Meneladani Loyalitas Nabi Ibrahim as, Transformasi Pengabdian Pimpinan Muhammadiyah dari Jiwa yang Berkurban

Meneladani Loyalitas Nabi Ibrahim as, Transformasi Pengabdian Pimpinan Muhammadiyah dari Jiwa yang Berkurban
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim.
www.majelistabligh.id -

Mari kita menengok kebelakang, ke ribuan tahun silam. Allah SWT., berfirman dalam Al-Qur’an, menceritakan dialog paling mengharukan antara seorang ayah dan anak: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Bayangkan perasaan Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah seorang hamba yang taat, namun juga seorang manusia yang mencintai putranya. Di sisi lain , Ismail AS pemuda yang patuh. Inilah puncak loyalitas. Ibrahim tidak bertanya “mengapa?”, ia hanya menjawab dengan ‘ketaatan”.

Nabi Ibrahim AS adalah teladan agung dalam hal loyalitas dan pengabdian. Beliau menunjukkan kesetiaan total kepada Allah dengan kesediaan berkurban, baik melalui hijrah, perjuangan dakwah, hingga ujian besar berupa perintah menyembelih putranya. Dari kisah ini, kita belajar bahwa loyalitas sejati bukan sekadar ucapan, melainkan tindakan nyata yang berakar pada keikhlasan dan pengorbanan.

Kita Pimpinan Muhammadiyah, kisah ini memiliki resonasi yang sangat dalam.
1. Pengabdian di atas kepentingan pribadi
Meneladani Nabi Ibrahim as, salah satu nilai utama yang bisa ditarik adalah pengabdian yang melampaui kepentingan pribadi. Loyalitas beliau kepada Allah membuatnya rela meninggalkan kenyamanan, bahkan rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintai.

Dalam konteks kepemimpinan Muhammadiyah, pengabdian di atas kepentingan pribadi berarti:

• Mengutamakan amanah umat: Seorang pimpinan tidak menjadikan jabatan sebagai sarana keuntungan pribadi, melainkan sebagai ladang amal.

• Mengorbankan kenyamanan: Waktu, tenaga, dan pikiran dicurahkan untuk dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.

• Menjaga integritas: Tidak tergoda oleh kepentingan politik atau materi, tetapi tetap fokus pada misi Islam berkemajuan.

• Menjadi teladan moral: Menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah pengabdian, bukan sekadar kekuasaan.

Pengabdian di atas kepentingan pribadi adalah bentuk modern dari kurban sosial. Sama seperti Nabi Ibrahim as yang rela berkorban demi Allah, pimpinan Muhammadiyah dituntut untuk rela berkorban demi umat dan bangsa. Inilah transformasi jiwa berkurban yang menjadikan loyalitas spiritual sebagai energi pengabdian sosial.

2. Keikhlasan dalam Perpisahan Sementara
Salah satu teladan besar dari Nabi Ibrahim as adalah keikhlasan beliau dalam menerima perpisahan sementara dengan orang-orang yang dicintai. Saat meninggalkan Hajar dan Ismail di padang tandus, beliau tidak melakukannya dengan hati yang berat semata, tetapi dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan menjaga mereka. Inilah bentuk keikhlasan yang melampaui rasa kehilangan pribadi.

Makna Keikhlasan dalam Perpisahan Sementara:

• Percaya pada rencana Allah: Perpisahan bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan yang Allah tetapkan.

• Mengutamakan amanah: Rela berpisah demi menjalankan tugas dakwah dan pengabdian.

• Melepaskan keterikatan duniawi: Menyadari bahwa cinta sejati adalah cinta yang mengantarkan pada ridha Allah.

• Optimisme spiritual: Yakin bahwa perpisahan sementara akan berbuah pertemuan yang lebih bermakna.

Rasulullah bersabda:
Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada AllaSWT., dan mata yang berjaga di jalan Allah SWT”. (HR. Tirmidzi).

Menjadi Pimpinan Muhammadiyah adalah bentuk istiqamah yang berat. Tidak ada kepercayaan masyarakat tanpa integritas.

Nilai Loyalitas Nabi Ibrahim as:

– Ketaatan penuh: Tidak ragu menjalankan perintah Allah meski bertentangan dengan logika manusia.

– Pengorbanan tulus: Rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintai demi ridha Allah.

– Keberanian moral: Menghadapi tantangan besar dengan keyakinan teguh

Transformasi Pengabdian Pimpinan Muhammadiyah: Pimpinan Muhammadiyah dapat meneladani jiwa berkurban Nabi Ibrahim as dengan mengubah loyalitas spiritual menjadi pengabdian sosial.

• Berkurban dalam kepemimpinan: Mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.

• Berkurban dalam pelayanan: Mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk pendidikan, kesehatan, dan dakwah.

• Berkurban dalam visi kebangsaan: Menjadi pionir dalam membangun masyarakat berkemajuan, berlandaskan nilai Islam

Inti Transformasi:
Loyalitas kepada Allah melahirkan kepemimpinan yang ikhlas, visioner, dan berorientasi pada pengabdian. Jiwa berkurban bukan hanya ritual Iduladha, tetapi menjadi prinsip hidup yang menuntun pimpinan Muhammadiyah untuk terus berkorban demi umat dan bangsa.

Kalau kita tarik ke konteks hari ini, pengabdian pimpinan Muhammadiyah bisa dilihat sebagai “kurban sosial”, mengorbankan kenyamanan pribadi demi melayani masyarakat. Itu adalah bentuk modern dari loyalitas Ibrahim yang relevan sepanjang zaman

 

 

Tinggalkan Balasan

Search