Transformasi pendidikan Islam di tingkat akar rumput sering kali lahir dari sebuah pengabdian. Ma’had El Fataa Banyuwangi misalnya, menjadi bukti nyata bagaimana sebuah inisiatif lokal mampu menjawab problematika remaja dan anak-anak yang terpinggirkan.
Berdiri di Jl. Bangka No.88, Lateng, Kabupaten Banyuwangi, lembaga ini memegang prinsip yang tegas, yakni melahirkan generasi muda yang tidak hanya menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mengamalkannya di tengah masyarakat.
Lahirnya Ma’had El Fataa berawal dari sebuah titik balik dari seorang pengabdi, Ustaz Kamal Husin Diban, lulusan STAI Ali Surabaya tahun 2012. Awalnya, ia menghabiskan waktu empat tahun (2016–2020) mengelola toko pakaian muslim di Surabaya.
Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 menjadi alasan kepulangannya ke Banyuwangi. Apa yang bermula sebagai kegiatan mengisi waktu luang dengan mengajar Tahsin Al-Qur’an bagi anak-anak sekitar, secara tak terduga tumbuh menjadi sebuah gerakan pendidikan yang berlangsung hingga saat ini.
Ustaz Kamal Husin Diban menegaskan komitmennya melalui keputusan besar dalam hidupnya. Ia sempat berangan-angan studi lanjut ke Turki. Namun, keberadaan santri-santri yang membutuhkan bimbingannya mengubah langkah tersebut.
“Pendidikan bukan tentang mengejar gelar di negeri jauh jika di depan mata ada jiwa-jiwa yang membutuhkan arahan. Ma’had ini adalah jawaban atas kebutuhan anak-anak yang rindu akan nilai-nilai Al-Qur’an,” kata Ustaz Kamal Husin Diban.

Yang paling membuatnya terpanggil, adalah saat datangnya 4 santri bersaudara dari Bondowoso. Mereka yatim, dimana ibunya juga kesulitan ekonomi sehingga harus berpindah-pindah tempat.
Keempat santri tersebut adalah:
- Alden Filbert Diananta (9) kelas 3, saat ini sudah hafal 1 juz.
- Elden Filbert Diananta (9) kelas 3, saat ini sudah hafal 1 juz
- Kenzi Leonel Diananta (11) kelas 5, saat ini sudah hafal 2 juz
- Gabriel lincoln Diananta (13) kelas 7, saat ini sudah hafal 4 juz
Keempat anak tersebut masuk saat lembaga ini masih TPQ, hingga saat ini menjadi Ma’had.
Model Pendidikan Inklusif
Salah satu keunikan utama Ma’had El Fataa adalah sistem penerimaan santri yang sangat inklusif. Lembaga ini tidak membatasi penerimaan berdasarkan tahun ajaran baru atau latar belakang ekonomi. Pintu Ma’had terbuka lebar bagi anak-anak dengan latar belakang keluarga yang bermasalah, yatim piatu, atau mereka yang terlantar akibat faktor ekonomi. Semuanya gratis, tidak ada lalu lintas keuangan antara wali santri dan pihak pondok.
Pendekatan yang digunakan adalah sistem home schooling. Meski bersifat nonformal, standar yang diterapkan sangat tinggi. Fokus utamanya adalah hafalan Al-Qur’an dan penanaman adab Islam secara intensif. Hasilnya konkret, hingga April 2026, Ma’had ini telah menampung lebih dari 200 santri, dengan 17 di antaranya berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz di usia yang sangat muda, bahkan sebelum mereka lulus tingkat SMA.
Data menunjukkan bahwa kebutuhan akan lembaga pendidikan berbasis komunitas seperti ini sangat mendesak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, meskipun angka partisipasi sekolah meningkat, tantangan anak putus sekolah di tingkat menengah masih didominasi oleh faktor ekonomi dan kurangnya dukungan keluarga. Ma’had El Fataa hadir untuk menutup celah tersebut dengan memberikan akses pendidikan tanpa prosedur birokrasi yang menghambat.
Integrasi Sosial dan Praktek Keilmuan
Motto “Bersama melahirkan generasi muda cinta Qur’an” tidak hanya berhenti di dalam bilik asrama. Program unggulan di Ma’had ini menekankan pada praktek keilmuan yang berbaur langsung dengan masyarakat. Santri tidak dididik untuk menjadi eksklusif, melainkan menjadi pelayan masyarakat. Mereka diajarkan untuk menunjukkan nilai-nilai Islami melalui tindakan nyata di lingkungan Lateng dan sekitarnya.
Langkah strategis diambil pada awal tahun 2023 dengan meresmikan yayasan yang berafiliasi dengan PKBM ALIZA. Hal ini memberikan payung hukum yang kuat dan memastikan bahwa santri tetap mendapatkan pengakuan pendidikan yang setara secara administratif (ijazah paket), tanpa kehilangan fokus utama mereka dalam menghafal Al-Qur’an.
“Seorang penghafal Al-Qur’an harus bermanfaat bagi tetangganya. Kekuatan hafalan harus berbanding lurus dengan kekuatan manfaat sosial,” ustaz Kamal Husin
Ma’had El Fataa Banyuwangi adalah contoh sukses bagaimana institusi pendidikan Islam dapat bertindak sebagai jaring pengaman sosial. Dengan mengumpulkan anak-anak yang “tidak jelas arahnya” dan memberikan mereka tujuan hidup melalui Al-Qur’an, lembaga ini telah melakukan upaya pemberdayaan yang benar.
Keberhasilan melahirkan 17 hafiz di usia muda merupakan bukti bahwa keterbatasan fasilitas fisik bukanlah penghalang bagi pencapaian prestasi spiritual dan intelektual. Ma’had El Fataa terus bergerak maju, membuktikan bahwa dedikasi tulus seorang pendidik dapat mengubah wajah sebuah komunitas dari ketidakpastian menjadi harapan yang nyata. (*)
