Kontekstualisasi Pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS pada Masa Kini

Kontekstualisasi Pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS pada Masa Kini
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I
Majelis Tabligh PDM Banjarnegara Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Jamaah Iduladha Rahimakumullah,
Hari ini, gema takbir membahana di seluruh pelosok bumi, menandakan tunduknya hati kita atas kebesaran Allah SWT. Kita berkumpul di sini bukan sekadar menjalankan ritual tahunan, melainkan untuk merefleksikan kembali sebuah peristiwa besar yang menjadi fondasi ketauhidan dan kemanusiaan yakni “Pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS”.

Dalam konteks masa kini, kisah mereka bukan sekadar dongeng masa lalu. Ia adalah pemandu moral di tengah krisis spiritual dan sosial yang kita hadapi. Kisah ayah dan anak ini, mengandung hikmah yang dalam dapat menjadi pelajaran bagi kita semua khsusunya ummat Islam.

Beberapa hikmah dari pengorbanan Nabi Ibrahim as dan putranya tersebut diantaranya:
Pertama, tentang prioritas. Nabi Ibrahim diuji dengan perintah yang secara logika manusia sangat berat: menyembelih putra yang sangat dinantikannya. Namun, Ibrahim menunjukkan bahwa cinta kepada Sang Khalik harus berada di atas segalanya.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Jamaah Iduladha Rahimakumullah,
Hikmah yang kedua, “menyembelih” sifat-sifat kebinatangan. Di zaman modern ini, “berhala” kita mungkin bukan lagi patung kayu atau batu, melainkan jabatan, harta, ego, dan ambisi pribadi. Seringkali kita lebih takut kehilangan status sosial daripada kehilangan rida Allah.

Hikmah Iduladha mengajak kita untuk “menyembelih” sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita—ketamakan, kesombongan, dan sifat mementingkan diri sendiri—demi ketaatan kepada Allah.

Coba cermati komunikasi antara Ibrahim dan Ismail dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102:
قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ
Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”
Ini adalah teladan luar biasa bagi kita. Ibrahim tidak memaksakan kehendak dengan otoriter, melainkan mengajak dialog. Ismail pun menjawab dengan penuh adab:
قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Jamaah Iduladha Rahimakumullah,
Ketiga, komunikasi yang lembut. Di masa kini, di mana ketahanan keluarga sedang diuji oleh arus informasi yang liar, dialog antara orang tua dan anak adalah kunci. Kesalehan Ibrahim melahirkan kesabaran Ismail. Pendidikan karakter dimulai dari rumah, dengan komunikasi yang berlandaskan wahyu, kasih saying dan kelembutan.

Muhammadiyah selalu menekankan bahwa ibadah tidak boleh berhenti di atas sajadah. Penyembelihan hewan kurban adalah simbol filanthropi Islam. Daging kurban yang dibagikan kepada fakir miskin adalah pesan nyata bahwa Islam adalah agama yang peduli pada perut sesama.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Jamaah Iduladha Rahimakumullah,
Di masa kini, pengorbanan berarti kesediaan kita untuk berbagi sumber daya demi kemajuan umat. Pengorbanan adalah ketika yang kuat melindungi yang lemah, yang kaya membantu yang miskin, dan yang berilmu membimbing yang awam. Inilah inti dari Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Untuk itu, mari kita jadikan Iduladha ini sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas sosial. Jangan biarkan kurban kita hanya menjadi ritual tumpah darah hewan semata, tetapi jadikanlah ia sebagai sarana menyambung silaturahmi dan menghapus sekat-sekat kecemburuan sosial di antara kita.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Jamaah Iduladha Rahimakumullah,
Sebagai penutup, marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar kita diberikan kekuatan untuk meneladani keteguhan hati Nabi Ibrahim, kesabaran Nabi Ismail, dan ketegaran Siti Hajar. Semoga setiap tetes darah hewan kurban yang mengalir hari ini menjadi saksi ketakwaan kita di hadapan Allah SWT.

Mari bersama-sama kita panjatkan do`a kepada Allah SWT dengan khusyuk;

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذَا (إِنْدُوْنِيْسِيَا) بَلْدَةً طَيِّبَةً وَرَبٌّ غَفُوْرٌ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ضَحَايَانَا وَأَعْمَالَنَا الصَّالِحَةَ، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Tinggalkan Balasan

Search