Lima Kunci Sukses Organisasi Nirlaba Himpun Dana di Era Digital

Para peserta kuliah umum di di Universitas Nasional (UNAS), Jakarta. (ist)
www.majelistabligh.id -

Bagaimana sebuah organisasi nirlaba mampu menghimpun dana hingga miliaran rupiah sekaligus menjaga kepercayaan publik dalam jangka panjang? Pertanyaan besar ini menjadi sorotan utama dalam kuliah umum yang disampaikan oleh Faozan Amar, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA, di Universitas Nasional (UNAS), Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Kuliah umum bertajuk “Community and International Relation: Manajemen Strategi Penggalangan Dana Pada Organisasi Nirlaba” ini diinisiasi oleh Program Studi Bahasa Korea Fakultas Bahasa dan Sastra UNAS. Acara ini terselenggara berkat kerja sama dengan Pusat Studi Kajian Korea Selatan serta dukungan dari Euroasia Foundation.

Kehadiran Faozan sebagai pemateri disambut hangat oleh mahasiswa Prodi Bahasa Korea. Ketua Program Studi Bahasa Korea UNAS, Rurani Adinda, menjelaskan bahwa program menghadirkan praktisi dan akademisi eksternal ini merupakan langkah strategis kampus untuk memperkaya perspektif mahasiswa.

“Kuliah umum ini bertujuan meningkatkan wawasan mahasiswa terkait isu-isu aktual dan strategis. Kami ingin mereka siap menghadapi tantangan serta dinamika dunia kerja yang semakin kompleks,” ujar Rurani.

Merawat Kepercayaan

Dalam paparannya, Faozan Amar menegaskan bahwa keberhasilan fundraising (penggalangan dana) tidak melulu soal kelihaian meminta donasi. Kunci utamanya justru terletak pada kemampuan lembaga dalam membangun dan merawat kepercayaan publik melalui tata kelola yang profesional serta transparan.

“Penggalangan dana sosial itu esensinya adalah membangun kepercayaan masyarakat. Ketika kepercayaan itu tumbuh, dukungan publik akan mengalir dengan sendirinya,” jelas Faozan, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua MPKS PP Muhammadiyah.

Berdasarkan pengalamannya—termasuk saat melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan pada 2024 lalu—Doktor Ilmu Manajemen ini merangkum lima strategi utama kesuksesan fundraising bagi organisasi nirlaba:

  1. Kapabilitas Organisasi: Mencakup kualitas SDM, manajemen yang profesional, dan sistem kerja yang efisien. Organisasi yang sehat secara internal akan jauh lebih mudah meyakinkan masyarakat.
  2. Religiusitas: Penguatan nilai-nilai keagamaan, keikhlasan, dan spiritualitas. Di Indonesia, faktor ini menjadi modal sosial yang sangat kuat untuk menggerakkan kepedulian warga.
  3. Digital Fundraising: Di era modern, lembaga wajib melek teknologi. Hal ini bisa dilakukan lewat pengembangan aplikasi dan website mandiri, maupun kolaborasi dengan platform digital raksasa seperti Kitabisa, GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, dan LinkAja.
  4. Reputasi Lembaga: Aset jangka panjang yang lahir dari konsistensi, transparansi, dan akuntabilitas. Semakin bersih dan nyata kerja suatu lembaga, semakin tinggi pula loyalitas donaturnya.
  5. Dukungan Tokoh Publik: Melibatkan tokoh agama atau influencer yang memiliki pengaruh luas. Kehadiran mereka terbukti mendongkrak efektivitas kampanye sosial secara signifikan.

Wawasan Global untuk Masa Depan Mahasiswa

Antusiasme mahasiswa terlihat jelas lewat sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif. Lewat ruang ruang kelas ini, para peserta tidak hanya pulang membawa teori fundraising, tetapi juga pemahaman baru tentang pentingnya membangun jejaring komunitas dan hubungan internasional di tengah perubahan global.

Bagi Faozan, masa depan organisasi nirlaba kini bertumpu pada tiga pilar: adaptasi teknologi, integritas dalam menjaga kepercayaan, dan perluasan kolaborasi. Di sanalah kunci utama untuk menciptakan gerakan sosial yang berdampak dan berkelanjutan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search