Anak Saleh Investasi Abadi

Anak Saleh Investasi Abadi
*) Oleh : M. Syukron Dian, S.Pd
PCM Candi Wakil Ketua Bidang Majelis Kader & SDI, Majelis MPKS
www.majelistabligh.id -

Anak saleh bukan sekadar kebanggaan orang tua di dunia, tetapi juga investasi abadi hingga akhirat. Semua orang tua sedunia berdoa mengharap anak yang baik dan saleh, doa dipanjatkan:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang saleh. (QS.As-Shaffat: 37/100).

Harta bisa habis, jabatan bisa hilang, tetapi doa anak saleh akan terus mengalir menjadi pahala bagi kedua orang tuanya.

Saudaraku, obat penyejuk hati dalam keluarga adalah istri dan anak yang senantiasa taat kepada Allah dan salah satu kunci keluarga bahagia yaitu adanya pemahaman dan pelaksanaan hak dan kewajiban suami istri di dalam bahtera rumah tangga. Diperlukan kerjasama antara suami dan istri dalam membangun keharmonisan rumah tangganya.

Tak lupa pula didasari dengan agama, keluarga tersebut akan menjadi sakinah. Sebagaimana doa Nabi Zakaria dalam Surah Al-Furqon Ayat 74:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (Surah Al-Furqan: 25/74)

Saudaraku, seorang suami yang beriman akan mampu menjadi kepala rumah tangga yang baik dan kelak membawa keluarganya menuju syurga. Seorang istri yang sholehah tentunya yang selalu taat pada suaminya serta mampu membawa keluarganya senantiasa dalam kebaikan, kita mengidamkan seorang anak yang shaleh senantiasa taat kepada kedua orang tua, agama dan negara.

Anak adalah amanah Allah bagi setiap orang tua, yakni ibu dan ayahnya. Ia dititipkan kepada kita untuk diasuh, dididik, dan dibimbing menjadi anak yang shalih dan shalihah harapannya keluarga yang dirahmati Allah SWT.

Saudaraku, anak itu adalah investasi. Anak-anak keturunan kita itu adalah bagian dari keselamatan dunia akhirat kita. Karenanya kita harus serius menanamkan kesalehan pada anak-anak kita. Kalau kita ingin menikmati masa depan kita, maka berapapun pengeluaran yang dikeluarkan untuk mendidik anak agar menjadi saleh, untuk belajar, sekolah dan lainnya, itu bukan biaya, melainkan investasi (modal) yang akan mendatangkan keuntungan suatu saat kelak. Kata kunci ayat diatas adalah sosok ayah yang beriman dan bertakwa, pasti istri dan anak bisa menyejukkan hati keluarga.

 Saya pernah bertanya pada seseorang yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Ia menjawab, “Karena sebentar lagi perdagangan bebas, kita perlu mempunyai anak-anak yang memiliki visi ke depan untuk mengarungi era globalisasi.”

 Kemudian saya bertanya lagi, “Bagaimana kondisi ibadahnya di sana?” “Nanti saja kalau dia kembali ke Indonesia akan diperbaiki lagi.” “Bagaimana kalau sebelum lulus kuliah sudah diambil nyawanya oleh Allah? Apakah dia siap untuk pulang ke akhirat?”

 Belum tentu anak kita panjang umur. Berapa banyak anak yang mendahului orang tuanya pulang ke akhirat. Mereka jangan hanya dipersiapkan agar bisa hidup kaya di dunia saja, tetapi juga harus dipersiapkan agar bisa pulang dengan selamat, hidup mulia di akhirat.

Dari Umar bin Khattab ketika ditanya (semoga Allah ridha kepadanya), “Ya Umar, apakah sama pahalanya jika saya mengurus orang tua seperti orang tua mengurus saya di waktu kecil?”
“Tidak.”

Mengapa Tidak? “Karena orang tua mengurus kamu supaya kamu panjang umur.” Setelah kita meninggal, mudah-mudahan anak-anak kita yang mengurus, mensholatkan dan mengiringi jasad kita. Setelah kita dikubur, mudah-mudahan mereka sering mendoakan kita dalam munajat-munajatnya.

Kasihan orang tua yang anaknya tidak tahu agama, sehingga tidak mengerti bagaimana mengurus jasad ibu bapaknya, tidak tahu salat jenazah, dan setelah dikubur tidak mengerti bagaimana mendoakan orang tuanya.
Warisan dipakai maksiat, vila dipakai zina, sehingga hancur dan perih orang tuanya. Tidak sedikit orang yang hidupnya terlunta-lunta di dunia karena anaknya, di akhirat tersiksa pula.

Jangan sampai orang tua belum meninggal, anak-anak sudah menghitung warisannya. Bahkan ada anak yang mengurus orang tuanya yang sudah jompo, tetapi dalam benaknya, kenapa lama sekali sakitnya?” karena dia membutuhkan warisannya. Ini anak yang tidak shalih. Naudzubillahi min dzalik.

Oleh karena itu, mengurus anak itu jangan pernah hanya dengan sisa waktu, tenaga, dan pikiran. Bayangkan jika membangun investasi dengan sesuatu yang serba sisa, diskusilah dengan istri bagaimana mengupayakan agar anak-anak kita menjadi hamba Allah yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

Para pemimpin sekarang adalah anak hasil investasi keluarga-keluarga beberapa puluh tahun yang lalu, sedangkan anak-anak sekarang merupakan investasi untuk para pemimpin masa depan. Karenanya jika kita merindukan kebangkitan bangsa ini, maka harus diawali dengan kebangkitan dari keluarga-keluarga di rumah.

Jika sang anak menjadi pemimpin, tentu tata nilai yang ditanamkan dalam keluarganya yang akan digunakannya kelak. Jika pada masa kecilnya tata nilai yang didapatkan di rumahnya hanya sibuk memamerkan harta kekayaan, maka jangan heran kalau setelah menjadi pemimpin dia hanya sibuk meraup harta.

Sekarang investasi apa yang akan ditanamkan terhadap anak-anak kita di rumah? Kita perlu mengubah tata nilai seperti itu dengan melatih anak-anak kita agar hidup bersahaja, mencari uang sebanyak mungkin untuk disedekahkan. Sehingga setelah dewasa, dia makin kaya, makin banyak orang yang tertolong.

Dia makin berkuasa, makin banyak orang yang terangkat martabatnya. Dia makin berani karena kebenaran, makin banyak orang yang terlindungi karena keberaniannya.

Ya Allah, titipkan kepada kami anak-anak keturunan yang lebih baik dari pada kami, yang menjadi jalan kebahagiaan dan keselamatan bagi dunia akhirat kami. Lindungi kami dari keturunan yang durhaka dan durjana.

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam telah meninggal dunia (mati) maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariyah (yang ia berikan) atau ilmu yang ia manfaatkan kebaikan) atau anak shalih yang mendoakan dirinya.” (HR Muslim)

 

Tinggalkan Balasan

Search