Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitut Thalibin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Dr Mariman Darto secara resmi membuka kegiatan Training of Trainers Qur’an Isyarat, Senin (20/7/2026). Kegiatan ini sebagai upaya untuk memastikan keadilan bagi seluruh warga bangsa dalam mendapatkan akses pendidikan inklusif bermutu. Pasalnya 0,6% dari total penyandang difabel di seluruh Indonesia yang berjumlah 20, 922, 5921 tidak bisa memahami Al-Qur’an.
Hadir dalam kesempatan itu Suparto, SAg, MEd, PhD, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus. Dr. Saryadi, S.T., M.B.A. Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKLK), jajaran pengurus DKM Masjid Baitut Thalibin, serta mitra dari Lembaga Wakaf Salman ITB, Ryan Faisalerta, Baitul Mal Muamalat (BMM), Galih.
Mariman, yang juga Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya ToT yang ketiga sebagi sebuah perjuangan yang tidak mudah. Mengutip pesan Mendikdasmen Prof Abdul Mu’ti, masjid adalah rumah peradaban yang hebat, diisi orang hebat, karena semua berdasar keikhlasan.
“Kesediaan meluangkan waktu mengurus masjid nilainya sangat tinggi di akhirat. Karena itu Pak Menteri memberikan aprasiasi tinggi kepada segenap pengurus DKM yang menyelenggarakan kegiatan penting ToT Al Quran Isyarat ini”, pesannya.
“Kami bersyukur bisa berkenalan dengan teman-teman dari BMM yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi hingga kemudian kami sampaikan kepada Pak Menteri perlunya pusat pelatihan Al-Qur’an Isyarat itu ada di Baitut Thalibin, karena ini terkait langsung dengan visi Pak Menteri pendidikan bermutu untuk semua”, lanjutnya.
Sementara itu Suparto yang juga Ketua Bidang Dakwah DKM Baitut Thalibin dalam sambutannya menyampaikan bahwa Al Quran adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang ditulis dalam mushaf, yang bagi pembacanya berarti ibadah. Aspek ibadah perlu diperkuat sebagaimana dalam Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang salah satunya beribadah.
Suparto mengutip firman Allah dalam surat Al Qomar ayat 17, 22, 32, dan ayat 40, menyebutkan dengan kalimat yang sama “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran”.
Menurutnya, sekarang inilah kita melihat secara nyata bahwa Al quran bukanlah kitab yang sulit dipahami. Allah mengisyaratkan Al Quran bisa dibaca oleh siapa saja. Kegiatan ini juga merupakan satu kegiatan mewujudkan amanat UU no 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, di dalamnya digariskan ada 22 hak, termasuk hak hidup, hak mendapat pekerjaan, dan hak pendidikan inklusif.
Pelatihan baca Qur’an Isyarat merupakan upaya penguatan karakter anak bangsa dalam aspek spiritual. Sebagaimana hadist Rasulullah mengatakan andaikata ada orang yang di dalam dirinya tidak ada secuil pun Al Quran maka dia ibarat rumah yang roboh. Al Quran ibarat rumah yang di dalamnya penuh kedamaian, kecintaan, kebahagiaan, karena Allah senantiasa mencurahkan petunjuknya.
Pelatihan batch ketiga berlangsung dari 20 -22 Juli ini diikuti 22 peserta, terdiri dari 11 guru, 10 murid, 1 pegawai PKPLK. Para guru berasal dari sekolah SLB ABC Muhammadiyah Sumedang, SLB Muhammadiyah Cipedes, SLB ABCD Muhammadiyah Ciparay, SLB Muhammadiyah Jatiwangi, SLB Muhammadiyah Bayongbong, SLB B-C Alfiany, SLB B Tunas Kasih 2, SLBN Dharma Wanita Kota Bogor, SLB B-C Ashafiiyah, SLB Negeri Kota Depok, SMA Al-Hikmah.
Mariman berharap kegiatan ini mendapat dukungan dari para mitra, sebagai ikhtiar mulia yang dipesankan dalam Al-Qur’an, Al-Hasyr ayat 18 “ Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”. (*/tim)
