Membaca Kembali Sebuah Adagium

Membaca Kembali Sebuah Adagium
*) Oleh : Dr. Jaharuddin
Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta.
www.majelistabligh.id -

Ada ungkapan yang sudah sangat akrab di lingkungan Muhammadiyah, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan cari penghidupan di Muhammadiyah.” Dalam berbagai kesempatan, kalimat ini hadir sebagai pengingat tentang pengabdian dan keikhlasan dalam ber-Muhammadiyah. Ia telah hidup cukup lama dalam ingatan kolektif Persyarikatan dan secara luas dinisbatkan kepada pendiri persyarikatan.

Karena sudah menjadi bagian dari bahasa keseharian warga Muhammadiyah, barangkali yang paling penting hari ini bukan memperdebatkan setiap katanya, melainkan menjaga agar pesan baik di dalamnya tetap dipahami secara utuh dan tidak diletakkan secara berlebihan.

Dalam penulisan yang berhati-hati, adagium tersebut sebaiknya ditempatkan sebagai ungkapan yang hidup dalam tradisi Muhammadiyah dan dinisbatkan kepada pendirinya. Kita tidak perlu membebani ungkapan itu dengan klaim historis yang lebih jauh daripada sumber yang tersedia. Sikap semacam ini tidak mengurangi penghormatan terhadap warisan pendiri persyarikatan. Sebaliknya, ia membantu kita membedakan antara penghormatan kepada sebuah tradisi dengan kehati-hatian ketika berbicara tentang redaksi historis. Yang terpenting kemudian adalah apakah nilai yang dikandungnya tetap dapat menjadi tuntunan bagi kehidupan Persyarikatan sekarang.

Menariknya, perhatian kita sering lebih cepat tertuju pada kalimat kedua, “jangan cari penghidupan di Muhammadiyah”, padahal pesan itu dimulai dengan kalimat yang sangat positif, “hidup-hidupilah Muhammadiyah.” Di sinilah sebenarnya pusat perenungannya. Menghidupkan berarti membuat sesuatu tumbuh, berkembang, memberi manfaat, dan sanggup menjalankan tujuan keberadaannya. Maka orang yang berada di lingkungan Muhammadiyah, apa pun perannya, dapat bertanya kepada dirinya sendiri, apakah kehadiran saya membuat tempat ini menjadi sedikit lebih baik?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jangkauannya luas. Seorang guru menghidupkan Muhammadiyah ketika ia mengajar dengan sungguh-sungguh dan membantu muridnya bertumbuh. Seorang tenaga kesehatan menghidupkannya melalui pelayanan yang baik dan manusiawi. Seorang dosen menghidupkannya melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang bermutu.

Seorang pegawai menghidupkannya ketika ia menjaga amanah pekerjaannya. Seorang muballigh menghidupkannya melalui dakwah yang mencerahkan. Demikian pula mereka yang berkiprah di luar amal usaha. Muhammadiyah dapat dihidupkan melalui ilmu, pekerjaan, keteladanan, waktu, jejaring, pemikiran, maupun harta yang diberikan untuk kemaslahatan.

Lalu bagaimana memahami bagian “jangan cari penghidupan di Muhammadiyah”? Di sinilah diperlukan kejernihan agar adagium yang dimaksudkan sebagai nasihat moral tidak berubah menjadi beban yang tidak semestinya. Memperoleh penghidupan dari pekerjaan yang sah tidak sama dengan menjadikan Muhammadiyah semata-mata sebagai tempat mencari keuntungan pribadi. Keduanya perlu dibedakan.

Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) memberikan landasan yang cukup terang untuk memahami keseimbangan ini. Dalam bagian tentang pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah, ditegaskan bahwa amal usaha merupakan bagian dari usaha Persyarikatan untuk mewujudkan maksud dan tujuannya. Pengelolaannya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Pada saat yang sama, pedoman tersebut juga mengakui bahwa pimpinan amal usaha berhak memperoleh nafkah dalam ukuran kewajaran, dengan aturan penggajian yang didasarkan pada kemampuan dan keadilan. Karyawan pun tidak boleh ditelantarkan dan berhak memperoleh kesejahteraan serta hak-hak lain yang layak.

Di sini terlihat keseimbangan yang penting. Muhammadiyah tidak mengajarkan agar orang yang bekerja di dalam amal usahanya harus mengabaikan kebutuhan hidup. Keluarga tetap harus dinafkahi. Anak-anak perlu mendapatkan pendidikan. Kehidupan yang layak perlu diusahakan. Bekerja dengan kompeten dan menerima penghasilan yang wajar bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan dengan pengabdian. Justru sebuah lembaga yang ingin tumbuh dengan baik membutuhkan orang-orang yang dapat menjalankan tugasnya secara profesional dan bertanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Search