Senin malam, 24 Agustus 2026, ketika sebagian masyarakat mulai menyiapkan pertemuan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk Selasa, 25 Agustus 2026, sesungguhnya yang sedang dipersiapkan bukan sekadar sebuah acara. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam: sebuah ruang untuk mengingat kembali manusia yang namanya telah lebih dari empat belas abad disebut dengan penuh penghormatan oleh umat Islam.
Di antara lampu yang mulai dinyalakan, sajadah yang dirapikan, suara shalawat yang perlahan terdengar, dan orang-orang yang datang membawa niat masing-masing, terdapat satu pertanyaan yang tidak boleh hilang: untuk apa kita mengingat Nabi jika akhlak beliau tidak kita bawa pulang?
Maulid Nabi Muhammad SAW tumbuh sebagai tradisi penghormatan dan kecintaan umat kepada Rasulullah. Di berbagai tempat, ia hadir dengan wajah yang berbeda. Ada yang mengisinya dengan pembacaan sirah, shalawat, pengajian, doa, sedekah, hingga pertemuan masyarakat. Tradisi itu kemudian menjadi bagian dari kehidupan sosial umat Islam di banyak negeri.
Namun sejarah panjang sebuah tradisi tidak boleh membuat manusia lupa kepada tujuan utamanya. Maulid bukan perlombaan kemeriahan, bukan pula ukuran banyaknya orang yang berkumpul. Nilainya justru terletak pada kemampuan sebuah peringatan untuk membangunkan kesadaran yang mungkin tertidur dalam diri manusia.
Rasulullah SAW tidak hadir dalam sejarah sebagai manusia yang hanya dikenang karena kelahirannya. Beliau hadir sebagai pembawa risalah, pendidik umat, pemimpin masyarakat, dan teladan akhlak. Ketika masyarakat Arab berada dalam berbagai persoalan sosial dan moral, Rasulullah membawa ajaran yang mengubah cara manusia memandang Tuhan, sesama manusia, keluarga, harta, ilmu, dan kehidupan. Karena itu, mengenang Nabi berarti membaca kembali sebuah perjalanan perubahan. Maulid semestinya menjadi kesempatan untuk bertanya apakah perubahan yang dahulu dibawa Rasulullah masih menemukan tempat dalam kehidupan kita sekarang.
Allah SWT memberikan penegasan yang sangat kuat mengenai kedudukan Rasulullah sebagai teladan.
*لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ*
Artinya: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
*QS. Al-Ahzab: 21*
Ayat tersebut seharusnya menjadi cermin. Ketika nama Nabi disebut dalam majelis Maulid, yang seharusnya ikut disebut adalah akhlaknya. Ketika kisah perjuangannya diceritakan, yang seharusnya ikut tumbuh adalah keberanian untuk memperbaiki diri. Ketika shalawat dilantunkan, yang semestinya bergerak bukan hanya bibir, tetapi juga hati dan perilaku. Sebab ada jarak yang sangat jauh antara mengetahui kebaikan dan menjalankan kebaikan. Banyak orang mengetahui bagaimana Rasulullah hidup, tetapi tidak semua orang bersedia menjadikan kehidupan beliau sebagai pedoman.
Di situlah Maulid menemukan persoalan paling tajam. Kita sering begitu mudah mengatakan mencintai Rasulullah, tetapi cinta kadang berhenti sebagai ucapan. Padahal cinta yang benar selalu meminta pembuktian. Allah SWT bahkan menghubungkan kecintaan kepada-Nya dengan mengikuti Rasulullah.
*قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ*
Artinya: “Katakanlah: jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
*QS. Ali Imran: 31*
Maka pertanyaan Maulid bukan lagi sekadar “apakah kita mencintai Nabi?”, melainkan “apa bukti kecintaan itu?”. Apakah kejujuran Nabi membuat kita malu berbohong? Apakah amanah beliau membuat kita takut mengkhianati kepercayaan? Apakah kasih sayang beliau membuat kita berhenti merendahkan orang lain? Apakah kesabaran beliau membuat kita lebih mampu mengendalikan amarah? Jika jawabannya belum, maka Maulid harus menjadi ruang untuk memperbaiki diri, bukan sekadar ruang untuk mendengar cerita.
Shalawat menjadi salah satu bentuk penghormatan yang sangat dekat dengan momentum Maulid. Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi.
*إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا*
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
*QS. Al-Ahzab: 56*
