“Tidak ada yang salah dengan mencintai keluarga, sahabat, atau pasangan. Namun jangan sampai cinta kepada makhluk membuat kita jauh dari Allah Swt.
Sebab segala sesuatu yang kita cintai di dunia bisa saja pergi, sedangkan Allah Swt tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Ketika Allah Swt menjadi yang utama dalam hati, maka cinta kepada selain-Nya akan menjadi lebih terarah dan penuh keberkahan.”
Rasulullah bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
‘’Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; (2) apabila ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya melainkan karena Allah; dan (3) ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, seperti halnya ia benci jika dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Al-Bukhari No. 16 dan Muslim No. 43)
Tiga Perkara Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya:
- Mengutamakan rida Allah dan ajaran Nabi Muhammad saw di atas segalanya, termasuk hawa nafsu dan kepentingan dunia.
- Cinta karena Allah: Menjalin persahabatan atau rasa sayang kepada sesama manusia semata-mata karena ketaatan mereka kepada Allah, bukan karena mengharapkan keuntungan dunia.
- Benci pada kekafiran: Memiliki rasa takut yang besar untuk kembali berbuat maksiat atau kufur, sama seperti ketakutan saat diri akan dilempar ke dalam kobaran api. (*)
