Kehidupan manusia modern kian melekat dengan ekosistem digital. Dari media sosial, mesin pencari, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Teknologi kini mempermudah aktivitas harian lintas generasi sekaligus mendatangkan tantangan moral yang serius.
Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, mengingatkan bahwa Islam memiliki panduan fundamental untuk menghadapi dinamika ini. Menurutnya, publik perlu bertindak bijak dan menjadi filter mandiri atas derasnya informasi.
“Isi ruang digital itu tidak semuanya buruk, tetapi juga tidak seluruhnya baik. Karena itu, kita sendiri yang harus menjadi filternya,” ujar Talqis dalam program podcast Indahnya Cahaya Islam, Senin (24/8/2026).
Talqis menggarisbawahi pentingnya prinsip tabayyun (klarifikasi) sebagaimana diamanatkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6. Langkah ini krusial mengingat maraknya disinformasi serta kecenderungan teknologi AI yang kerap menghasilkan data tidak akurat sehingga tetap membutuhkan konfirmasi ulang.
Selain itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak meninggalkan otoritas keilmuan. Fenomena cherry-picking—memilih sumber agama secara selektif hanya demi pembenaran atau kenyamanan pribadi—dinilai berbahaya karena dapat menghasilkan pemahaman yang dangkal dan parsial.
“Kemudahan teknologi jangan sampai menggeser peran guru atau pakar. Belajar langsung kepada guru yang memiliki otoritas keilmuan tetap tidak boleh ditinggalkan,” tegasnya.
Waspadai Khalwat Digital dan Jaga Muraqabatullah
Perubahan medium komunikasi juga melahirkan pola interaksi baru yang rentan mengabaikan etika. Talqis menyoroti munculnya fenomena khalwat digital, yakni interaksi intens secara privat antara laki-laki dan perempuan di ruang maya yang dapat memicu fitnah maupun perilaku melanggar syariat.
Ia menekankan bahwa larangan mencela, merendahkan, hingga melakukan kekerasan verbal tetap berlaku penuh di dunia maya. Perilaku di ruang digital mestinya mencerminkan akhlak di dunia nyata.
Sebagai benteng diri, Talqis menawarkan pendekatan muraqabatullah—kesadaran mendalam dari dalam hati bahwa Allah Swt senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik manusia, termasuk ketikan jari di layar ponsel.
Menutup pemaparannya, Talqis menilai tantangan digital memerlukan sinergi antar-generasi. Generasi muda unggul dalam penguasaan teknologi, sementara generasi tua kaya akan pengalaman hidup.
“Harusnya tidak ada sekat. Ketika generasi ini saling melengkapi, interaksi kita dengan dunia digital akan menjadi jauh lebih harmonis dan bermakna,” pungkasnya. (*/tim)
