, Ibu Miftah menjalaninya dengan ikhlas.

Syukur di Balik Angka

Bicara soal kesejahteraan, Ibu Miftah adalah potret nyata dari rasa syukur yang melampaui angka nominal. Ia menceritakan bagaimana perjalanan “uang lelah” yang diterimanya selama ini. Sempat berada di angka Rp150.000 perbulan, kini ia mengaku sangat bersyukur karena pendapatannya telah meningkat menjadi Rp400.000 perbulan.

Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan empat anak. Namun, bagi Ibu Miftah, keberkahan bukan terletak pada jumlah, melainkan pada kemanfaatan ilmu yang ia bagikan.

Kehadiran Ibu Miftah dalam acara Upgrading ini menjadi pengingat bagi para stakeholder dakwah. Sinergi antara Majelis Tabligh PWM Jatim dan LAZISMU Jatim melalui program penyerahan kado bagi guru ngaji ini diharapkan mampu memberikan suntikan semangat bagi para pejuang di akar rumput.

Kisah Ibu Miftah adalah satu dari ribuan cerita guru ngaji di Jawa Timur yang terus bergerak dalam sunyi. Melalui dekapan hangatnya kepada sang buah hati dan kesabarannya menuntun santri, ia sedang membangun peradaban, satu ayat demi satu ayat.|| chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search