Menenun Nafas, Menjemput Sinar

*) Oleh : Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
www.majelistabligh.id -

Di rumah ini, sering kali terjebak dalam hitung-hitungan angka, merasa punggung kitalah yang paling melengkung, dan keringat kitalah yang paling asin rasanya.

Jika kau merasa paling penat karena menjaga nafas di dalam rumah, dan aku merasa paling remuk karena mengejar waktu di luar sana, ingatlah, bahwa kita hanyalah dua kutub dari satu mesin yang sama. Jika satu merasa paling bekerja, ia sedang lupa bahwa ia tak akan punya arti tanpa pasangan yang menjaganya tetap seimbang.

Lelahmu adalah lelah yang menjaga. Lelahku adalah lelah yang mencari.

Satu merawat akar, satunya menjemput sinar.

Tak ada yang lebih besar, karena keduanya adalah syarat agar bunga bisa mekar.

Allah berfirman,

وَاَ قِيْمُوا الْوَزْنَ بِا لْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَا نَ

“Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS Ar-Rahman 55: 9)

Mengadu lelah di antara kita adalah sebuah kesia-siaan. Sama seperti laut yang mengeluh pada pantai tentang siapa yang paling terkikis. Padahal mereka adalah satu kesatuan bernama pesisir.

Maka saat ego membisikkan bahwa kau adalah yang paling menderita, tengoklah ke sampingmu. Di sana ada aku, yang juga sedang memunguti sisa-sisa nyawa, bukan untuk melampauimu, tapi untuk memastikan bahwa saat kau lelah, masih ada bahu yang cukup kokoh untuk tempatmu bersandar.

Karena pada akhirnya, pemenang dalam rumah tangga bukanlah dia yang paling lelah, melainkan mereka yang paling mampu saling meringankan. Yang menenun nafas, menjemput sinar. Yang selalu menjaga keseimbangan.

Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan

Search