Proses memperbaiki diri adalah salah satu perjalanan paling mulia dalam hidup seorang Muslim. Namun, di balik semangat meniti jalan kebaikan, terdapat ujian terselubung yang sering kali lolos dari pengamatan: benih-benih kesombongan.
Tanpa disadari, ketika seseorang mulai rutin beribadah, memperdalam ilmu agama, atau meninggalkan maksiat, ada bisikan dalam hati yang membisikkan bahwa dirinya telah berada di tingkat yang lebih tinggi daripada orang lain.
Menjadi orang baik adalah kewajiban, tetapi merasa lebih baik adalah sebuah jebakan. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berbenah tanpa pernah kehilangan rasa tawadhu (rendah hati).
Penyakit Hati di Balik Baju Kebaikan
Salah satu bahaya terbesar dalam perjalanan hijrah atau beragama adalah ‘ujub—yaitu rasa kagum pada diri sendiri atas amalan yang telah dilakukan. Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahaya ini dalam sebuah hadis: “Tiga hal yang membinasakan: kebiasaan pelit yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. At-Thabrani)
Ketika rasa kagum pada diri sendiri berkembang, ia dengan mudah berbuah menjadi kibr (sombong), yaitu menolak kebenaran dan meremehkan sesama. Ketika kita melihat orang lain yang belum taat dengan pandangan merendahkan, pada saat itulah ketaatan kita sedang diuji. Kebaikan yang melahirkan kesombongan justru membakar habis pahala dari kebaikan itu sendiri.
Tolok Ukur Akhir yang Misterius
Alasan utama mengapa kita tidak layak merasa lebih baik dari siapa pun adalah karena kita tidak pernah tahu bagaimana akhir dari hidup seseorang (khusnul khotimah atau su’ul khotimah).
Orang yang hari ini kita lihat bergelimang dosa, bisa jadi di akhir hayatnya mendapat hidayah dan diampuni oleh Allah SWT karena satu amalan tersembunyi. Sebaliknya, orang yang hari ini tekun beribadah bisa saja tergelincir di akhir hidupnya jika hatinya digerogoti keangkuhan. Para ulama terdahulu sering kali merasa cemas bukan karena kurangnya amal, melainkan karena takut amalannya tidak diterima atau hatinya berubah di kemudian hari.
Menjaga Hati dalam Kebaikan
Agar kebaikan yang kita lakukan tetap murni dan tidak tercemar oleh rasa lebih baik, ada beberapa sikap yang perlu senantiasa ditanamkan dalam jiwa:
– Ingat Bahwa Hidayah adalah Milik Allah: Ketaatan kita hari ini bukanlah semata-mata karena kecerdasan atau kehebatan diri kita, melainkan murni karena pertolongan dan rahmat Allah.
– Fokus pada Aib Diri Sendiri: Sibukkan diri untuk mengevaluasi kekurangan pribadi. Orang yang sibuk memperbaiki dirinya tidak akan memiliki waktu untuk menilai dan menghakimi kekurangan orang lain.
– Pandang Orang Lain dengan Kasih Sayang: Jika melihat saudara yang belum taat, pandanglah mereka dengan rasa iba dan doakan kebaikan untuk mereka, bukan dengan pandangan merasa lebih suci.
– Doa Memohon Keteguhan Hati: Selalu panjatkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW: “Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
Kebaikan yang sejati adalah kebaikan yang membuat pelakunya semakin merunduk, semakin santun, dan semakin bersyukur. Mari kita terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin, tanpa pernah merasa lebih baik dari siapa pun di muka bumi ini.
Berikut adalah beberapa ayat Al-Qur’an yang menjadi landasan utama prinsip “Menjadi Baik Tanpa Merasa Lebih Baik”:
1. Larangan Menganggap Diri Paling Suci
Allah SWT melarang manusia mengklaim dirinya paling bersih, paling baik, atau paling bertakwa, karena hanya Allah yang tahu kadar ketakwaan seseorang yang sesungguhnya.
QS. An-Najm [53]: 32
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ
“…Maka janganlah kamu menganggap dirimu bersih. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
2. Larangan Bersikap Sombong dan Membanggakan Diri
Orang yang merasa lebih baik dari orang lain cenderung menunjukkan sikap angkuh. Allah menegaskan bahwa Dia tidak menyukai hamba-Nya yang membanggakan diri atas kebaikan atau kelebihan yang dimilikinya.
QS. Luqman [31]: 18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
3. Ketakwaan adalah Tolok Ukur Utuh di Sisi Allah
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan lahiriah, status, atau amalan tampak tidak bisa dijadikan alasan untuk merasa unggul atas orang lain. Yang menentukan kedudukan di hadapan Allah hanyalah ketakwaan, dan hal tersebut adalah rahasia Allah.
QS. Al-Hujurat [49]: 13
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
4. Karakter Hamba Allah yang Penyayang (Rendah Hati)
Ayat ini menggambarkan ciri hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih (‘Ibadurrahman), yaitu mereka yang tetap melangkah di bumi dengan penuh kerendahan hati (tawadhu’), bukan dengan perasaan merasa lebih tinggi.
QS. Al-Furqan [25]: 63
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam’.”
Inti Pesan Ayat: Setiap amal kebaikan yang dilakukan hendaknya melahirkan rasa syukur dan rendah hati, bukan rasa merasa lebih mulia. Kebaikan yang sejati adalah yang mendekatkan diri kepada Allah tanpa merendahkan sesama hamba-Nya. (*)
