Sehat Itu Bukan Sekadar Fisik: Menjaga Tubuh, Menata Jiwa dan Menguatkan Tauhid

Sehat Itu Bukan Sekadar Fisik: Menjaga Tubuh, Menata Jiwa dan Menguatkan Tauhid
*) Oleh : Rukhul Amin
Anggota Majelis Tabligh PCM Candi
www.majelistabligh.id -

Dalam kehidupan modern, kesehatan sering dipahami dalam ukuran yang sangat fisik: tubuh bugar, berat badan ideal, makanan bergizi, olahraga teratur dan terhindar dari penyakit. Semua itu tentu penting. Namun, Islam mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak hanya terdiri dari tubuh. Ada jiwa yang perlu dirawat dan ada hubungan dengan Allah yang harus terus dikuatkan.

Gagasan inilah yang menarik dalam kajian yang disampaikan Ketua PWM Jawa Timur, Prof Dr dr Sukadiono, MM dalam kegiatan Pengajian Ahad pagi PCM Candi, Sidoarjo. Kesehatan tidak semestinya dipahami secara parsial, tetapi sebagai sesuatu yang terintegrasi, yaitu antara fisik yang kuat, jiwa yang sehat dan tauhid yang semakin meningkat melalui ibadah.

Gagasan tersebut menemukan pijakan yang menarik dalam QS. Al-A‘raf ayat 31:
Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

Ayat ini sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki pesan yang sangat fundamental tentang bagaimana manusia memperlakukan tubuhnya. Islam tidak mengajarkan kita untuk mengabaikan kebutuhan fisik. Makan dan minum adalah kebutuhan manusia yang diakui oleh agama. Namun, kebutuhan tersebut harus dikelola dengan prinsip keseimbangan. Ada kebutuhan, tetapi ada batas. Ada kenikmatan, tetapi ada pengendalian diri.

Di sinilah kesehatan fisik bertemu dengan kesehatan jiwa. Seseorang mungkin memiliki tubuh yang kuat, tetapi jika tidak mampu mengendalikan keinginan, mudah marah, hidup berlebihan atau kehilangan ketenangan batin, apakah ia benar-benar sehat?

Sebaliknya, seseorang mungkin memiliki ketenangan spiritual, tetapi mengabaikan tubuhnya dengan pola hidup yang tidak sehat. Padahal tubuh juga merupakan amanah yang harus dijaga.

Karena itu, kesehatan dalam perspektif Islam seharusnya tidak dipisahkan antara jasmani dan ruhani.
QS. Al-A‘raf ayat 31 bahkan menarik karena perintah makan dan minum ditempatkan dalam rangkaian ayat yang berbicara tentang manusia ketika berada di masjid: “Khudzu zinatakum ‘inda kulli masjid”, kenakanlah perhiasanmu setiap memasuki masjid.

Pesannya sangat indah, yaitu merawat tubuh tidak bertentangan dengan spiritualitas. Justru tubuh yang sehat dapat menjadi sarana untuk menjalankan ibadah dan menghadirkan kemanfaatan.

Namun, Islam juga tidak berhenti pada kesehatan fisik. Tubuh yang kuat membutuhkan jiwa yang tertata. Jiwa yang sehat membutuhkan nilai. Dan nilai yang paling fundamental bagi seorang Muslim adalah tauhid.

Di sinilah tiga pilar tersebut saling terhubung. Fisik yang kuat memberikan kemampuan untuk beraktivitas dan beribadah, Jiwa yang sehat membuat seseorang mampu mengendalikan diri, menghadapi persoalan dan menjaga keseimbangan hidup. Sedangkan tauhid yang kuat memberikan arah bagi seluruh kekuatan fisik dan mental tersebut agar digunakan untuk kebaikan dan pengabdian kepada Allah.

Dengan demikian, tujuan hidup sehat bukan sekadar memperpanjang usia. Lebih dari itu, kesehatan seharusnya membantu kita memperbaiki kualitas hidup, meningkatkan produktivitas, memperluas kemanfaatan dan memperkuat ibadah.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan tentang kesehatan.
Bukan hanya, “Bagaimana agar tubuh saya sehat?” Tetapi juga “Apakah jiwa saya sehat?”

Dan yang lebih penting “Apakah kesehatan yang Allah berikan membuat saya semakin dekat kepada-Nya?”
Inilah refleksi yang penting bagi kita semua. Terutama di tengah kehidupan modern yang sering mendorong manusia pada pola hidup berlebihan, baik dalam makan, bekerja, mengejar kesenangan bahkan menggunakan teknologi dan media sosial.

Pesan Al-Qur’an menjadi sangat relevan:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.
Keseimbangan bukan berarti mengurangi kualitas hidup. Justru keseimbangan adalah cara agar kehidupan memiliki arah.

Sebagai Majelis Tabligh PCM Candi, kami memandang bahwa dakwah juga perlu menghadirkan kesadaran semacam ini, bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari menjaga amanah Allah, merawat jiwa adalah bagian dari tazkiyah dan meningkatkan ibadah adalah jalan untuk menghadirkan makna dalam kehidupan.

Mari kita membangun kehidupan yang lebih utuh, yaitu fisiknya kuat, jiwanya sehat dan tauhidnya semakin kuat. Sebab hidup yang baik bukan hanya tentang berapa lama kita hidup, tetapi tentang seberapa baik kesehatan, kekuatan dan usia yang Allah berikan kita gunakan untuk kebaikan.  (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search