Koruptor, Hukuman Mati dan Kemarahan Rakyat yang Tak Kunjung Padam

Koruptor, Hukuman Mati, dan Kemarahan Rakyat yang Tak Kunjung Padam
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang sering langka adalah mereka yang tetap mampu menjaga integritas ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Karena itu, revolusi terbesar yang kita perlukan hari ini mungkin bukan revolusi teknologi ataupun revolusi industri, melainkan revolusi integritas.

Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling kaya sumber daya alamnya, melainkan bangsa yang mampu menjaga amanah dengan jujur.

Jika tidak, kita hanya akan menjadi negeri yang sibuk membangun gedung-gedung megah, tetapi lupa memperkuat fondasi karakternya. Dan kita tahu, bangunan semegah apa pun akan runtuh apabila berdiri di atas tiang-tiang yang keropos.

Kemarahan rakyat tidak akan padam hanya dengan pidato, slogan, atau seremoni antikorupsi. Rakyat membutuhkan teladan, keberanian, dan ketegasan. Sebab ketika hukum gagal menghadirkan rasa keadilan, yang terancam bukan hanya kepercayaan kepada pemerintah, melainkan juga kepercayaan terhadap masa depan bangsa.

Indonesia tidak sedang kekurangan undang-undang. Indonesia sedang diuji: apakah kita benar-benar berani menyatakan perang terhadap korupsi, atau hanya sibuk mengutuknya sambil diam-diam belajar menyesuaikan diri dengannya.

Korupsi adalah akar dari segala kejahatan. Sebuah kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime) yang memerlulan tindakan luar biasa.! (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search