Terlebih dahulu marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Wa Taala dengan sebenar-benarnya, yaitu dengan berupaya optimal menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Seorang muslim seyogyanya menjadikan kampung akhirat sebagai target utama yang harus diraih. Tidak meletakkan dunia dan gemerlapannya di lubuk hatinya, namun hanya berada di genggaman tangannya saja, sebagai batu loncatan untuk mencapai nikmat Jannah yang langgeng.
Jadi, jangan sampai kita hanya duduk=duduk santai saja menanti perjalanan waktu, apalagi tertipu oleh ilusi dunia.
Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya:
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan diantara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. Perumpamaannya adalah seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada adzab yang keras serta ampunan dari Allah Wa Ta’ala dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia bagi orang-orang yang lengah hanyalah kesenangan yang memperdaya. (QS. Al Hadid: 20)
Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhannahu Wa Ta’ala membuat permisalan dunia sebagai keindahan yang fana dan nikmat yang akan sirna. Yaitu seperti tanaman yang tersiram hujan setelah kemarau panjang, sehingga tumbuhlah tanaman-tanaman yang menakjubkan para petani, seperti ketakjuban orang kafir terhadap dunia, namun tidak lama kemudian tanaman-tanaman tersebut menguning, dan akhirnya kering dan hancur”.
Perumpamaan ini mengisyaratkan bahwa dunia akan hancur dan akhirat akan menggantikannya, lalu Allah Wa Ta’ala pun memperingatkan tentangnya dan menganjurkan untuk berbuat baik.
Di akhirat, hanya ada dua pilihan: tempat yang penuh dengan azab pedih dan hunian yang sarat ampunan dan keridaan Allah bagi hamba-Nya.
Ayat ini diakhiri dengan penegasan tentang hakikat dunia yang akan menipu orang yang terkesan dan takjub padanya. Penekanan yang sangat penting adalah pendidikan anak yang termasuk salah satu unsur keluarga, agar dia selamat dunia dan akhirat. Anak bagi orangtua merupakan buah perkawinan yang menyenangkan.
Di balik itu, anak adalah amanat yang dibebankan atas orang tua. Tidak boleh disia- siakan dan di sepelekan. Pelaksana amanah harus menjaga dengan baik kondisi titipan agar tidak rusak. Sebab orangtua kelak akan ditanya tentang tanggung jawabnya.
Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasalam bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang tanggungjawabnya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi)
Anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kewajiban orangtua merawatnya agar tidak menyimpang dari jalan yang lurus, dan selamat dari api neraka. Selain itu, anak yang saleh akan menjadi modal investasi bagi kedua orangtuanya.
Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah Wa Ta’ala terhadap apa yang Allah perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim: 6)
Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu anhu berkata dalam menafsiri ayat ini: “Didik dan ajarilah mereka karenanya “Wajib atas seorang Muslim untuk mendidik keluarganya tentang perintah dan larangan Allah Wa Ta’ala”.
Maka, mulai sekarang hendaknya para orangtua sadar terhadap kewajiban kita untuk mendidik anak-anak kita agar menjadi hamba Allah yang taat. Memilihkan pendidikan anak yang kondusif untuk perkembangan iman dan otaknya. Bukannya membiarkan anak-anak mereka begitu saja tanpa pengawasan terhadap bacaan yang mereka gemari, apa saja yang suka mereka saksikan dan aktivitas yang mereka gandrungi. Kelalaian dalam hal ini, berarti penyia-nyiaan terhadap amanat Allah Wa Ta’ala.
Ingatlah akibat yang akan menimpa kita dan keluarga kita yang tersia-siakan pendidikan agamanya, ancamannya adalah api Neraka. Al-Qur’an telah memberikan contoh yang baik tentang sejarah seorang ayah yang mendidik anaknya untuk mengenal kebaikan. Itulah Luqman, dengan perkataannya ketika mendidik keturunannya dalam Al-Qur’an. Secara luas itu termaktub dalam surat (QS. Luqman 12-19).
Dalam surat tersebut, Luqman memulai mengajari anaknya dengan penanaman kalimat tauhid, dilanjutkan dengan kewajiban berbakti dan taat kepada orang tua selama tidak menyalahi syariat.
Wasiat berikutnya adalah berkaitan dengan penyemaian keyakinan tentang hari pembalasan, penjelasan kewajiban menegakkan salat. Setelah itu amar ma’ruf dan nahi mungkar yang berperan sebagai faktor penting untuk memperbaiki umat, tidak lupa beliau singgung, beserta sikap sabar dalam pelaksanaannya.
Berikutnya beliau mengalihkan perhatiannya menuju adab-adab keseharian yang tinggi. Di antaranya larangan memalingkan wajah ketika berkomunikasi dengan orang lain, sebab ini berindikasi jelek, yaitu cerminan sikap takabur.
Beliau juga melarang anaknya berjalan dengan congkak dan sewenang-wenang di muka bumi sebab Allah Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang sombong. Beliau juga mengarahkan anaknya untuk berjalan dengan sedang tidak terlalu lambat ataupun terlalu cepat.
Sedang nasihat yang terakhir berkaitan erat dengan perintah untuk merendahkan suara, tidak berlebih lebihan dalam berbicara.
Demikianlah wasiat Luqman terhadap anaknya, yang sarat dengan mutiara yang sangat agung dan berfaedah bagi buah hatinya untuk meniti jalan kehidupan yang dipenuhi duri, agar bisa sampai ke akhirat dengan selamat.
Cukuplah kiranya kisah tadi sebagai suri tauladan bagi para pemimpin keluarga. Memenuhi kebutuhan sandang dan pangan yang memang penting. Namun ingat, kebutuhan seorang anak terhadap ilmu dan pengetahuan lebih mendesak.
Orangtua wajib memenuhi kebutuhan ruhani sang anak, jangan sampai gersang dari pancaran ilmu agama. Perkara ini jauh lebih penting dari sekedar pemenuhan kebutuhan jasmani karena berhubungan erat dengan keselamatannya di dunia dan akhirat. Hal itu dapat terealisir dengan pendidikan yang berkesinambungan di dalam maupun di luar rumah.
Oleh karena itu, orangtua harus mencarikan model pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi-generasi yang intelektual namun sekaligus beriman dan berpengetahuan agama yang tinggi. Maka hendaknya kita dapat meniru dan menggali metode-metode pendidikan yang dipakai Salafus Sholih yang ternyata telah terbukti dengan membuahkan insan-insan yang cemerlang bagi umat ini. || fimdalimunthe55@mail.com ; ismirzaf@gmail.com
