Kurban 4.0: Totalitas Cinta, Empati dan Keikhlasan di Era Digital

Kurban 4.0: Totalitas Cinta, Empati dan Keikhlasan di Era Digital
*) Oleh : Hanif Asyhar, S. HI, M. Pd.
Praktisi parenting nasional dan konsultan pendidikan.
www.majelistabligh.id -

Khutbah pertama
اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah salat Iduladha yang dirahmati Allah SWT,
Alhamdulillah, pada pagi yang fitri, 10 Dzulhijjah 1447 H/2026 M, kita kembali menggema takbir, mengagungkan kebesaran Allah SWT. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW.

Hari ini, kita merayakan kisah cinta tertinggi manusia kepada Pencipta-Nya. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, yang sering kita dengar, namun sering kali kita lewati makna substantifnya.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Ujian Totalitas.
Bayangkan para jamaah, seorang ayah, Ibrahim AS, yang menanti buah hati selama berpuluh-puluh tahun. Ketika Ismail AS tumbuh remaja dan sangat disayang, perintah untuk menyembelihnya datang.

Nabi Ibrahim AS tidak melihat perintah ini sebagai beban, melainkan sebagai bentuk penyerahan diri total. Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan mimpi tersebut, jawaban Ismail sangat mengejutkan. Ia tidak menangis atau memberontak. Ismail berkata, “wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.

Puncak dari kisah ini bukan pada pertumpahan darah, melainkan pada penggantian Ismail dengan seekor domba. Ini merupakan pesan teologis yang kuat, bahwa Allah SWT tidak butuh darah manusia, Allah SWT hanya menginginkan ketakwaan kita.

Dalil Al-Qur’an
Makna esensial dari Ibadah kurban ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 37:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“ Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah SWT, tetapi ketakwaan darimulah yang mencapainya”. (QS. Al-Hajj:37).
Ayat ini menegaskan bahwa substansi kurban merupakan transformasi spiritual. Hewan kurban hanyalah medium fisik, sedangkan esensinya adalah keikhlasan hati.

Jamaah Salat Iduladha yang berbahagia,
Jika kita membedah secara sosiologis dan psikologis, Iduladha memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tantangan generasi modern saat ini.

Tinjauan psikologi melawan FOMO dan hedonisme.
Secara psikologis, masyarakat modern sering terjebak dalam sindrom Fear of Missing Out (FOMO) serta budaya konsumtif. Kita sering merasa kurang dan egois untuk memupuk materi. Pengorbanan Nabi Ibrahim, mengajarkan kita konsep attachment detachment (melepaskan keterikatan berlebih pada dunia).

Menyembelih hewan kurban merupakan simbol menyembelih sifat-sifat kehewanan dalam diri kita, seperti sifat tamak, rakus, sombong, keras kepala, munafik, hasad, mementingkan diri sendiri, suudzon, merasa diri paling baik, egois, dan lain sebagainya.

Tinjauan sosiologi yakni solusi dan kesenjangan sosial.
Secara sosiologis, distribusi daging kurban merupakan instrumen ekonomi Islam yang luar biasa untuk meratakan kebahagiaan. Dalam teori sosiologi modern, ketahanan sosial sebuah bangsa diukur dari kepeduliaan kelompok elit terhadap kelompok rentan. Iduladha meruntuhkan sekat kelas sosial tersebut melalui redistribusi pangan.

Oleh karena itu, di era digital ini, kurban menjadi sangat kekinian ketika dikombinasikan dengan teknologi. Adanya platform kurban digital memudahkan kita mengirimkan manfaat hingga ke pelosok desa terpencil yang jarang menikmati daging. Ini merupakan manifestasi dari Islam yang Rahmatan Lil A’lamin.

Jamaah yang dirahmati Allah SWT,
Mari kita jadikan momentum ini untuk merenungkan diri, apa Ismail di dalam hidup kita saat ini? Apakah itu harta kita, jabatan kita, atau ego kita yang sering kali membuat kita enggan berbagi serta sombong? Oleh karena itu, mari kita kurbankan ego tersebut demi kemaslahatan bersama.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Jamaah yang dirahmati Allah SWT,
Menutup ibadah Idul Adha ini, mari kita bulatkan tekad untuk membawa nilai-nilai kurban ke dalam kehidupan sehari-hari setelah hari raya ini berlalu.

Tiga Resolusi Iduladha untuk Kehidupan Modern:
1. Tingkatkan Literasi Kepedulian.
Jangan biarkan kesalehan kita hanya berhenti di atas sajadah. Wujudkan dalam bentuk kepekaan sosial terhadap tetangga dan lingkungan sekitar.
2. Bijak dalam memanfaatkan nikmat.
Kurangi gaya hidup eksploitatif dan mulailah hidup yang membawa kebermanfaatan bagi sesama manusia.
3. Perkuat ketahanan keluarga.
Belajarlah dari komunikasi harmonis antara Nabi Ibrahim dan Ismail yang selalu mengedepankan dialog dalam menghadapi ujian hidup.

Mari kita berdoa kepada Allah SWT agar menerima ibadah kita, ibadah kurban kita, membersihkan hati dari penyakit egoisme, dan menjadikan kita pribadi yang bermanfaat bagi bangsa dan sesama.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

Tinggalkan Balasan

Search