Tiga Bekal Awal dalam Membangun Rumah Tangga Islami

Tiga Bekal Awal dalam Membangun Rumah Tangga Islami
*) Oleh : Dr. M. Nasri Dini
Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo, Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

Pernikahan dalam Islam bukan sekadar ikatan antara seorang laki-laki dan perempuan, tetapi sebuah ibadah panjang yang membutuhkan ilmu, kesabaran, dan komitmen. Allah ﷻ berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan pernikahan bukan hanya kebersamaan secara fisik, tetapi menghadirkan ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) dalam kehidupan bersama.

Untuk mewujudkan rumah tangga yang kokoh, ada beberapa bekal penting yang perlu dimiliki oleh setiap pasangan.

1. Ikhlas dalam Menjalani Pernikahan

Bekal pertama adalah keikhlasan. Pernikahan yang dibangun karena Allah ﷻ akan lebih kuat menghadapi berbagai keadaan.

Dalam kehidupan rumah tangga, tidak semua hal berjalan sesuai harapan. Ada saatnya suami pulang dalam keadaan lelah, ada saatnya istri sudah berusaha memberikan yang terbaik tetapi keadaan tidak seperti yang dibayangkan. Pada kondisi seperti itu, keikhlasan menjadi penjaga hati.

Kebaikan kecil yang dilakukan dengan niat mencari ridha Allah ﷻ akan bernilai ibadah. Melayani pasangan, membantu pekerjaan rumah, mencari nafkah, mendidik anak, hingga menjaga komunikasi yang baik semuanya dapat menjadi amal saleh apabila diniatkan karena Allah.

Rumah tangga bukan tempat mencari kesempurnaan, melainkan tempat dua manusia belajar saling memahami dan memperbaiki diri.

2. Berusaha Menjadi Suami Saleh dan Istri Salehah

Bekal kedua adalah kesungguhan untuk menjadi pasangan yang baik sesuai tuntunan Islam.

Suami saleh bukan hanya seseorang yang rajin beribadah, tetapi juga mampu menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Ia membimbing, melindungi, memberikan nafkah, dan mengarahkan keluarganya menuju kebaikan.

Allah ﷻ berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ

Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An-Nisa: 34)

Kepemimpinan dalam keluarga bukan berarti merasa lebih tinggi, tetapi amanah untuk memberikan perlindungan dan tanggung jawab.

Begitu pula istri salehah adalah seorang perempuan yang menjaga ketaatan kepada Allah ﷻ, menjaga kehormatan, dan berusaha membangun keluarga dengan penuh kasih sayang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang perempuan menjaga shalat lima waktunya, berpuasa pada bulan Ramadan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Kebaikan suami dan istri akan saling menguatkan. Suami perlu bijak dalam memimpin, sementara istri perlu lapang dada dalam menjalankan peran di keluarga. Keduanya bukan bersaing, tetapi bekerja sama dalam kebaikan.

3. Menjaga Rumah Tangga dari Perceraian

Bekal ketiga adalah kesadaran bahwa rumah tangga harus dijaga dengan sungguh-sungguh.

Perceraian bukan perkara ringan dalam Islam. Karena itu, setiap pasangan perlu belajar menyelesaikan masalah dengan komunikasi, kesabaran, dan musyawarah.

Banyak persoalan rumah tangga bermula dari hal-hal kecil yang dibiarkan berlarut-larut: kurangnya komunikasi, masalah ekonomi, perbedaan cara pandang, atau hilangnya penghargaan terhadap pasangan.

Suami perlu terus berusaha menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan memiliki semangat bekerja. Istri pun perlu menghargai perjuangan suami serta menjaga keharmonisan keluarga.

Ketika masalah datang, jangan mudah menjadikan perpisahan sebagai jalan pertama. Selama masih ada kesempatan memperbaiki, maka perbaikan adalah pilihan yang lebih utama.

Pada akhirnya, keluarga yang sakinah tidak terbentuk hanya dengan cinta, tetapi juga dengan iman, kesabaran, pengorbanan, dan kesungguhan menjalankan amanah.

Semoga Allah ﷻ menjadikan setiap keluarga muslim sebagai keluarga yang penuh ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan, serta dikumpulkan bersama hingga ke surga-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ

Semoga Allah memberkahimu dalam suka maupun duka, serta menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

 

Tinggalkan Balasan

Search