Mendidik anak di era digital tentu membawa tantangan tersendiri bagi para orang tua. Di tengah kepungan gawai, media sosial, dan beragam hiburan, membiasakan anak untuk menjalankan ibadah—khususnya salat lima waktu—sering kali membutuhkan perjuangan dan energi ekstra. Tidak jarang orang tua merasa lelah, kehabisan cara, atau bahkan frustrasi saat mengajak buah hatinya beribadah.
Namun, bagaimana Islam memberikan panduan dalam menghadapi tantangan pengasuhan (parenting) ini? Petunjuk yang sangat indah dan mendalam dapat kita temukan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Thaha ayat 132.
Pesan Cinta dan Ketegasan dalam Surah Thaha Ayat 132
Allah SWT berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha [20]: 132)
Ayat ini bukan sekadar perintah biasa, melainkan sebuah panduan komprehensif bagi setiap kepala keluarga dan orang tua dalam membimbing rumah tangganya.
3 Kunci Utama Orang Tua dalam Mengajarkan Salat
Berdasarkan penjelasan para mufasir (ahli tafsir Al-Qur’an), terdapat tiga pesan mendasar yang bisa kita petik dari ayat di atas:
1. Instruksi yang Tegas dan Konsisten
Kalimat “Wa’mur ahlaka bis-shalah” (Perintahkanlah keluargamu mendirikan salat) menegaskan bahwa pendidikan shalat bukan pilihan opsional, melainkan kewajiban utama. Rasulullah SAW juga menyatukan prinsip ini dengan panduan usia anak:
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
»مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ«
“Perintahkan anak-anakmu untuk menunaikan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang mendidik) jika meninggalkannya pada usia sepuluh tahun…” (HR. Abu Daud no. 495).
Melatih anak sejak usia 7 tahun bertujuan membentuk kebiasaan dan disiplin sebelum mereka memasuki usia baligh.
2. Kesabaran Tanpa Batas (Washthabir ‘Alaiha)
Menariknya, Allah tidak hanya menggunakan kata washbir (bersabarlah), melainkan وَاصْطَبِرْ (washtabir). Dalam tata bahasa Arab, penambahan kata ini menunjukkan makna kesabaran yang berlipat ganda dan terus-menerus.
Mendidik anak agar rajin salat tidak cukup hanya dengan sekali atau dua kali ingatan. Dibutuhkan proses pengingatan berulang-ulang—bisa jadi ratusan hingga ribuan kali—disertai kasih sayang, komunikasi persuasif, dan keteladanan nyata dari orang tua sendiri (uswah hasanah).
3. Salat dan Keberkahan Rezeki
Banyak orang tua khawatir jika waktu anak-anaknya habis untuk beribadah dan belajar agama, mereka akan tertinggal secara materi atau masa depan. Namun, bagian akhir ayat ini memberikan penghiburan yang sangat indah: “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa salat yang ditegakkan dengan baik dalam keluarga justru menjadi kunci pembuka pintu keberkahan rezeki dan ketenangan hidup rumah tangga.
Catatan untuk Orang Tua
Memastikan anak rajin beribadah memang tidak bisa terjadi secara instan. Namun, dengan niat yang ikhlas, teladan yang baik, serta kesabaran yang tidak pernah putus, rumah tangga akan menjadi benteng moral yang kokoh bagi anak-anak kita di masa depan. (*)
Daftar Pustaka/Referensi:
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Qurthubi, Abu ‘Abdillah. (2006). Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Tafsir Al-Qurthubi). Beirut: Muassasah al-Risalah.
Ibn Katsir, Ismail ibn Umar. (1999). Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Riyadh: Dar Thaibah.
Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.
Sijistani (Abu Daud), Sulaiman ibn al-Asy’ath. (2009). Sunan Abi Daud. Beirut: Dar ar-Risaalah al-‘Alamiyyah.
